TRP
Karst Kendeng, Tandon Air yang Harus Dilestarikan
23 November 2015 \\ \\ 706

Sriyono (70) dan Narutomo (75) masih setia sebagai petani. Dua warga Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu ikut jadi saksi ketika majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang, Selasa (17/11), memutuskan pembatalan izin lingkungan pendirian pabrik semen serta penambangan batu gamping dan batu lempung di Kecamatan Tambakromo dan Kecamatan Kayen, Pati.

Keputusan majelis hakim PTUN Semarang yang diketuai Adi Budi Sulistyo bagaikan tumpahan air hujan di tanah kering. Putusan itu disambut petani Sriyono, Narutomo, Gunarti, dan ribuan petani di kawasan Pegunungan Kendeng Utara sebagai kemenangan para pelestari alam. "Kulo niku namun saget dedongo, mugi-mugi Kendeng tetap saget nguripi kulo sak keluarga lan anak putu kulo (Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Kendeng tetap menghidupi kami sekeluarga dan anak cucu saya)," ujar Sriyono.

Pengamat lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang, Sudharto P Hadi, Rabu (18/11), mengemukakan, putusan PTUN Semarang mengabulkan gugatan petani harus menjadi pembelajaran berharga. Pembelajaran bagi penentu kebijakan di daerah itu, supaya hati-hati dalam menetapkan prioritas pembangunan di kawasan Kendeng dan sekitarnya. Untuk itu, pengaturan tata ruang secara detail, jelas membedakan antara kawasan budidaya, penambangan, dan kawasan lindung, perlu dipetakan secara serius.

Kawasan Bentang Alam Karst Kendeng memiliki ciri-ciri batu kapur (karst) kelas satu. Kawasan itu perlu perlindungan dan harus menjadi perhatian utama guna menentukan keberlanjutan ekologi di dalamnya. Apalagi, di kawasan karst itu terdapat 30 goa, 110 mata air, dan 9 ponor.

Potensi alam demikian tidak bisa dikelabui sehingga ketika pembuat kebijakan teledor memanipulasi keadaan alam, tentu konsekuensinya harus batal. "Begitu juga peran serta masyarakat dinilai penting dalam pengambilan izin lingkungan, terlebih lagi lingkungan itu sebagai sumber hidup berkelanjutan," kata Sudharto.

Kawasan karst Kendeng memang luas, mencakup karst Sukolilo dan perbukitan batu gamping di Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo di Pati. Kemudian, Kecamatan Brati, Grobogan, Tawangharjo, Wirosari, dan Kecamatan Ngaringan di Kabupaten Grobogan serta Kecamatan Todanan di Kabupaten Blora, seluas 19.590 hektar.

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 2641K/40/ MEM/2014 telah menetapkan Bentang Alam Karst Kendeng sebagai kawasan lindung geologi, bagian dari kawasan lindung nasional. Di kawasan itu dilarang ada kegiatan budidaya dan penambangan kecuali wisata dan kegiatan ilmu pengetahuan.

Tandon air

Pengamat hidrologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang, Robert J Kodoatie, menyebutkan, kawasan karst sebagai tandon air untuk memenuhi kebutuhan air baku dan pengairan di lahan pertanian masyarakat sekitar Kendeng. Mata air karst memiliki sistem sungai bawah tanah yang bersifat mengalir sepanjang musim (perenial).

Dalam memperlakukan kawasan Pegunungan Kendeng Utara, perlu ada perspektif keberadaan Kendeng sebagai sumber mata air satu-satunya di Jateng bagian timur hingga perbatasan dengan Jatim. Keberadaan sumber mata air itu sangat dibutuhkan bagi masyarakat di Pati, Rembang, Blora, dan Rembang, bahkan sampai Bojonegoro dan Tuban di Jatim.

"Di Jateng bagian timur tidak ada sungai besar, mulai Demak sampai Blora, kecuali Sungai Bengawan Solo. Padahal, daerah itu sentra pertanian padi yang membutuhkan irigasi air sepanjang tahun," ujar Robert.

Ketiadaan sungai besar di wilayah Jateng timur sebelah utara membuat wilayah itu paling awal terkena kekeringan saat musim kemarau. Kemarau menyebabkan petani tidak maksimal bercocok tanam padi, yang tersebar di Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Ketika puncak musim kemarau, wilayah itulah yang paling parah mengalami kekeringan.

Catatan di Dinas Pertanian Jateng, luas potensi lahan padi di Kudus, Grobogan, Demak, dan Pati saja mencapai lebih dari 70.919 hektar. Untuk menjamin ketersediaan air irigasi di Demak, Kudus, Grobogan, dan sebagian Pati, pemerintah pada 1985 merancang dan membangun Waduk Kedungombo, dan 1989 berfungsi mengairi lahan pertanian di wilayah utara itu.

Dari Waduk Kedungombo tersebut, air irigasi mencakup sekitar 46.000 hektar sawah. Seperti dikemukakan petani, Sardi, di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, adanya irigasi waduk itu membuat lahan miliknya minimal bisa panen dua kali. Petani di jaringan irigasi waduk lebih awal bertanam padi dibandingkan dengan daerah lain.

Menurut Robert, meskipun sudah ada waduk besar, fungsi kawasan Pegunungan Kendeng Utara dan CAT Watuputih tetap perlu dilestarikan. Fungsinya sebagai mata air bagi daerah sekitar yang tidak terjangkau irigasi oleh ketersediaan Waduk Kedungombo. (Winarto Herusansono)

Sumber: Kompas | 21 November 2015

Berikan komentar.