TRP
Dua Jalan Layang Telah Selesai
18 Desember 2015 \\ \\ 332

Warga Tetap Menolak Jalan Layang Pluit

JAKARTA — Pembangunan struktur Jalan Layang Permata Hijau dan Kuningan Selatan di Jakarta Selatan telah selesai dikerjakan. Dalam waktu dekat, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan uji coba arus kendaraan.

Dua ruas jalan layang tersebut diharapkan dapat mengurai kepadatan lalu lintas. Khusus Jalan Layang Permata Hijau juga bertujuan mengurangi risiko kecelakaan di pelintasan sebidang rel kereta api (KA).

Jalan Layang Permata Hijau, yang menghubungkan Senayan dan Permata Hijau, dibangun membentang sepanjang 640 meter dengan lebar 10 meter di atas jalur ganda rel KA. Selain jalur untuk kendaraan roda dua dan empat, jalan layang itu juga dilengkapi jalur pejalan kaki. Rabu (16/12) siang, pekerja memasang pagar pengamandan merapikan aspal.

Pembangunan jalan layang Kuningan Selatan sepanjang 681 meter dan lebar 9 meter juga memasuki tahap akhir. Kemarin, semua potongan beton yang menghubungkan kedua sisi jalan sudah terpasang. Alat-alat berat yang biasanya melintang di badan jalan sudah disingkirkan.

Meski sudah selesai dibangun, belum ada kendaraan yang melintas di jalan yang akan memperlancar lalu lintas dari Cawang menuju Semanggi tersebut.

Kepala Bidang Simpang dan Jalan Tak Sebidang Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta Heru Suwondo, mengatakan, Jalan Layang Permata Hijau dan Kuningan Selatan dapat digunakan setelah petugas melakukan uji coba di ruas jalan itu. "Saat ini, kami sedang menyelesaikan perapian jalan layang. Mudah-mudahan minggu depan kami bisa melakukan uji coba," kata Heru.

Menurut dia, pembangunan dua jalan layang itu sudah selesai dari segi struktur dan fungsi. Saat ini, pekerja tinggal melakukan perapian bangunan, antara lain menghaluskan aspal, membangun taman, dan mengembalikan jalan biasa ke kondisi semula.

Jalan Layang Permata Hijau dan Kuningan Selatan dibangun sejak awal tahun ini.

Pembangunan jalan layang di pelintasan sebidang direncanakan juga akan dilakukan di Jalan Bintaro Raya, Jakarta Selatan. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta sedang melakukan musyawarah pembebasan lahan yang terdampak pembangunan. Pembangunan direncanakan mulai 2016.

Ciledug-Tendean

Pada waktu bersamaan, pembangunan jalan layang khusus bus transjakarta Koridor XIII Ciledug-Tendean terus berlanjut. Pantauan di lokasi, sejumlah pilar penyangga jalan layang sudah berdiri tegak. Di sejumlah lokasi, pekerja mulai memasang gelagar beton jalan layang.

Proyek jalan layang tersebut terbagi menjadi delapan paket pembangunan. Deputi Project Manager PT Adhi Karya, kontraktor paket Jalan Tendean, Ery Satriadi, menuturkan, pihaknya sudah menyelesaikan 52 persen pembangunan jalan layang. "Pembangunan melampaui target 40 persen," katanya.

Paket Jalan Tendean membentang sepanjang 1,1 kilometer. Di ruas itu, pekerja sudah memasang 20 dari 309 potongan gelagar beton jalan layang. Sebanyak 100 potongan gelagar juga sudah selesai diproduksi.

Tetap menolak

Di Jakarta Utara, pembangunan jalan layang yang menghubungkan Jalan Pluit Utara Raya dan Pluit Selatan Raya terus berlangsung. Pembangunan jalan layang ini seiring penguatan tanggul Kali Karang. Meski begitu, sebagian warga sekitar masih menolak pembangunan itu.

Rabu siang, belasan ekskavator terlihat terus bekerja merapikan sisa pekerjaan. Mesin pancang terparkir rapi di pinggir Jalan Pluit Barat Raya atau persis di tepi Kali Karang. Papan pengumuman pengerjaan proyek jalan dan tanggul berjejer di pinggir jalan. Meski demikian, tidak ada papan petunjuk pengerjaan proyek, baik nama perusahaan maupun lama pengerjaan.

Di seberang jalan, spanduk sepanjang 5 meter terpasang di sejumlah rumah warga yang rata-rata berlantai dua. Spanduk itu berisi aturan yang dilanggar dalam pembangunan jalan layang itu. "Kami merasa pembangunan itu melanggar aturan. Karena setahu kami, ini tidak masuk dalam rencana wilayah. Belum lagi larangan membangun di sempadan kali," ucap William Hartono, warga setempat yang jadi koordinator forum warga.

Menurut William, sejak pembangunan dimulai, tidak ada keterbukaan dan penjelasan terkait proyek jalan layang ini. Tiba-tiba, alat berat datang dan menguruk sebagian tanggul.

Warga pun menuntut keterbukaan, transparansi, dan jaminan dari proyek jalan layang. "Kami sudah bersurat ke Gubernur DKI tiga hari lalu untuk meninjau keputusan pembangunan jalan layang ini. Kalau memang valid, mana semua datanya? Kalau jadi dibangun, ke mana kami mencari jaminan jika ada terjadi apa-apa nantinya? Tinggi (permukaan) kali sudah hampir setinggi rumah kami, kalau jebol siapa yang tanggung jawab?" ucapnya.

Oktober lalu, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faizal mengatakan, pembangunan jalan layang telah sesuai aturan yang ada. Tujuan pembangunan jalan layang untuk menambah ruas jalan dan mengurangi kemacetan. (DNA/JAL)

Sumber: Kompas | 18 Desember 2015

Berikan komentar.