TRP
Hotel di Daerah Rawan
11 Maret 2016 \\ \\ 318

Tiga Korban Tewas Akhirnya Dapat Dievakuasi

CIANJUR — Longsor yang menimpa Club Bali Kota Bunga Resort and Spa di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bukan semata disebabkan hujan dan alih fungsi lahan bukit. Secara geologis, bangunan itu berada di daerah rawan gerakan tanah.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Badan Geologi Subandriyo mengatakan, hal itu diketahui berdasarkan penyelidikan di lapangan. Dari aspek batuan, kawasan tersebut berupa material lepas, komponen butirannya tidak saling mengikat.

Selain itu, faktor lempung juga tinggi, yang dapat menjadi bidang gelincir bagi lapisan tanah di atasnya. Ketika curah hujan tinggi, tanah akan menjadi jenuh dan kritis sehingga terjadi longsor.

Dari segi topografi, tingkat kelerengannya juga tinggi sehingga ketika terjadi curah hujan yang tinggi, dapat menyebabkan longsor, seperti yang terjadi Rabu lalu.

"Kalau dicermati pula, bangunan yang runtuh itu letaknya berdekatan dengan tebing. Seharusnya pihak pengelola melakukan rekayasa geologi, seperti membangun tanggul atau drainase. Tanpa ada rekayasa geologi, dengan pemilihan lokasi seperti itu akan ada konsekuensinya," ujarnya, Kamis (10/3).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur Asep Suparman mengatakan, kawasan Cipanas merupakan daerah paling rawan gerakan tanah. "Di Cianjur ini terdapat 156 titik rawan gerakan tanah, terutama di kawasan Cipanas, Sukaresmi, dan Pacet," katanya.

Pada 13 Januari 2016 juga terjadi longsor di jalur utama Bogor-Puncak, yakni di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Masih diselidiki

Kepala Polres Cianjur Ajun Komisaris Besar Asep Guntur Rahayu mengatakan, penyebab kejadian tersebut masih diselidiki.

"Kami akan melakukan penyelidikan secara komprehensif atas kasus ini, apakah ada kelalaian dari pihak pengelola hotel atau memang karena faktor bencana alam," katanya seusai evakuasi terhadap tiga korban yang tertimbun material reruntuhan di kamar nomor 124 dan nomor 125, Kamis.

Asep Guntur mengatakan, pihaknya akan menyelidiki terkait kelengkapan dokumen perizinan dari Club Bali, antara lain izin mendirikan bangunan, kajian analisis mengenai dampak lingkungan, dan juga kajian geologi.

"Kami akan melihat apakah mereka sudah melakukan kajian geologi, apakah di kawasan itu memang layak untuk dibangun hunian seperti itu, apakah bangunan di Club Bali ini juga sudah memenuhi aspek keselamatan dan laik uji. Sebab, setiap bangunan juga harus memiliki sertifikat layak bangunan. Kalau memang ada pelanggaran, ini dapat masuk ke ranah pidana," ujar Asep Guntur.

Dalam evakuasi kemarin, tiga korban, yakni Bun Susanto (35), serta pasangan suami istri Budi Tanuadi Supena (52) dan Meilianawaty (52), dapat diangkat dari reruntuhan dalam kondisi meninggal.

Anak Bun Susanto, Natasya (7) dan pengasuhnya, Dewi (17), yang terperangkap di reruntuhan bangunan sudah dievakuasi pada Rabu dalam kondisi selamat.

Dalam konferensi pers di tempat kejadian, General Manager Grup Hotel Club Bali Uni Kartini menyatakan belasungkawa atas peristiwa tersebut. Pihaknya akan mengantar ketiga jenazah ke rumah keluarga masing-masing. Perihal dana santunan kepada para korban, Uni mengatakan masih akan dibicarakan secara internal. (sem/che/c10)

Sumber: Kompas | 11 Maret 2016

Berikan komentar.