TRP
Penurunan Muka Tanah-Penyebab Dominan Belum Diketahui
21 Maret 2016 \\ \\ 842

JAKARTA — Penurunan muka tanah di beberapa titik di Jakarta dirasakan warga. Namun, selama ini mereka belum mendapatkan sosialisasi dan penjelasan konkret.

Wahono (65), misalnya, sudah puluhan tahun tinggal di RT 001 RW 003 Kelurahan Roa Malaka, Taman Sari, Jakarta Barat. Kelurahan Roa Malaka berjarak sekitar 2,6 kilometer dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada Jumat (18/3), beberapa bangunan baru di wilayah itu retak dan merenggang struktur konstruksinya. Tembok bata retak dan ambles ke dalam tanah. Selain itu, selokan air juga miring dan ambles.

Kondisi serupa ditemukan di Kelurahan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hal tersebut menjadi bukti terjadinya penurunan muka tanah di Jakarta.

Hidrolog Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, di sejumlah titik di Jakarta laju penurunan muka tanah sampai 18 persen selama lima tahun terakhir. Data itu dihimpun Tim Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB). ”Tahun ini, penurunan muka tanah di sejumlah titik di DKI 10-11 sentimeter per tahun,” ujar Firdaus.

Banyak faktor

Menurut Firdaus, banyak faktor yang memengaruhi penurunan muka tanah. Kondisi tanah di Jakarta dalam kacamata geologis masih muda sehingga masih mengalami proses pemadatan. Selain itu, beban statis gedung dan kendaraan bermotor, gaya tektonik yang dipicu gempa, dan pengambilan air tanah berlebihan ikut memengaruhi.

Untuk mengatasi ancaman penurunan muka tanah dan juga kenaikan muka air laut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah memperkuat dan meninggikan tanggul laut dan menekan penyedotan air tanah dengan memperluas cakupan layanan air perpipaan.

Meski demikian, proyek yang dikerjakan Pemprov DKI saat ini, termasuk pembangunan tanggul, khususnya rencana tanggul laut raksasa dan reklamasi, dinilai bukan solusi. ”Justru itu berpotensi menambah turunnya tanah karena beban ditambah dengan konstruksi baru,” kata Widjo Kongko, ahli kelautan Balai Pengkajian Dinamika Pantai-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Ia mengatakan, penyebab turunnya tanah Jakarta mungkin kompleks, tetapi yang paling dominan belum diketahui. Pengambilan air tanah berlebih biasanya dominan, juga karena kondisi tanahnya yang aluvial.

Ahli gempa dan geodinamika dari ITB, Irwan Meilano, menambahkan, tidak ada bukti bahwa penurunan tanah di Jakarta dipicu adanya tektonik aktif. (DEA/MKN/AIK/C07)

Sumber: Kompas | 19 Maret 2016

Berikan komentar.