TRP
Pemkot Bogor Teruskan Program Kota Pusaka
16 Februari 2016 \\ \\ 1087

BOGOR — Pemerintah Kota Bogor meneruskan program penataan dan pelestarian kota pusaka. Kawasan tradisional Sunda sekaligus tujuan eduwisata dan ekowisata dibangun di sepanjang Jalan Sinangling (Regional Ring Road/R3).

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Sabtu (13/2), menyetujui kawasan R3 untuk tradisional Sunda dan tujuan eduwisata dan ekowisata. Konsep ini berasal dari usul Musyawarah Pimpinan Kecamatan Bogor Timur.

Camat Bogor Timur Sudjatmiko Baliarto mengatakan, konsepsi eduwisata-ekowisata akan pas dipadukan dalam kawasan tradisional Sunda. Dalam proses ke sana, unsur musyawarah pimpinan kota rutin gotong royong membersihkan dan menata Jalan Sinangling.

Setiap 100 meter, ujar Sudjatmiko, dibangun saung sebagai penciri bangunan tradisional Sunda. Saung yang sudah ada dan siap dipasang sebanyak tujuh bangunan. Saung dijadikan gerai tanaman hias, buah, dan obat keluarga.

Antara badan jalan dan trotoar terdapat lahan untuk taman mini. Taman mini ditanami berbagai tanaman bunga, buah, dan obat keluarga. Pembangunan saung dan taman merupakan kerja sama dengan para pedagang tanaman hias di Kota Bogor.

Di jalan itu juga akan dibangun tempat pengolahan sampah (TPS) skala mikro dan tugu. Namun, detail desain TPS dan tugu belum disepakati.

Jika kawasan itu sudah jadi, bisa dipakai sebagai rute alternatif atau utama pelaksanaan Festival Buah dan Bunga Nusantara oleh Institut Pertanian Bogor. Gelaran tahunan itu selalu diadakan di Kampus Baranangsiang dan jalan utama sekeliling Kebun Raya Bogor untuk karnaval.

Pro dan kontra

Penetapan kawasan R3 untuk tradisional Sunda di Kota Bogor sebenarnya menuai kontroversi. Yang mendukung menganggap perlu ada kawasan yang ditetapkan sebagai Kampung Sunda.

Tinggalan Sunda berupa kawasan hunian khusus memang tidak bisa didapat. Kondisi itu berbeda dengan Pecinan, Kampung Arab, dan kompleks Eropa yang punya banyak peninggalan bangunan tua.

Meskipun banyak kawasan di Kota Bogor diyakini dinamai dari bahasa Sunda, tinggalan identik dan terpelihara belum ada. Untuk itu, Kampung Sunda diwujudkan dengan pembangunan di kawasan R3.

Pembangunan Kampung Sunda merupakan salah satu strategi mempertahankan kota pusaka di Kota Bogor seluas 11.850 hektar dan berpenduduk 1,1 juta jiwa. Kampung Sunda akan melengkapi program penataan peninggalan Pecinan, Arab, dan Eropa.

Ketua Komunitas Pelestarian Pusaka Budaya Bogor Dewi Djukardi pernah mengingatkan, program kota pusaka yang sedang dijalankan ada yang tidak sesuai dengan kondisi terkini.

Ketidaksesuaian itu antara lain pembangunan gerbang sembilan atau lawang salapan di seberang Tugu Kujang. Pembangunan prasarana itu diyakini mereplikasi pilar Istana Bogor yang, meskipun peninggalan Eropa, bukan ciri lokal Bogor.

Program kota pusaka yang dijalankan sekadar membangun prasarana baru. Selain Lawang Salapan, yang sudah dibangun dan diresmikan adalah Lawang Suryakancana.

Di sisi lain, masih ada laporan bangunan tua berciri Tionghoa, Arab, atau Eropa yang dihancurkan dan diganti baru. Kondisi ini menandakan pemerintah belum serius melaksanakan program kota pusaka secara utuh karena sekadar menyerap anggaran pemerintah pusat dalam bentuk pembangunan prasarana baru. (BRO)

Sumber: Kompas | 15 Februari 2016

Berikan komentar.