TRP
Pemprov Banten Kebut 12 Proyek Strategis
25 Februari 2016 \\ \\ 380

BANTEN — Pembangunan 12 proyek strategis nasional di Banten dipercepat yang direncanakan selesai pada tahun 2019. Sebelumnya, rencana atau pembangunan proyek itu sudah ada, tetapi belum jelas kapan bisa diselesaikan. Proyek-proyek itu dibangun dengan dukungan Dewan Riset Daerah Banten.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banten Hudaya Latuconsina di Serang, Banten, Rabu, mengatakan, langkah itu dilakukan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pembangunan Strategis Nasional. Proyek-proyek di Banten antara lain Tol Serang-Panimbang, Bendungan Karian, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Tol Kunciran-Serpong, Tol Serpong-Balaraja, kereta api ekspres Bandara Soekarno-Hatta-Sudirman, Bandara Banten Selatan, dan energi sampah di wilayah Tangerang.

"Ada proyek strategis di Indonesia, termasuk Banten. Pembangunan sudah dilakukan, tetapi sekarang percepatannya didorong," ujarnya.

Bentuk percepatan, misalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten telah membahas pembebasan lahan Tol Serang-Panimbang. Selain itu, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama Bank Dunia telah berkunjung ke Bappeda Banten. Kedatangan mereka untuk mengecek kesiapan penyelesaian pembangunan Tanjung Lesung dan pusat-pusat pariwisata lain.

"Pengelola Tanjung Lesung adalah Banten West Java. Tetapi, pengembangan infrastruktur, seperti jalan, air, dan listrik, menjadi bagian pembahasan yang dilakukan pemerintah," katanya.

Pengembangan Tanjung Lesung sudah dilakukan sejak tahun 2012, tetapi hingga penyelesaiannya belum terwujud. Hudaya tidak mengetahui berapa nilai dari semua proyek strategis nasional di Banten.

Gubernur Banten Rano Karno mengatakan, Dewan Riset Daerah (DRD) Banten diminta fokus terhadap percepatan pembangunan proyek-proyek strategis nasional di Banten. Dewan tersebut beranggotakan 15 pakar nonpemerintah dari berbagai disiplin ilmu dan telah dilantik, Rabu kemarin.

Ketua Forum Peduli Banten Harri Zaini mengatakan, terwujudnya percepatan pembangunan proyek-proyek strategis itu sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah pusat dan daerah. Beberapa proyek di Banten belum selesai meski telah dicanangkan lebih dari 15 tahun.

Momentum

Sejumlah megaproyek di Kalimantan Timur yang dijalankan mulai tahun ini oleh pemerintah pusat dan swasta, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah, merupakan momentum untuk membangkitkan perekonomian Kalimantan Timur. Namun, sayang semua potensi besar itu kurang dioptimalkan pemerintah daerah.

"Banyak megaproyek sudah berjalan, atau yang akan dimulai. Namun sayangnya belum terdengar seberapa banyak menyerap tenaga kerja lokal. Juga belum terlihat kesiapan pemerintah daerah menangkap peluang itu," ujar Slamet Brotosiswoyo, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim, Rabu (24/2).

November 2011, misalnya, Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama megaproyek senilai total Rp 140,7 triliun. Proyek itu dipusatkan di Kawasan Industri Buluminung, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim.

Proyek-proyek yang didanai investor Rusia antara lain pembangunan rel kereta api batubara oleh PT Kereta Api Borneo serta pelabuhan batubara dan Techno Park, yang mencakup 10 proyek. (PRA/BAY)

Sumber: Kompas | 25 Februari 2016

Berikan komentar.