TRP
Penolakan Rencana Reklamasi Meluas-Teluk Benoa
29 Februari 2016 \\ \\ 318

DENPASAR — Penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali, terus bergulir. Minggu (28/2), ribuan warga di sejumlah daerah di Bali menggelar aksi damai menolak rencana itu.

Aksi penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa berlangsung di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Gianyar. Itu disampaikan Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Wayan Gendo Suardana. "Aksi digelar bersamaan agar pemerintah memperhatikan aspirasi dan harapan warga adat Bali," ujarnya.

Menurut pemantauan Kompas, di Denpasar, aksi penolakan reklamasi berjalan dari simpang Serangan sampai Pesanggaran. Pengunjuk rasa ialah warga sejumlah desa pakraman (adat) di Denpasar, di antaranya Desa Pakraman Sesetan, Desa Pakraman Pedungan, Desa Pakraman Kepaon, Desa Pakraman Pemogan, Desa Pakraman Sanur, dan komunitas warga lain. Mereka berkumpul di simpang Desa Serangan lalu berkonvoi di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai menuju Pelabuhan Benoa, Pesanggaran.

Di Jalan Pelabuhan Benoa, warga memadati ruas jalan menuju pelabuhan dan Jalan Tol Bali Mandara. Arus lalu lintas ke arah pelabuhan dan jalan tol dialihkan ke jalur berlawanan untuk menghindari ruas jalan yang dipadati warga.

Kesepakatan warga

Bendesa (Kepala) Adat Desa Pakraman Kepaon Ida Bagus Suteja menyatakan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dengan alasan lingkungan dan kesucian kawasan Teluk Benoa. Penolakan dari pengurus desa adat disampaikan ke Presiden lewat Kantor Staf Presiden, di Jakarta.

Koordinator aksi di Denpasar, I Made Pung Rahmanadi, menegaskan, pengurus dan warga desa adat sepakat menolak rencana reklamasi dan mendesak pencabutan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

Peraturan presiden, berisi perubahan fungsi kawasan Teluk Benoa dari konservasi ke zona pemanfaatan, itu jadi landasan rencana reklamasi Teluk Benoa. Reklamasi tersebut bagian dari revitalisasi Teluk Benoa.

Direktur Utama PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI), perusahaan yang akan merevitalisasi kawasan Teluk Benoa, Heru Budi Wasesa menilai, aksi itu sebagai dinamika di masyarakat. "Tiap orang berhak menyampaikan aspirasi, yang penting jangan ada pemaksaan. Kami siap berdialog," ujarnya, kemarin.

Menurut Heru, TWBI mengikuti prosedur dan aturan rencana revitalisasi Teluk Benoa. TWBI mengajukan dokumen analisis dampak lingkungan dan memperbaiki dokumen itu sesuai masukan pada rapat pembahasan dokumen tersebut. (COK)

Sumber: Kompas | 29 Februari 2016

Berikan komentar.