TRP
KA Trans-Sulawesi Lebih Baik
26 November 2015 \\ \\ 384

Tahap I Makassar-Parepare Senilai Rp 10,8 Triliun

BARRU — Pembangunan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa terus dilakukan. Setelah jalur kereta Trans-Sumatera dan Kalimantan, pemerintah kini mulai membangun jalur kereta api Trans-Sulawesi yang menghubungkan Makassar, Sulawesi Selatan, hingga Manado, Sulawesi Utara.

Pada tahap I dibangun jaringan KA lintas Makassar-Parepare sejauh 145 kilometer. Total kebutuhan anggaran untuk pengadaan lahan, konstruksi, dan penyediaan sarana KA tahap I itu mencapai Rp 10,8 triliun. Proyek ini didanai APBN tahun jamak, mulai 2015-2018. Sementara untuk pengadaan lahannya melibatkan APBD Provinsi Sulsel.

Spesifikasi jaringan kereta yang dibangun di Sulawesi ini relatif lebih baik dibandingkan dengan jalur yang telah terbangun saat ini di Jawa dan Sumatera. Jaringan yang ada di Jawa dan Sumatera saat ini hanya mampu mengakomodasi kecepatan kereta hingga 120 kilometer per jam. Sementara jaringan yang dibangun di Sulawesi mampu mengakomodasi kecepatan kereta hingga 200 kilometer per jam.

Selain itu, aspek keselamatan juga lebih baik karena desain pembangunan jaringan kereta ini tidak ada satu pun pelintasan sebidang. Semua perpotongan jalur kereta dan jalan raya dibangun jalan layang atau jalan bawah tanah.

"Memang saat ini baru mencapai enam kilometer, tetapi kita berharap tahun depan dilanjutkan sampai ke Parepare sejauh 145 km. Pada saat yang sama dibangun (jalur) dari Manado sehingga diharapkan 2018 sudah tersambung dan sudah bisa beroperasi," kata Presiden Joko Widodo saat meninjau pembangunan rel kereta di Desa Telumpanua, Kecamatan Tenate Rilau, Kabupaten Barru, Sulsel, Rabu (25/11).

Ikut mendampingi Presiden, antara lain Ny Iriana Jokowi, Mensesneg Pratikno, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Hermanto Dwiatmoko.

Pembangunan jaringan kereta Trans-Sulawesi ini akan terkoneksi dengan Pelabuhan Makassar Baru dan bandar udara. Di kota-kota yang lain yang dilalui juga didesain terintegrasi antara moda transportasi darat, laut, dan udara.

Pembangunan jaringan KA ini sebagian besar menggunakan komponen lokal dan dikerjakan tenaga kerja lokal. Blok bantalan rel kereta dibuat PT Wijaya Karya, pengunci rel dibuat PT Pindad, serta gerbong dan lokomotif hampir 100 persen dari PT Inka. Sementara rel masih diimpor dari Jepang dan Tiongkok.

Pembangunan jaringan kereta ini akan menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, terutama tenaga kerja dari Sulawesi. Bahkan, Presiden berharap nantinya yang akan mengoperasikan juga tenaga kerja dari Sulawesi.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menyatakan, masyarakat Sulsel antusias menyambut pembangunan jaringan kereta itu. Ia berseloroh, selama ini masyarakat di Sulawesi hanya tahu lagu Naik Kereta Api. (WHY/ENG)

Sumber: Kompas | 26 November 2015

Berikan komentar.