TRP
Belum Ada Satu Pandangan soal Restorasi
23 Desember 2015 \\ \\ 407

PALEMBANG — Pengelolaan rawa gambut yang baik memerlukan berbagai pendekatan kebijakan dan teknis yang sinkron. Karena itu, rencana pembentukan Badan Restorasi Gambut diharapkan tidak hanya menyentuh aspek teknis perbaikan atau revitalisasi lapangan, tetapi juga berbagai kebijakan yang tidak sinkron.

Hal itu mengemuka dalam Forum Diskusi Kompas bertema "Restorasi Lahan Gambut" bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Senin (21/12), di Palembang, Sumatera Selatan. Acara dihadiri Staf Khusus Gubernur Sumsel Najib Asmani. Hadir sebagai pembicara Lulie Melling (Direktur Tropical Peat Research Laboratory Unit Malaysia), Robiyanto Susanto (Guru Besar Pertanian Universitas Sriwijaya), I Nyoman Suryadiputra (Direktur Eksekutif Wetlands Institute Indonesia), Jasmin Ragil Utomo (Direktur Penyelesaian Sengketa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), dan Ricky Avenzora (pengajar Fakultas Kehutanan IPB). Wartawan Kompas, Tri Agung Kristanto, bertindak sebagai moderator.

Lulie Melling mengklaim keberhasilan pengelolaan rawa gambut bagi kelapa sawit di Serawak. Gambut berpori besar dipadatkan agar lubang kapiler sempit dan air merambat ke atas.

Parit atau kanal kecil di sekeliling kebun dijaga sehingga permukaan air 60-70 sentimeter. Cara itu menekan dampak buruk, termasuk tanaman miring.

Namun, menurut I Nyoman Suryadiputra, teknik itu gagal dan membuat genangan karena mempercepat subsidensi (penurunan permukaan tanah). Wetlands menemukan genangan di perkebunan sawit di Delta Rejang Sarawak yang diprediksi merendam 82 persen lahan pada 2019.

"Saya tidak anti sawit, tetapi hati-hati, jangan di gambut. Memang benar sawit bawa devisa tinggi, tetapi kerugian akibat kebakaran lalu Rp 400 triliun. Sampai kapan sawit bisa datangkan devisa karena suatu saat akan tergenang dan berakibat kredit macet," tuturnya.

Robiyanto menyoroti berulangnya kebakaran lahan dan ketiadaan penuntasan akar masalah. Pemanfaatan rawa gambut disebutnya tak disertai kajian dan persiapan. Akibatnya, pengelolaan air buruk yang membuat rawa gambut mudah terbakar.

"Perusahaan setelah dapat konsesi langsung mendatangkan ekskavator untuk gali-gali buat drainase," katanya. Gambut dan lahan basah secara umum memiliki pekerjaan besar karena lokasinya tersebar di 150 kabupaten/kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Jasmin Ragil Utomo mengatakan, restorasi gambut bertujuan mengembalikan fungsi gambut, misalnya pengendali/cadangan air tawar dan keanekaragaman hayati. "Regulasi sedang disiapkan dan dibahas regulasi yang akan dikembangkan serta aspek teknisnya," ucapnya. KLHK sedang memperkuat perlindungan rawa gambut. (ICH/RAM)

Sumber: Kompas | 22 Desember 2015

Berikan komentar.