TRP
Jangan Tunda Lagi Restorasi Lahan Gambut
26 Februari 2016 \\ \\ 339

Kerugian Negara Lebih Besar

JAKARTA — Hitungan Bank Dunia, kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan gambut selama Juni-Oktober 2015 di Indonesia lebih besar ketimbang keuntungan usaha yang melibatkan pembakaran lahan gambut. Pemerintah diminta konsisten melindungi rawa gambut.

"Kebakaran lahan menguntungkan segelintir orang, tetapi merugikan seluruh masyarakat Indonesia," kata Ann Jeannette Glauber, Lead Environmental Specialist, Environment and Natural Resources Global Practice pada Bank Dunia, Kamis (25/2), dalam Media Roundtable "The Cost of Forest Fires" di Jakarta.

Jika lahan 2,6 juta hektar yang terbakar pada 2015 diubah jadi kebun kelapa sawit, nilai manfaat ekonominya sekitar 8 miliar dollar AS (Rp 109,8 triliun), sementara kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan 2015 mencapai 16,1 miliar dollar AS (Rp 221 triliun). Artinya, kerugian negara sekitar dua kali lipat potensi keuntungan dari berlanjutnya pembakaran lahan.

Glauber menjelaskan, angka 8 miliar dollar AS menggunakan hasil penghitungan Center for International Forestry Research (Cifor). Pembakaran lahan untuk membebaskan dan membuka lahan perkebunan menghasilkan arus kas 3.077 dollar AS (Rp 42,2 juta) per ha kelapa sawit hanya dalam tiga tahun. Lebih dari setengah arus kas itu masuk kantong pengembang perkebunan (1.567 dollar AS atau Rp 21,5 juta per ha). Pembakar lahan dapat 15 dollar AS (Rp 205.900) per ha atau 1 persen total arus kas.

Sementara itu, Bank Dunia menghitung angka kerugian 16,1 miliar dollar AS akibat kebakaran hutan dan lahan Juni-Oktober 2015 di delapan provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua (mencakup 2,4 juta ha dari total 2,6 juta ha lahan terbakar).

Analisis hanya memperkirakan dampak jangka pendek, antara lain kerugian pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, perhubungan, kesehatan, dan penutupan sekolah. Dampak jangka panjang, seperti hilangnya jasa lingkungan dan risiko kanker, belum dimasukkan. Artinya, kerugian nasional lebih besar.

Pemulihan gambut

Menurut Glauber, hanya sepertiga dari lahan terbakar selama 2015 yang merupakan rawa gambut. Namun, dampaknya paling merepotkan, termasuk menimbulkan asap berbahaya. Karena itu, merestorasi gambut jadi salah satu kunci mencegah keberulangan kebakaran.

Spesialis pengelolaan risiko bencana Bank Dunia, Iwan Gunawan, menuturkan, rawa gambut masih bisa untuk pertanian, tetapi dengan tumbuhan ramah gambut, seperti sagu. Memaksakan penanaman komoditas tidak ramah gambut semacam kelapa sawit akan mempertahankan risiko kebakaran lahan. "Menanam sawit lebih baik di lahan mineral," ujarnya.

Iwan mencontohkan, rawa gambut di sejumlah lokasi di Sumatera Selatan bisa ditanami padi dengan produktivitas 7 ton per ha sekali panen atau mirip produktivitas di Jawa. Namun, itu melalui proses sekitar 30 tahun.

Terkait pendanaan restorasi gambut, menurut analis ekonomi Bank Dunia, Magda Adriani, langkah terbaik kini adalah realokasi sejumlah mata anggaran pendapatan dan belanja negara agar pendanaan restorasi berjalan. Pemerintah tak bisa menunggu pertumbuhan ekonomi dulu. Apalagi harga sejumlah komoditas ekspor turun. (JOG)

Sumber: Kompas | 26 Februari 2016

Berikan komentar.