TRP
Waduk Jatigede - Jalan Lingkar Terkendala Pembebasan Lahan
19 Februari 2016 \\ \\ 487

CIREBON — Jalan lingkar pengganti jalur penghubung kota Sumedang-Wado-Garut-Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hingga kini belum bisa diselesaikan walaupun jalur utamanya sudah tergenang air Waduk Jatigede. Pembebasan lahan menjadi kendala penyelesaian jalan, yang nantinya melingkari sisi barat Waduk Jatigede itu.

Pejabat Pembuat Komitmen Pelaksanaan Satuan Kerja Nonvertikal Tertentu Pembangunan Waduk Jatigede, Harya Muldianto, menjelaskan, dari total 7,4 kilometer panjang jalan lingkar, masih ada sekitar 800 meter yang terkendala pembebasan lahan. Lokasinya berada di Desa Cieunteung dan Desa Darmaraja, Kecamatan Darmaraja, Sumedang.

"Jalan pengganti sudah direncanakan dan dibuat. Namun, sebagian masih ada ketidaksepakatan soal harga," ujar Harya, Rabu (17/2), di Cirebon, Jawa Barat.

Akibatnya, jalan pengganti belum dapat digunakan. Padahal, jalan Sumedang-Wado-Malangbong tergenang setinggi 50 sentimeter hingga 120 sentimeter di Blok Betok, Desa Sukamenak, Darmaraja. Warga pun harus menggunakan jalur alternatif yang melingkar melalui sejumlah desa. Kendaraan besar harus memutar karena jalan lingkar belum beroperasi.

Menurut Harya, pihaknya tidak dapat menunda penggenangan waduk meskipun jalan lingkar belum siap. "Ini sudah dikoordinasikan dan dipertimbangkan. Jika penggenangan ditunda, proses uji coba yang ditargetkan selama setahun dapat mundur. Jika itu terjadi, pemanfaatan waduk juga terlambat," ujarnya.

Selain dapat mengairi 90.000 hektar lahan pertanian di Cirebon, Indramayu, dan Majalengka, Waduk Jatigede juga dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik berdaya 110 megawatt pada 2019, pemasok air bersih 3.500 liter per detik, serta pencegah banjir untuk areal seluas 14.000 hektar di kawasan hilir Sungai Cimanuk.

Hingga Rabu, elevasi waduk masih bertahan sekitar 240 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akhir Januari lalu, elevasi masih 233 mdpl. Diperkirakan, kenaikan elevasi waduk setinggi 10 sentimeter setiap hari. Sumber penggenangan waduk berasal dari Sungai Cimanuk. Pengisian waduk diperkirakan mencapai titik ideal pada Februari atau Maret 2017 dan dapat dioperasikan.

Namun, saat elevasi 247 mdpl, air bakal dilepas untuk uji coba. Penggenangan membuat 32 desa dipastikan tenggelam. "Kami upayakan jalan lingkar selesai tahun ini. Jika tidak ada kendala, pertengahan tahun dapat diselesaikan," lanjutnya.

Jalan desa

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumedang Ayi Rusmana mengatakan, jalur yang tergenang merupakan bagian dari kawasan penggenangan Waduk Jatigede. Rabu kemarin, ketinggian air 80-100 sentimeter. "Warga belum bisa menggunakan jalan lingkar alternatif karena belum selesai dibangun," ujar Ayi.

Kepala Bagian Operasional Polres Sumedang Komisaris Setya Widodo mengatakan, pengendara yang menggunakan kendaraan besar diimbau menggunakan jalan perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang melalui jalur selatan, melintasi Nagreg dan Malangbong. Sementara warga di sekitar jalur yang tergenang dapat melalui Kampung Neglasari.

"Kami juga membuat spanduk pemberitahuan mengenai jalan Darmaraja yang tidak bisa digunakan. Sosialisasi mengenai kondisi ini juga kami sampaikan melalui media massa, untuk membantu warga yang hendak melintas," kata Setya.

Juddy KW dari Humas Dinas Perhubungan Jawa Barat menuturkan, pihaknya akan segera menindaklanjuti pengalihan jalur akibat terputusnya jalur Wado. "Sekarang masih dirapatkan bersama Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Jawa Barat untuk membahas pengalihan jalur," ucapnya.

Camat Wado, Widodo, menjelaskan, warganya kini harus menggunakan jalan lingkar desa yang tidak tergenang jika harus bepergian ke Sumedang lewat Kecamatan Darmaraja. "Jalan lebih kecil dan melingkar lebih jauh 2-3 kilometer," ujarnya. Mobil lebih besar diarahkan ke Kecamatan Cibugel, lalu ke Wado atau ke Limbangan, Kabupaten Garut.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengemukakan, dana santunan terhadap sekitar 600 keluarga yang terdampak pembangunan Waduk Jatigede siap disalurkan.

"Surat keputusan untuk 600 keluarga itu sudah dikeluarkan. Data mereka sudah kami serahkan ke pemerintah pusat. Informasi dari Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dana tinggal disalurkan. Kami, mewakili masyarakat Jawa Barat, tentu ingin penyaluran santunan tersebut segera dilaksanakan," tutur Heryawan.

Santunan kepada 600 keluarga itu merupakan susulan setelah didata dan diverifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Sebelumnya, ketika ditetapkan sebanyak 11.469 keluarga yang berhak menerima santunan, 600 keluarga tersebut tidak termasuk di dalamnya. (IKI/TAM/SEM/DMU)

Sumber: Kompas | 18 Februari 2016

Berikan komentar.