TRP
Dukung Ekonomi, Pesisir Selatan Perlu Bandara
29 Februari 2016 \\ \\ 343

TRENGGALEK — Beberapa daerah di wilayah pesisir selatan Jawa Timur, sisi barat, perlu bandar udara guna mendukung peningkatan ekonomi maritim di kawasan itu. Bandara yang ada, yakni Juanda (Surabaya), Adi Soemarmo (Solo), dan Adisutjipto (Yogyakarta), dinilai masih jauh, dengan jarak tempuh lebih dari empat jam dalam kondisi arus lalu lintas normal.

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak ketika dihubungi Minggu (28/2) mengatakan, ia sudah berkomunikasi dengan para kepala daerah, baik Kediri, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek, maupun di luar itu, seperti Pacitan dan Ponorogo yang wilayahnya di pesisir selatan. Semua kepala daerah, menurut Emil, sependapat keberadaan bandara dinilai mendesak.

"Pemerintah mendorong kita sebagai poros maritim. Koridor selatan Yogyakarta-Malang melalui pelabuhan ikan Prigi, potensi pariwisata dan industri perikanannya tinggi. Yang diperlukan bukan bandara besar, melainkan bandara yang jika ada orang mau mengunjungi pantai selatan atau ingin mengirimkan ikan dari berbagai pelabuhan bisa dilakukan lebih cepat menggunakan jalur udara," ucap Emil.

Menurut dia, dua wilayah di Jatim, yakni Banyuwangi dan Jember, sudah memiliki bandara. Padahal, dari sisi luas wilayah, Banyuwangi dan Jember lebih sempit dibandingkan pesisir selatan Jatim, di sisi barat yang mencakup tujuh kabupaten, dengan potensi ekonomi pariwisata dan maritim. Sekitar 7 juta penduduk yang mengandalkan ekonomi di wilayah pesisir ini.

Emil mengatakan, ia juga telah berkomunikasi dengan pemerintah pusat dan DPR. Komunikasi dilakukan untuk menindaklanjuti wacana pemerintah pusat, yang akan melakukan pengkajian atau membuka ruang udara di wilayah itu yang selama ini dipakai untuk latihan tempur Pangkalan TNI AU Maospati.

"Selama ini yang menjadi ganjalan usulan bandara tidak bisa ditindaklanjuti karena itu. Ruang udara dari Madiun, Pacitan, Blitar, sampai Kediri tertutup oleh latihan tempur. Selain itu, lalu lintas udara Juanda-Jakarta terpadat ke-11 di dunia. Perlu ada alternatif rute lain," katanya.

Menurut bupati yang baru menjabat itu, lokasi bandara bisa di mana saja asalkan mudah dijangkau dari semua penjuru. Bandara tidak terlalu ke utara karena tujuannya untuk menolong ekonomi pesisir.

Menanggapi perlunya bandara, Iin Rahmawati, pengajar di Kecamatan Watulimo yang juga aktivis di bidang literasi, mengatakan, bandara memiliki fungsi strategis bagi masyarakat Trenggalek. Ia mencontohkan, banyak warga Trenggalek bekerja di luar negeri yang selalu berhubungan dengan bandara.

"Begitu pula mengenai hasil perikanan. Banyak nelayan di Trenggalek yang harus menitipkan ikan hasil tangkapan di Sidoarjo. Kalau ikan-ikan itu bisa dikirim lebih cepat dari daerah, keuntungan yang diperoleh bisa lebih besar," katanya. (WER)

Sumber: Kompas | 29 Februari 2016

Berikan komentar.