TRP
DKI Siapkan Lahan untuk 10 GITET
16 Maret 2016 \\ \\ 355

JAKARTA — Kebutuhan listrik di DKI Jakarta terus meningkat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung penyediaan lahan untuk pembangunan 10 gardu induk tegangan ekstra tinggi baru supaya PT PLN (Persero) bisa menambah kapasitas listrik.

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir menyatakan, pada malam hari, kebutuhan listrik Jakarta mencapai 6.500 megawatt (MW), lalu pada siang hari sekitar 7.300 MW.

Saat ini, kebutuhan sebesar itu dipikul 11 gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) dengan tegangan 500 kilovolt dan kapasitas trafo interbus 500 megavolt ampere. Dengan beban yang sangat tinggi itu, trafo interbus transformator (IBT) di antara GITET harus menanggung beban harian di atas 80 persen dari kapasitas normal, bahkan ada yang kelebihan beban sampai lebih dari 90 persen.

"Dalam dua tahun ke depan, Jakarta dikhawatirkan akan mengalami pemadaman-pemadaman (listrik). Kita tentu tidak ingin hal itu terjadi," ujar Sofyan dalam penandatanganan nota kesepahaman dengan Pemprov DKI Jakarta, Selasa (15/3), di Balai Kota DKI Jakarta.

Untuk itu, PT PLN akan menambah kapasitas trafo, jalur transmisi, dan gardu induk agar kelistrikan di Jakarta dan sekitarnya berjalan baik. Selain itu, secara paralel, PLN juga akan membangun jaringan transmisi dan kabel bawah tanah yang baru, termasuk penggantian konduktor dengan teknologi baru yang dapat meningkatkan kemampuan hantar arus daya listrik melalui program uprating.

Untuk gardu induk, PT PLN menjadwalkan membangun 58 GITET baru. "Dari 58 gardu induk itu, 48 gardu sudah aman karena akan dibangun di lahan PLN. Sepuluh gardu yang lain perlu mendapat dukungan Pemprov DKI Jakarta," ujar Trino Erwin, General Manager PLN Transmisi Jawa Bagian Barat.

Ke-10 lokasi gardu induk itu bakal menempati atau menggunakan aset milik Pemprov DKI Jakarta, yaitu di Semanggi Barat, Grogol II, Penggilingan II, Plumpang II, Muara Karang III/Kamal, Semanggi Barat II/Benhil, Cipinang II/Jatinegara, CSW III, Duri Kosambi III/Rawa Buaya, dan Manggarai II.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam acara tersebut mengatakan, Pemprov mendukung penuh PLN dalam hal penyediaan lahan untuk pembangunan GITET. "Ada lahan yang dibeli dan ada lahan yang dibebaskan," kata Basuki.

Menurut Basuki, pemenuhan kebutuhan listrik sangat mendesak. Hal itu karena dalam waktu dekat, DKI Jakarta juga membutuhkan pasokan listrik untuk MRT dan LRT. Selain itu, pada 2016 ini, Pemprov DKI Jakarta juga tengah membangun 57 menara rusun sebanyak 20.188 unit. "Artinya, keperluan listrik di Jakarta terus bertambah," ujarnya.

Sofyan menambahkan, pembangunan 58 GITET membutuhkan waktu 2-3 tahun. Adapun anggaran yang diperlukan Rp 30 triliun-Rp 40 triliun. Pada 2018 atau 2019 pembangunan GITET ditargetkan sudah rampung.

Sofyan menambahkan, penandatanganan nota kesepahaman tersebut diharapkan bisa menjawab kebutuhan listrik warga Jakarta. (HLN)

Sumber: Kompas | 16 Maret 2016

Berikan komentar.