TRP
Balikpapan Layak Jadi Contoh -Pengelolaan Pesisir-
01 Desember 2015 \\ \\ 298

BALIKPAPAN — Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, layak dijadikan contoh pengelolaan kawasan pesisir dan konservasi bakau bagi daerah lain di Indonesia. Di tengah keinginan memacu industri, Balikpapan masih mengupayakan konservasi lingkungan dan menjaga ruang terbuka hijau.

"Tinggal bagaimana Balikpapan menjaga terus komitmen lingkungan, dan apa yang ada ini menginspirasi daerah-daerah lain," ujar Dietriech G Bengen, Guru Besar Institut Pertanian Bogor, di sela-sela Bimbingan Teknis Pengolahan Mangrove, Jumat (27/1), di Balikpapan.

Balikpapan beruntung karena lebih dari 40 persen wilayahnya masih merupakan ruang terbuka hijau. Balikpapan juga memiliki kekayaan hamparan bakau, terutama di sisi barat dan timur kota. Balikpapan juga memiliki Hutan Mangrove Margomulyo seluas 21 hektar.

Hutan mangrove itu berada persis di sebelah SMAN 8 Balikpapan. Sejak 2010, sekolah ini menerapkan muatan lokal mangrove. Tak hanya dua jam seminggu mata pelajaran Mangrove diberikan, siswa juga dilibatkan untuk rutin merawat mangrove.

SMAN 8 Balikpapan menjadi sekolah pertama yang menerapkan itu, dan kini menjadi keunggulannya. Berawal dari kesepakatan bersama warga dengan pemerintah kota (pemkot) pada Juni 2003, bakau mulai ditanam di kawasan itu. Dari awalnya hanya seluas 3,2 hektar, kini 21 hekar.

Berpacu dengan cepatnya alih fungsi lahan, Pemkot Balikpapan berencana menambah luas hutan mangrove hingga 40 hektar. Proses pembebasan lahan sudah dimulai tahun ini. "Sekolah ini mulai jadi percontohan bagi sekolah lain," ujar Dietriech.

Selain kawasan itu, ada juga Mangrove Center Balikpapan seluas 150 hektar yang sudah ditetapkan pemkot sebagai kawasan konservasi. Mangrove Center Balikpapan diawali inisiatif warga. Kedua kawasan itu sekarang menjadi tujuan wisatawan.

Untuk pengelolaan permukiman di pesisir, Balikpapan mempunyai Permukiman Atas Air di Kelurahan Margasari. Kawasan yang mencakup 12 RT (sekitar 900 rumah) itu dulu kumuh. Pasca kebakaran besar tahun 1992, kawasan itu ditata.

Perkampungan Atas Air yang sebagian areanya dipagari mangrove, pernah menyabet penghargaan, antara lain, Juara I Penataan Ruang Subbidang Penataan Kawasan Kumuh Perkotaan Tahun 2008 dan Juara II Penataan Ruang Subbidang Penataan Ruang Terbuka Hijau tahun 2010.

Ketua Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia Kaltim Abrianto Amin mengutarakan, salah satu kawasan pesisir yang pengelolaannya akan dibenahi adalah di Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kawasan itu kaya akan hamparan bakau, juga nipah.

Eksploitasi migas dan pembukaan tambak mengikis hamparan hijau bakau dan nipah. Dari 155.000 hektar kawasan Delta Mahakam, kini hanya tersisa 55.000-60.000 hektar lahan hijau. "Sekitar 60.000 hektar dibuka untuk tambak sepanjang 2002-2007," katanya. (PRA)

Sumber: Kompas | 28 November 2015

Berikan komentar.