TRP
Dorong Teknologi Buka Lahan Tanpa Bakar
23 November 2015 \\ \\ 305

KUALA KAPUAS — Krisis lingkungan akibat kebakaran lahan dan hutan memberi efek serius. Oleh karena itu, para ahli diminta berinovasi untuk mengembangkan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar sebagai salah satu upaya mencegah berulangnya kebakaran.

"Ciptakan teknologi tanpa bakar selektif. Kalau ada pestisida selektif, adakah dekomposer selektif untuk menghancurkan semak belukar agar tidak dibakar dan gambut tak rusak," kata Kepala Balitbang Kementerian Pertanian Muhammad Syakir, Jumat (20/11), dalam seminar "Pengelolaan Gambut Berbasis Karakteristik Wilayah", di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.

Dalam seminar yang digelar Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HMGI) itu, Syakir mengatakan, larangan pemerintah bagi warga tidak membakar lahan harus disertai solusi dan teknologi. Selama tidak ada solusi secara cepat dan murah, pasti kebakaran masih akan terjadi. "Kebakaran dari aspek pertanian itu merusak tidak hanya emisi dan lingkungan, tetapi juga tak mendukung keberlanjutan pertanian karena merusak mikroogranisme," ujarnya.

Kini sudah ada bio-dekomposer bagi tanah mineral yang tidak merusak ekosistem. Namun, bagi lahan gambut masih perlu dicari dan dikembangkan karena di dalam gambut tersimpan karbon dan air. "Kebutuhan akan pertanian semakin tinggi. Mau tidak mau, lahan-lahan sub-optimal diperlukan," katanya.

Balitbang Kementerian Pertanian, jelas Syakir, menyiapkan kebijakan untuk melakukan pendekatan yang memperhatikan sisi ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya. "Teknologi ke depan adalah teknologi inovasi hibrid. Teknologi hibrid adalah memadukan aspek teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan," katanya.

Ketua Umum HMGI, Supiandi Sabiham, yang juga Guru Besar Kimia dan Kesuburan Tanah Institut Pertanian Bogor menyatakan mendukung pengembangan teknologi bersama peneliti lain serta melibatkan warga setempat dalam pengolahan gambut. "Ke depan, saya ingin penelitian tak hanya melibatkan para peneliti, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian, tetapi juga akan melibatkan masyarakat dan LSM," ujar Supiandi.

Director Tropical Peat Research Laboratory Unit Malaysia Lulie Melling mengatakan, rawa gambut dapat dimanfaatkan secara optimal dengan menerapkan metode pengelolaan air dan pemadatan gambut. "Pemadatan ini jadi kunci stabilitas, menjaga lahan gambut tetap lembab sehingga tak mudah terbakar," kata Lulie Melling. (IDO/DKA)

Sumber: Kompas | 21 November 2015

Berikan komentar.