TRP
Kepemilikan Lahan Segera Didata
11 Maret 2016 \\ \\ 298

BANTUL — Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, segera mendata kepemilikan lahan di kawasan gumuk atau bukit pasir di pesisir selatan Kabupaten Bantul. Dengan demikian akan diketahui mana yang menjadi milik pribadi warga dan mana yang berstatus Sultan Ground atau lahan milik Keraton Yogyakarta. Pendataan ini merupakan bagian dari upaya restorasi gumuk pasir yang terancam rusak.

Kawasan gumuk pasir di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, terus terancam rusak karena berbagai sebab. Selain dikeruk untuk pembangunan tambak udang, pasir di kawasan itu juga ditambang. Lahan yang ditambang diduga milik pribadi warga.

Bupati Bantul Suharsono dalam audiensi dengan perwakilan Badan Informasi Geospasial, Kamis (10/3) di Bantul, mengatakan, pendataan itu perlu karena sejumlah petambang mengklaim menambang pasir di atas lahan milik mereka, bukan lahan yang berstatus Sultan Ground.

Padahal, selama ini, sejumlah pihak berasumsi seluruh lahan di kawasan gumuk pasir berstatus sebagai Sultan Ground. "Saya mau bertemu dengan kepala desa untuk tahu bagaimana sebenarnya status tanah di sana," kata Suharsono.

Kepala Bappeda Bantul Tri Saktiyana mengatakan, penambangan pasir di kawasan gumuk pasir itu ilegal. Pemda tak pernah memberi izin karena gumuk pasir di Parangtritis telah ditetapkan pemerintah sebagai kawasan cagar alam geologi sehingga tak boleh ditambang. "Walau lahan itu milik pribadi, aktivitas penambangan tak bisa dilakukan tanpa izin," ujarnya.

Kepala Parangtritis Geomaritime Science Park Retno Wulan menjelaskan, sesudah pendataan selesai, lahan-lahan yang berstatus Sultan Ground akan diberi patok sebagai penanda batas agar tidak ada aktivitas yang merusak gumuk pasir. Pendataan juga akan dilakukan dengan membandingkan data kawasan gumuk pasir tahun 1976 dan peta gumuk pasir sekarang.

Apabila nanti ditemukan lahan milik pribadi di zona inti gumuk pasir akan dicarikan solusi. Pembebasan lahan itu bergantung pada Pemkab Bantul dan Pemerintah Daerah DIY.

Gumuk pasir tergolong fenomena alam langka dan proses pembentukannya terjadi sejak ribuan tahun lalu. Pasir pembentuk gumuk berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang mengalir ke sejumlah sungai, lalu terbawa ke laut selatan. Karena adanya ombak dan angin, pasir di laut itu kemudian terbawa ke pantai dan wilayah sekitarnya hingga membentuk bukit-bukit.

Selain langka, gumuk pasir juga mempunyai fungsi ekologis yang penting untuk wilayah pesisir, misalnya untuk mencegah intrusi atau peresapan air laut ke lapisan air tanah. Kerusakan gumuk pasir membuat wilayah pesisir mudah terkena abrasi atau pengikisan pantai. (HRS)

Sumber: Kompas | 11 Maret 2016

Berikan komentar.