TRP
Cabut Izin Usaha Pelanggar Tata Ruang di Wilayah Rawan
15 Maret 2016 \\ \\ 418

Surono: Perketat Izin Kawasan

BANDUNG — Pemerintah Kabupaten Cianjur harus lebih memperketat pengawasan perizinan bangunan di pinggir tebing pasca tragedi ambruknya Club Bali, Kota Bunga Resort and Spa, di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akibat tanah longsor.

Desakan ini dilakukan karena di Cianjur, terutama di kawasan wisata, seperti Cipanas dan Pacet, diduga banyak terjadi alih fungsi bangunan dari permukiman menjadi hotel atau bangunan komersial. Jika alih fungsi lahan itu dilakukan, perlu diikuti dengan perubahan izin operasional. Selain itu, juga harus memenuhi aspek kelaikan fungsi bangunan.

Longsor yang menimpa Club Bali yang berada di lingkungan perumahan Kota Bunga Puncak agak mengejutkan. Seingatnya, sekitar tahun 2006, izin yang diberikan adalah untuk perumahan bukan hotel.

"Apakah ini telah terjadi alih fungsi bangunan perlu diselidiki. Memang kasus seperti ini diduga banyak terjadi," kata mantan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kabupaten Cianjur, Kus Suherman, di Cianjur, Jumat (11/3).

Suherman berpendapat, untuk pengendalian pembangunan komersial di daerah rawan bencana, seperti kelerengan dan gerakan tanah yang tinggi, perlu diperketat. Perizinan tidak hanya diberikan oleh pemerintah kabupaten, tetapi juga oleh pemerintah pusat dan provinsi.

Cabut izinnya

Staf Ahli Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono, di Bandung, Jumat, mengatakan, pemerintah harus tegas mencabut izin usaha pelanggar aturan tata ruang di kawasan rawan bencana alam. Potensi peluang investasi di daerah rawan bencana alam tidak boleh mempertaruhkan nyawa manusia di sekitarnya.

"Cabut izin yang membahayakan nyawa manusia. Jangan sampai ada lagi korban meninggal semata-mata akibat ingin mendapatkan keuntungan ekonomi," kata Surono, saat menjadi pembicara dalam Lokakarya Manajemen Bencana bertema "Peran Masyarakat dalam Penanganan Bencana" yang digelar di Sekolah Pascasarjana Universitas Parahyangan Bandung, Jumat.

Longsor di Kota Bunga sekali lagi menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Berada di pinggir tebing tanah, kawasan itu sangat rawan longsor saat musim hujan. "Pengawasan di daerah rawan bencana alam sebaiknya dilakukan lebih ketat. Apabila ada pelanggaran, sebaiknya segera ambil langkah tegas," kata Surono.

Akan tetapi, bukan berarti kawasan rawan bencana terlarang untuk dibangun. Menurut Surono, pembangunan infrastruktur tetap bisa dilakukan, tetapi dengan syarat sangat ketat. "Proses pengawasan yang dilakukan pemerintah tak berhenti semata- mata setelah ini dikeluarkan. Justru saat izin membangun itu muncul, pengawasan harus dilakukan lebih intensif."

Kawasan jasa

Kepala Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Cianjur Ahmad Nugraha mengemukakan, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur Nomor 17 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cianjur Tahun 2011- 2031, Cipanas merupakan kawasan perdagangan dan jasa. Dengan demikian, di kawasan itu dapat dibangun perhotelan.

"Namun, seperti Club Bali yang didirikan di lingkungan Kota Bunga Puncak, kami tidak mengetahui izinnya pada mulanya untuk bangunan apa. Seharusnya jika terjadi perubahan fungsi bangunan, harus tetap mengindahkan aspek keselamatan," kata Ahmad Nugraha.

Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Asep Suparman mengemukakan, pihaknya kini fokus pada program pengurangan bencana. "Sebab saat ini sudah telanjur banyak berdiri perhotelan, apalagi di kawasan Cipanas sebagai daerah wisata," kata Asep Suparman.

Korban bertambah

Korban meninggal runtuhnya Club Bali bertambah menjadi empat orang. Dewi (17), pengasuh anak keluarga Bun Susanto (37), setelah dirawat selama dua hari di Rumah Sakit Siloam, Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, meninggal. Pihak keluarga ingin pengelola Club Bali bertanggung jawab.

Amey, salah seorang kerabat Bun Susanto, mengatakan, Dewi meninggal di RS Siloam sekitar pukul 03.40. Ia dipindahkan dari RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat, pada Rabu (9/3) malam untuk menjalani pengobatan yang lebih intensif.

"Pada Kamis malam kondisinya sempat membaik. Ibu korban sempat menengok di rumah sakit. Tetapi, Jumat tadi pagi meninggal," tutur Amey di Rumah Duka Jabar Agung, Jelambar, Jakarta Barat.

Keluarga korban meminta pihak pengelola Club Bali bertanggung jawab atas meninggalnya dua anggota keluarganya. Menurut keluarga korban, mereka hanya bertanggung jawab saat korban berada di RSUD Cimacan. Padahal, keluarga Bun dirawat di RS Siloam untuk menjalani perawatan yang lebih baik.

"Biaya perawatan di RS Siloam juga tidak sedikit. Untuk deposito Dewi kemarin Rp 20 juta. Sebuah mobil Toyota Alphard juga tertimbun longsor di parkiran hotel," tutur Amey. (SEM/CHE/C09)

Sumber: Kompas | 12 Maret 2016

Berikan komentar.