TRP
Industri Penerbangan Kesulitan Lahan
15 Maret 2016 \\ \\ 229

BATAM — Pengembangan industri penerbangan masih menemukan banyak kendala. Salah satu kendala yang paling terasa adalah kendala lahan. Ketika lahannya sudah didapat, masa konsesi yang diberikan hanya pendek, yakni hanya 25 tahun.

"Kami hanya mempunyai opsi bisa diperpanjang hingga lima tahun berikutnya. Kurun waktu ini sangat pendek mengingat investasi yang ditanam sangat besar," kata Presiden Direktur Lion Group Edward Sirait saat menerima pesawat ATR 72-600 ke-60 di Batam Aero Technic (BAT), Batam, Kepulauan Riau, Jumat (11/3).

Menurut Edward, Lion Group mengembangkan pusat perawatan pesawat BAT hingga tahun 2022 membutuhkan investasi Rp 7 triliun di luar pengadaan tanah.

"Tanah hanya boleh sewa selama 25 tahun dan bisa diperpanjang 5 tahun lagi. Kalau di negara tetangga, konsesi bisa 90 tahun. Padahal, investasi untuk sewa tanah itu kecil, hanya sekitar 1 persen. Yang mahal tersebut adalah peralatan yang berteknologi tinggi," tutur Edward.

Oleh karena itu, Edward mengatakan, apabila industri penerbangan mendapatkan konsesi waktu yang lebih lama, pengusaha akan lebih leluasa dalam berinvestasi. "Kami tidak bisa leluasa membangun pusat perawatan pesawat karena harus menempel pada bandara. Sementara bandara itu milik negara," ujar Edward.

Menurut Edward, pusat perawatan pesawat tersebut membuka lapangan pekerjaan cukup besar. Saat ini BAT mempekerjakan 1.005 orang dan akan terus bertambah saat pembangunan tahap kedua dan ketiga selesai.

"Tidak hanya membuka lapangan pekerjaan. BAT juga mendatangkan devisa. Perawatan pesawat-pesawat grup kami yang di Malaysia dan Thailand dilakukan di Indonesia. Memang secara internal dari kantong satu ke kantong lain. Namun, setidaknya kami tidak membuang devisa ke negara lain untuk perawatan pesawat," tutur Edward.

Edward menambahkan, dengan melakukan perawatan di dalam negeri, penghematan didapat dari tenaga kerja dan fasilitas. Sementara untuk komponen masih harus impor. Tenaga kerja dan fasilitas memakan porsi 25 persen dari total biaya perawatan. Lion berencana, apabila seluruh tahap pembangunan BAT selesai, akan membuka perawatan bagi perusahaan lain.

Dalam negeri

Kepala Seksi Industri Maritim, Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Randi Aryanto mengatakan, pemerintah ingin pasar perawatan pesawat dikembangkan di Indonesia. "Selama ini hanya 30 persen perawatan pesawat dilakukan di dalam negeri. Sisanya yang 70 persen di luar negeri. Jadi, kita membuang devisa ke luar," kata Randi.

Menurut Randi, potensi untuk mengembangkan pusat perawatan pesawat sangat besar karena wilayah Indonesia yang sangat luas dan membutuhkan konektivitas. "Selain industri perawatan pesawat, kami juga mendukung agar industri komponen dikembangkan di dalam negeri," ujarnya. (ARN)

Sumber: Kompas | 12 Maret 2016

Berikan komentar.