TRP
"Homestay" Dibangun di Kawasan Cagar Budaya
23 November 2015 \\ \\ 304

JAKARTA — Aktivitas pembangunan sejumlah bangunan di Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor sejak tiga minggu terakhir dikhawatirkan mengancam eksistensi pulau-pulau bersejarah tersebut. Pembangunan ini dipertanyakan, terutama dari sisi izin dan peruntukannya.

Situs dan nilai kesejarahan ketiga pulau tersebut kini terusik.

Menurut data yang diperoleh Kompas, saat ini telah terbangun dua homestay (rumah inap) di Pulau Onrust. Bangunan ini berukuran sekitar 40 meter persegi dengan bahan semipermanen. Adapun di Pulau Cipir telah terbangun satu bangunan yang memiliki tiga pintu. Pintu itu bermodel rolling door dengan cat biru. Tidak ketinggalan delapan tapak fondasi yang belum terbangun. Sementara itu, di Pulau Kelor terdapat dua bangunan berukuran sekitar 40 meter persegi.

Pulau-pulau ini berada di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dan merupakan cagar budaya. Pembangunan di pulau-pulau ini dilakukan oleh Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo, saat dihubungi, Jumat (20/11), menuturkan, jajarannya memang telah memantau pembangunan di tiga pulau itu. Sebab, sejauh ini tidak ada koordinasi terkait pembangunan di wilayahnya.

"Semua pembangunan di wilayah kami itu kami monitor. Dan, setelah didatangi, di ketiga pulau itu memang ada sejumlah aktivitas pembangunan. Karena itu, kami menanyakan ke instansi yang terlibat langsung terkait pembangunan ini," ucap Budi.

Membangun di tiga pulau ini, ucap Budi, seharusnya mendapatkan izin dari Gubernur DKI Jakarta karena posisinya sebagai cagar budaya. Tidak hanya itu, sebaiknya ada tembusan ke wilayah agar pembangunan dapat diketahui bersama. Karena itu, pihaknya telah memberikan surat peringatan kepada pengelola.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Sunarto menyampaikan, pembangunan memang sedang dilakukan di pulau itu. Akan tetapi, hal tersebut telah sesuai dengan master plan (rencana induk)yang telah disusun sebelumnya.

"Kami punya master plan pembangunan pulau sebagai cagar budaya berikut tempat penelitian. Rencana itu telah disusun sejak 2011, termasuk pembangunan homestay-nya," ucap Sunarto.

Rencana induk tersebut, kata Sunarto, telah mendapat persetujuan dari tim sidang pemugaran. Tim ini yang menilai apakah pembangunan di sebuah cagar budaya layak untuk dilakukan.

Pada sidang itu, menurut Sunarto, kajian dan penelitian telah dilakukan, termasuk pembangunan homestay. Pembangunan itu pada dasarnya ditujukan untuk kegiatan penelitian.

"Pulau ini menjadi rujukan penelitian arkeologi. Jadi, kami melengkapi fasilitas kepada peneliti-peneliti yang datang agar bisa mendapat tempat yang layak. Ini (pulau) akan menjadi taman arkeologi yang nyaman. Tempatnya juga bukan bangunan komersial, tetapi gratis untuk penelitian" ucapnya.

Akan tetapi, saat ditanyakan tentang jumlah bangunan yang telah terbangun, Sunarto menyampaikan akan mengecek hal itu terlebih dahulu. "Setahu saya, dalam master plan-nya cuma satu homestay. Nanti hal itu saya tanyakan kepada jajaran bawah lagi," ucapnya.

Nilai sejarah

Pulau-pulau ini menyimpan nilai sejarah. Sejumlah bangunan yang ada merupakan sisa peninggalan yang menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa, bahkan jauh sebelum kemerdekaan RI diproklamasikan.

Di Pulau Onrust, misalnya, terdapat sejumlah reruntuhan bangunan, makam raja-raja, dan bangunan lain. Selain sebagai salah satu galangan kapal tersibuk pada 1613, pulau ini juga menjadi saksi kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada 1883.

Bangunan bersejarah lainnya terdapat di Pulau Kelor, yaitu Benteng Mortello. Adapun di Pulau Cipir atau Pulau Kahyangan masih tersisa peninggalan tempat penampungan jemaah haji Indonesia dahulu sebelum berangkat ke Mekkah.

"Kalau benar-benar terbangun, kami ini kecolongan. Pulau bersejarah terancam keberadaannya dan sejarah di dalamnya akan hilang," ucap Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia.

Menurut Asep, sebuah pembangunan di daerah cagar budaya wajib melalui tim sidang pemugaran. Dalam sidang ini harus ditelaah secara detail aspek lokasi hingga situs yang ada dalam area pembangunan tersebut. Sebab, nilai kesejarahan bukan hanya menyangkut tentang satu per satu bangunan, melainkan juga kawasan, lokasi sekitar, dan jalur-jalur ke lokasi cagar itu.

Dari pembangunan yang sedang berlangsung ini, ucap Asep, siapa yang bisa memastikan jika di bawah bangunan terdapat obyek bersejarah. Penggalian, pembongkaran tanah, pasti akan berdampak banyak.

Selama ini, situs sejarah disepelekan. Perusakan di Pulau Onrust, misalnya, secara perlahan terjadi sejak era 1960-an. Selain itu, di Pulau Cipir dan Pulau Onrust, coretan-coretan bernada vulgar menghiasi beberapa dinding bekas barak dan rumah sakit. Oli dan bahan bakar mesin diesel yang diletakkan di sebuah ruangan tak luput mengotori bangunan bersejarah tersebut (Kompas, 25/4).

"Kehadiran bangunan itu pasti akan berdampak besar. Pada lokasi yang sudah terbangun, kondisi alaminya tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi. Kalau misalnya benar di lokasi itu ada situs bersejarah, hal tersebut merupakan pelanggaran yang diatur dalam undang-undang. Ancamannya berupa denda dan hukuman kurungan," kata Asep. (JAL)

Sumber: Kompas | 21 November 2015

Berikan komentar.