TRP
Mempersiapkan Orang
18 Desember 2015 \\ \\ 273

Bakal hadir sejumlah besar sarana dan prasarana transportasi di negeri ini. Di Jakarta saja, secara kasatmata terlihat proyek pembangunan angkutan massal cepat (MRT) dan angkutan kereta ringan (LRT). Proyek kereta api Bandara Soekarno-Hatta juga dalam penyelesaian. Di daerah, sedang dibangun rel kereta api di Kalimantan dan Sulawesi. Panjang rel kereta api akan bertambah dari 5.434 kilometer menjadi 8.692 kilometer.

Pemerintah mencanangkan sejumlah proyek transportasi dalam lima tahun mendatang. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional disebutkan, jumlah pelabuhan akan dikembangkan dari 278 pelabuhan saat ini menjadi 450 pelabuhan tahun 2019. Jumlah bandara dikembangkan dari 237 bandara menjadi 252 bandara. Demikian pula pengembangan jalan negara dan jalan tol.

Bagi masyarakat pengguna, berbagai pembangunan sarana dan prasarana transportasi ini jelas menyenangkan. Biaya logistik yang selama ini termasuk mahal tentunya bisa ditekan. Biaya logistik di negeri ini termasuk yang tertinggi di ASEAN, mencapai 26 persen dari produk domestik bruto (PDB) akibat infrastruktur transportasi yang tidak memadai.

Berkaitan dengan program Tol Laut, pemerintah menyediakan 53 kapal angkut yang akan memperlancar transportasi barang dan manusia antara pulau. Jumlah kapal ini akan menjadi 188 unit pada tahun 2017. Dengan demikian, harga barang-barang manufaktur yang dihasilkan di Pulau Jawa bisa juga dinikmati masyarakat di kawasan Indonesia Timur dengan selisih harga yang tidak terlalu ekstrem tinggi.

Semua kerja keras dan upaya pemerintah mendorong kelancaran transportasi ini tentu saja harus diimbangi dengan mempersiapkan orang. Manusia yang menjadi operator dari berbagai sarana transportasi yang ada. Di sisi lain, juga perlu mempersiapkan manusia yang menjaga dan merawat agar semua peralatan transportasi yang ada tadi bisa beroperasi aman, nyaman dan mampu bertahan lama.

Harus diakui, negeri ini memadai dalam penyediaan berbagai peralatan. Investasinya juga mahal. Hanya tak bisa dimungkiri juga, sangat lemah dalam pengoperasian dan perawatan. Kasus jembatan ambruk, bus transjakarta yang sering kali rusak atau terbakar, pengemudi kendaraan umum yang seenaknya mengemudikan kendaraannya. Acap kali bus yang reyot dan tidak nyaman, tetapi tidak juga segera diperbaiki.

Sejumlah besar bandara baru, pelabuhan baru, jalan tol, dan ratusan kapal tentu saja memerlukan operator dan juga tenaga pemelihara. Mereka perlu dipersiapkan secara satu kesatuan yang bertugas menjaga kualitas pelayanan ataupun merawat dan menjaga peralatan yang ada. Bahkan, juga menjaga agar semua proyek yang telah dibangun itu tetap siap dan nyaman bagi penggunanya. Juga bertahan lama.

Gugus kendali mutu sudah lama dikenal. Bagaimana orang yang berada di balik sebuah proses produksi tidak saja bisa melaksanakan proses produksi secara baik, tetapi juga berkesinambungan. Berkesinambungan bermakna mereka juga bisa mencari solusi jika terjadi kendali. Mereka juga merawat, memperbaiki setiap peralatan yang ada sehingga proses produksi tidak terganggu. Berbagai kendala bisa segera diatasi.

Praktik gugus kendali mutu ini sudah diterapkan sejumlah perusahaan swasta yang selama ini dikenal berkinerja bagus dalam produksi ataupun menjaga kesinambungan proses produksi. Katakan seperti Astra International, pengalaman dalam penerapan gugus kendali mutu ini sudah berjalan baik. Buktinya, banyak produk mobil keluaran Astra bisa diekspor ke sejumlah negara. Pemerintah perlu menjaga investasi mahal ini dengan praktik gugus kendali mutu. (PIETER P GERO)

Sumber: Kompas | 16 Desember 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.