TRP
Aliran Sungai Ciliwung Diperlancar
10 Maret 2016 \\ \\ 320

JAKARTA — Aliran air Sungai Ciliwung di kawasan Rawajati, Jakarta Selatan, diharapkan bisa lebih lancar pasca pembongkaran jembatan Kalibata Lama. Potensi banjir di kawasan itu juga diharapkan bisa berkurang.

Jembatan Kalibata Lama melintasi Sungai Ciliwung dan menghubungkan Rawajati, Pancoran, di Jakarta Selatan dengan Cililitan, Kramat Jati, di Jakarta Timur. Pembongkaran jembatan dimulai pada Minggu (6/3). Selama ini, jembatan itu menghambat aliran air karena sampah yang terbawa arus air sungai tersangkut di badan jembatan.

Kontraktor pelaksana pembongkaran, Ikhsan Masduki, mengatakan, pembongkaran dijadwalkan memakan waktu dua pekan. Kondisi saat ini, letak badan jembatan sudah sangat rendah, bahkan sama dengan badan sungai sehingga jembatan bisa tertutup air ketika banjir. Selain itu, konstruksi besi yang ada di bagian bawah jembatan menyebabkan sampah tersangkut dan menyumbat aliran air.

Sanin M (62), warga Rawajati, menyambut baik pembongkaran jembatan itu. Ia mengatakan, kawasan itu selalu banjir selama bertahun-tahun. Hanya mulai tahun 2015, ketika Sungai Ciliwung mulai dikeruk, banjir berkurang.

"Sekarang ada jembatan baru, jadi tidak masalah (jembatan Kalibata Lama dibongkar). Ada jembatan penyeberangan orang juga. Jadi, kalau jalan kaki, bisa langsung menyeberang, tidak memutar lewat atas," ujarnya.

Warga lain, Jojo (65), yang tinggal di Kampung Cililitan Kecil, juga menyambut baik pembongkaran jembatan itu sambil berharap rumahnya tidak lagi kebanjiran. Menurut dia, pembongkaran jembatan mungkin akan menyulitkan siswa sekolah dan pedagang yang harus memutar sekitar 1 sampai 2 kilometer untuk menyeberang dengan kendaraan pribadi.

Lahan waduk

Upaya lain untuk mengendalikan banjir juga dilakukan Pemprov DKI dengan menargetkan penyelesaian pembebasan lahan untuk pembuatan dua waduk pada tahun ini. Dua waduk itu adalah Waduk Marunda di Cilincing dan Waduk Kamal di Penjaringan.

Untuk Waduk Marunda, dari total 56 hektar, masih ada 11 hektar yang belum selesai pembebasan lahannya. Sementara Waduk Kamal, dari total rencana 30 hektar, ada sekitar 15 hektar yang tidak bisa dijadikan waduk.

Kepala Bidang Pembebasan Lahan Dinas Tata Air DKI Jakarta mengatakan, lahan yang tidak bisa dibebaskan untuk Waduk Kamal itu adalah hutan bakau yang termasuk kawasan lindung. Oleh karena itu, pihaknya fokus untuk pembebasan lahan di luar area itu.

"Kami masih melakukan inventarisasi per Maret ini. Kami juga akan melakukan pengukuran ulang dan, jika selesai, akan menerbitkan peta bidang," ucap Triyono.

Pembebasan lahan selalu menjadi masalah. Di Jakarta Utara, pada 2015, tidak ada pembebasan lahan untuk waduk yang berhasil dilakukan. (JAL/UTI)

Sumber: Kompas | 7 Maret 2016

Berikan komentar.