TRP
Gumuk Pasir Ditambang - Kawasan Mulai Ditata
03 Maret 2016 \\ \\ 564

BANTUL — Kondisi gumuk atau bukit pasir di pesisir selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin memprihatinkan karena ditambang untuk diambil pasirnya sejak beberapa waktu terakhir. Penambangan itu bahkan berlangsung di zona inti gumuk pasir.

Berdasarkan pantauan Kompas di kawasan gumuk pasir di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Rabu (2/3), aktivitas penambangan pasir memang sudah tidak terlihat. Namun, bekas-bekas kegiatan penambangan terlihat di dua lokasi gumuk pasir. Di salah satu lokasi bahkan terlihat garis polisi yang menempel di palang bambu di depan jalan masuk menuju gumuk pasir.

"Kira-kira sekitar sebulan lalu mulai ada penambangan di sini. Pasirnya diambil, lalu dibawa pakai truk. Lahan yang ditambang ini milik pribadi warga," ujar Wagiman, warga setempat.

Gumuk pasir di pesisir selatan Bantul berlokasi di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, dan merupakan fenomena alam langka yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Pasir yang membentuk gumuk itu berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang mengalir ke sejumlah sungai kemudian terbawa ke laut selatan. Karena ada ombak dan angin, pasir di laut itu lalu terbawa ke pantai dan wilayah sekitarnya hingga membentuk bukit-bukit.

Gumuk pasir memiliki fungsi ekologis yang penting, misalnya untuk mencegah terjadinya intrusi atau peresapan air laut ke lapisan air tanah. Kerusakan gumuk pasir juga akan membuat wilayah pesisir mudah abrasi.

Upaya penelitian dan pelestarian gumuk pasir di Parangtritis sebenarnya telah mulai dilakukan pemerintah, antara lain dengan membentuk Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis. Lembaga yang bertugas meneliti gumuk pasir itu kini berganti nama menjadi Parangtritis Geomaritime Science Park dan secara struktural berada di bawah Badan Informasi Geospasial (BIG).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul Tri Saktiyana mengatakan, penambangan pasir di kawasan gumuk pasir itu dilakukan tanpa izin dari pemerintah. Karena itu, aktivitas tersebut akan ditertibkan. Apalagi, gumuk pasir di Parangtritis telah ditetapkan pemerintah sebagai kawasan geoheritage atau cagar alam geologi sehingga tak boleh ditambang. "Walau lahan itu milik pribadi, aktivitas penambangan tak bisa dilakukan tanpa izin," katanya.

Sebelumnya, kawasan gumuk pasir di Parangtritis rusak karena maraknya usaha tambak udang. Tambak udang yang muncul sejak tahun 2013 itu awalnya dibangun di luar kawasan gumuk pasir, tetapi lama-kelamaan berkembang ke wilayah gumuk. Pembangunan tambak udang itu merusak gumuk karena bukit pasir yang ada harus dikeruk untuk membuat kolam.

Restorasi

Kepala Parangtritis Geomaritime Science Park Retno Wulan mengatakan, kegiatan penambangan pasir itu jelas merusak gumuk pasir. Pengerukan dan pengambilan pasir membuat volume pasir berkurang sehingga gumuk yang terbentuk ribuan tahun lalu itu menjadi rusak. "Apalagi, berdasarkan pemetaan kami, aktivitas penambangan pasir itu ternyata berlangsung di zona inti gumuk pasir," ujarnya.

Retno mengatakan, sejak September 2015, upaya restorasi dan penataan kawasan gumuk pasir mulai dilakukan dengan melibatkan BIG, Pemerintah Daerah DIY, dan Pemerintah Kabupaten Bantul. Berdasarkan rencana yang dibuat Parangtritis Geomaritime Science Park, kawasan gumuk pasir itu akan memiliki luas 413 hektar (ha) dan terdiri dari tiga zona, yakni zona inti (141,15 ha), zona terbatas (95,3 ha), dan zona penunjang (176,6 ha).

"Kami telah memasang 100 patok di sisi barat dan timur zona inti. Kami juga telah melakukan sosialisasi kepada warga tentang rencana penataan gumuk pasir," ujar Retno.

Saat ini, kondisi gumuk pasir memprihatinkan karena terdapat sejumlah obyek yang merusak gumuk, misalnya pemukiman, tambak udang, dan kandang ternak. Menurut Retno, berdasarkan hasil foto udara tahun 2015, di kawasan zona inti yang harusnya seluas 141,15 ha, gumuk pasir yang masih terjaga hanya 30,78 ha (21,8 persen).

"Kami telah mengusulkan agar zona inti gumuk pasir dibebaskan dari pemukiman dan obyek lain, misalnya tambak udang, yang bisa mengganggu kelestarian gumuk," katanya.

Di dalam zona inti, kata Retno, terdapat kawasan permukiman seluas 2,02 ha yang kebanyakan terdiri atas bangunan semipermanen. Ada pula tambak udang seluas 1,11 ha yang sebagian tak beroperasi. (hrs)

Sumber: Kompas | 3 Maret 2016

Berikan komentar.