TRP
Lahan Sawah Tercemar Air Laut
10 Maret 2016 \\ \\ 243

CILACAP — Sedikitnya 110 hektar lahan sawah padi di Kecamatan Adipala, yang berada di kawasan pesisir selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, rusak akibat tercemar air laut. Penambangan pasir ilegal selama puluhan tahun mengikis bibir pantai dan menyebabkan gumuk pasir lenyap. Akibatnya, saat pasang, limpasan air laut menggenangi sawah.

Lahan sawah yang tercemar air laut berada di Desa Bunton, Wlahar, Gumbulharjo, dan Penggalang, Kecamatan Adipala. Lenyapnya gumuk pasir menyebabkan areal sawah yang dulu berjarak sekitar 800 meter dari garis Pantai Bunton kini hanya 100 meter. Kondisi ini menyebabkan air laut dengan mudah masuk ke sawah-sawah melalui lahan-lahan galian bekas tambang.

Camat Adipala Teguh Prastowo, Minggu (6/3), mengatakan, 110 hektar (ha) sawah di empat desa itu tercemar air laut saat pasang atau rob. Aktivitas tambang sudah terjadi selama puluhan tahun, tetapi dampaknya bagi pertanian baru dirasakan sejak tiga tahun terakhir.

"Ombak dengan mudah naik karena tanggul dan gumuk pasir di Pantai Bunton lenyap. Air laut lalu masuk ke Sungai Bleberan, kemudian melimpas ke sawah di sepanjang sisi alur sungai. Akibatnya, semua sawah di sisi alur sungai tercemar," katanya.

Gunawan (42), petani Desa Wlahar, menuturkan, garis pantai kini hanya terpaut sekitar 100 meter dari lahan sawah. Selain masuk melalui lahan bekas tambang, saat air pasang, air laut juga melimpas dari saluran air. Limpasan air laut menyebabkan air sawah menjadi asin. Masuknya air laut ke lahan persawahan menyebabkan warna batang-batang padi menjadi merah dan kemudian mati.

"Kami sudah tiga kali mencoba tanam, hasilnya tetap sama saja. Padi tidak kuat tumbuh, selalu rusak," katanya.

Hal ini tentu merugikan petani. Gunawan mencontohkan, untuk tiap kali masa tanam di lahan seluas setengah bau atau sekitar 400 meter persegi (1 bau sama dengan 0,8 hektar), petani menghabiskan uang sekitar Rp 4 juta untuk biaya angkut, tanam, dan panen.

Wajib reklamasi

Margono (47), petani Desa Bunton, mengaku, untuk musim tanam kali ini, sudah banyak petani yang dua kali menanam. Saat menanam pertama kali, tanaman sebenarnya sudah tumbuh dan mulai menghijau. Namun, karena terkena air asin, padi pun rusak dan layu. Mereka beberapa kali berunjuk rasa di areal tambang, tetapi tak pernah digubris.

Dalam kunjungan kerja ke Cilacap, akhir pekan lalu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta Pemkab Cilacap secepatnya menyelesaikan permasalahan itu. Maklum sedang musim hujan sehingga reklamasi bisa dilakukan optimal. Reklamasi butuh waktu cukup lama, terutama untuk menetralkan penetrasi air laut dari lahan persawahan.

Menurut dia, penambangan ilegal masih banyak terjadi sehingga perlu ketegasan aparat penegak hukum. Ganjar juga meminta dinas bina marga mengecek dan memperbaiki tanggul di Pantai Bunton. Begitu pula sistem irigasi harus diperbaiki.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji berjanji menindak tegas pemilik tambang pasir ilegal tersebut. "Kami segera memanggil siapa yang menambang pasir di daerah ini," ujarnya. (GRE)

Sumber: Kompas | 7 Maret 2016

Berikan komentar.