TRP
Pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Kelayang Dikebut
24 Februari 2016 \\ \\ 311

Siapkan Masyarakat Belitung

TANJUNG PANDAN — Pengembangan pariwisata di Pulau Belitung harus sejalan dengan upaya pengembangan sumber daya manusia bidang pariwisata di daerah tersebut. Tanpa keterlibatan masyarakat, pengembangan Belitung sebagai destinasi wisata unggulan berpotensi gagal.

Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Kepulauan Bangka Belitung Agus Pahlevi dalam seminar "Fenomena Gerhana Matahari dan Pengembangan Pariwisata" di Tanjung Pandan, Bangka Belitung, Senin (22/2), mengatakan, pelibatan masyarakat secara langsung penting karena mereka adalah tuan rumah sekaligus pemangku kepentingan pengembangan pariwisata.

Karena itu, edukasi perlu diberikan kepada masyarakat berkaitan dengan rencana pemerintah menetapkan Tanjung Kelayang sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) Pariwisata. "Jika masyarakat paham, mereka bisa bergerak sendiri untuk mengembangkan pariwisata di Belitung," katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur Bangka Belitung Rustam Effendi, Bupati Belitung Sahani Saleh, Bupati Belitung Timur Yuslih Ihza Mahendra, dan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Ninuk Mardiana Pambudy turut hadir dalam seminar yang diselenggarakan Kompas bersama Kementerian Pariwisata itu.

Dalam seminar tersebut, Arief mengatakan, Presiden Joko Widodo diharapkan bisa menetapkan Tanjung Kelayang sebagai KEK pariwisata bertepatan dengan momentum gerhana matahari total 9 Maret mendatang.

"Pariwisata harus jadi ujung tombak industri nasional karena memiliki nilai tambah lebih besar," kata Arief. Terlebih lagi, saat ini sumbangan industri minyak dan gas bumi, batubara, ataupun kelapa sawit terhadap produk domestik bruto nasional terus menurun seiring anjloknya harga sejumlah komoditas.

Penetapan KEK Tanjung Kelayang diharapkan mendatangkan 500.000 wisatawan asing di Belitung pada 2019 atau naik 50 kali lipat daripada kunjungan pada 2014. KEK diharapkan jadi salah satu penopang target pemerintah mendatangkan 20 juta turis asing ke Indonesia pada 2019.

KEK tersebut juga diharapkan dapat menyerap 100.000 tenaga kerja. Sementara devisa yang diperoleh dari kunjungan turis ke Tanjung Kelayang pada 2019 ditargetkan mencapai 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 7 triliun.

Tanjung Kelayang adalah kawasan pantai berpasir putih di pesisir utara Pulau Belitung dan berjarak sekitar 30 kilometer dari Tanjung Pandan. Pantai unik yang memiliki bongkahan batu-batu granit besar itu sering digunakan sebagai titik labuh kapal-kapal layar (yacht).

Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Utama Pariwisata Hiramsyah Sambudhy Thaib menambahkan, dari 15 syarat pembentukan KEK, hanya syarat analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang belum selesai. Namun proses amdal itu sudah berjalan dan diharapkan segera selesai sehingga pemerintah bisa menerbitkan peraturan pemerintah.

"Dengan menjadi KEK, lebih mudah menarik investor untuk berinvestasi karena bisa lebih hemat 30-35 persen akibat berbagai kemudahan yang diberikan," katanya.

Untuk mendukung pengembangan Tanjung Kelayang, pemerintah berencana menjadikan Bandar Udara HAS Hanandjoeddin sebagai bandara internasional dengan panjang landasan mencapai 2.800 meter. Saat ini panjang landasan bandara itu hanya 2.250 meter. Status sejumlah jalan di Belitung juga perlu ditingkatkan menjadi jalan provinsi untuk mempermudah pengelolaan.

Wisata gerhana

Kepala Program Studi Magister dan Doktor Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada M Baiquni mengatakan, gerhana matahari 9 Maret mendatang bisa menjadi momentum baru untuk pengembangan pariwisata di Belitung setelah momentum novel dan film Laskar Pelangi berlalu. Dengan begitu, pengembangan pariwisata akan berkelanjutan.

"Momentum gerhana seharusnya tidak hanya dinikmati turis saja, tetapi juga menjadi kegembiraan masyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin mengatakan, gerhana matahari di Belitung dimulai pukul 06.21 WIB dan berakhir pukul 08.35 WIB. Puncak totalitas gerhana, saat langit menjadi gelap kembali, hanya berlangsung selama 2 menit 10 detik yang terjadi mulai pukul 07.22 WIB.

Idealnya, pengamatan gerhana matahari menggunakan kacamata gerhana yang mampu mengurangi intensitas cahaya Matahari hingga 100.000 kali. Namun, kacamata gerhana itu sulit didapatkan di sejumlah daerah.

Menurut Thomas, masyarakat sebenarnya masih bisa menatap Matahari secara langsung saat gerhana, asal tidak berlama-lama karena bisa merusak mata. Batas lama tersebut disesuaikan dengan kemampuan mata setiap orang. Cara teraman adalah dengan melihat bayangan atau proyeksi Matahari.

"Saat gerhana matahari total terjadi, Matahari justru harus ditatap dengan mata telanjang. Namun, harus hati-hati karena totalitas sangat sebentar, hanya 2 menit," lanjutnya.

Kepala Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung Mahasena Putra menambahkan, menatap Matahari dengan klise film atau kacamata las masih diperbolehkan asal tidak berlama-lama. Kemampuan alat itu menapis sinar Matahari terlalu rendah sehingga tidak bisa digunakan terus-menerus. (MZW)

Sumber: Kompas | 23 Februari 2016

Berikan komentar.