TRP
Mari Laporkan Banjir
18 Desember 2015 \\ \\ 277

Informasi Warga Terakomodasi Melalui Twitter dan Peta Jakarta

JAKARTA — Peta Jakarta membenahi sistem informasi lokasi banjir dengan meluncurkan petajakarta.org versi 2.0, Selasa (15/12). Masyarakat diharapkan terlibat aktif menginformasikan lokasi banjir di wilayah mereka lewat Twitter.

Pengguna Twitter bisa menginformasikan banjir di lokasinya dengan menyebutkan akun @petajkt dan memberi tagar #banjir. Kicauan masyarakat ini akan diteruskan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta untuk proses verifikasi. Informasi banjir yang sudah terverifikasi dan ditampilkan dalam situs petajakarta.org ini diharapkan bisa membantu warga Jakarta lainnya.

Dengan fasilitas geolokasi pada Twitter, lokasi tempat ciutan disampaikan akan langsung muncul di dalam peta di situs petajakarta.org. Lokasi ini menunjukkan titik banjir.

Tomas Holderness, Co-Director petajakarta.org, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti situs berita dan Qlue untuk mengintegrasikan informasi tentang banjir yang dilaporkan masyarakat kepada mereka.

"Warga juga bisa mengirimkan foto lokasi yang banjir. Foto akan diintegrasikan dalam petajakarta.org," katanya.

Sejauh ini, Tomas mengakui, lokasi banjir masih mengandalkan geolokasi. Karena itu, apabila pengirim informasi menyampaikan kicauan bukan di lokasi banjir, yang terdeteksi di petajakarta.org adalah lokasi tempat pelapor itu mengirimkan kicauan lewat Twitter. Namun, setiap laporan banjir juga bisa memuat informasi tambahan dari pengirimnya, seperti tulisan tentang nama jalan yang banjir.

Country Business Head Twitter Indonesia Roy Simangunsong mengatakan, media Twitter sudah banyak digunakan pemilik akun untuk menginformasikan berbagai hal, termasuk tentang bencana yang ada di sekitar mereka. "Ketika terjadi gempa, kebakaran, atau kecelakaan lalu lintas, informasi kejadian banyak disampaikan pengguna Twitter lewat kicauan mereka. Bahkan, kicauan ini disampaikan sebelum peristiwa itu masuk dalam situs berita," kata Roy.

Dengan pengalaman tersebut, dia berharap warga juga memanfaatkan Twitter sebagai media informasi tentang banjir di Jakarta. Informasi ini diyakini akan membantu banyak orang, baik untuk mencari jalan alternatif, memberikan bantuan, maupun penanggulangan bencana itu.

Libatkan PPSU

Kepala Bidang Informasi dan Pengendalian BPBD DKI Jakarta Bambang Surya Putra mengatakan, pihaknya siap memverifikasi laporan banjir yang disampaikan warga lewat Twitter.

"Verifikasi pertama dilakukan staf operasi kami. Kalau informasi tersebut terverifikasi, kami akan sampaikan bahwa banjir di lokasi tersebut memang benar. Namun, apabila informasi tersebut masih butuh verifikasi lanjutan, kami akan mengecek ke lapangan. Kami sudah mengumpulkan nomor telepon petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) di tingkat kelurahan serta nomor telepon 5.000 relawan di kelurahan rawan banjir," kata Bambang.

Proses verifikasi memakan waktu sekitar 15 menit. Namun, apabila laporan banjir yang masuk sangat banyak, waktu verifikasi akan lebih lama.

Setelah laporan diverifikasi, BPBD DKI meneruskan laporan itu ke sembilan satuan kerja perangkat daerah dan instansi terkait, antara lain Dinas Tata Air, Dinas Sosial, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan dan Transportasi, Dinas Perindustrian dan Energi, PLN, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pertamanan dan Pemakaman.

Laporan tentang bencana juga diterima BPBD DKI lewat nomor telepon (021) 164 dan telepon bebas pulsa 112. Namun, pelaporan lebih banyak diterima dari Twitter.

Secara umum, puncak musim hujan di Jakarta diperkirakan pada 10 hari terakhir bulan Januari-pertengahan Februari 2016.

Smartcity

Kemarin, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka pusat kontrol smartcity.jakarta.go.id di Blok B Kompleks Balai Kota Jakarta sebagai obyek kunjungan, pusat analisis data, serta inkubasi pengembang aplikasi.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam Forum Jakarta Smartcity 2015 yang digelar IT Media Kompas Gramedia dan Dinas Komunikasi Informasi DKI Jakarta di Balai Kota Jakarta mempersilakan pengembang memanfaatkan fasilitas untuk menciptakan aplikasi yang berguna bagi publik.

Selain fasilitas tempat dan jaringan internet, Basuki mempersilakan pengembang memanfaatkan data publik untuk membangun aplikasi. "Saya berharap muncul aplikasi-aplikasi baru yang membuat warga Jakarta makin mudah dan nyaman," ujarnya.

Dalam usianya yang satu tahun, unit Smartcity Jakarta telah menyediakan aplikasi untuk pelaporan keluhan warga melalui Qlue, aplikasi Ruangguru untuk mencari guru pribadi, Qlue Transit untuk mengecek lokasi bus transjakarta, dan iJakarta untuk perpustakaan digital.

Kesadaran anak

Secara terpisah, Plan International Indonesia merilis hasil penelitian bahwa 47,5 persen responden yang merupakan pelajar SD tak mengetahui potensi bencana di sekolah mereka. Sejumlah 39 persen responden menjawab bahwa banjir menjadi potensi bencana terbesar yang mungkin terjadi di sekolah, 5,9 persen gempa bumi, dan 1,6 persen kebakaran. Jumlah responden siswa 2.160 orang dari lima wilayah di DKI Jakarta, kecuali Kabupaten Kepulauan Seribu. (ART/MKN)

Sumber: Kompas | 16 Desember 2015

Berikan komentar.