TRP
Pemda DIY Kembangkan 12 Kawasan
20 November 2015 \\ \\ 301

YOGYAKARTA — Menyambut pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai akhir tahun ini, Pemerintah Daerah DI Yogyakarta mengembangkan 12 kawasan wisata di lima kabupaten dan kota. Kawasan yang terdiri dari gunung, pantai, kawasan karst, dan desa wisata itu diharapkan dapat menjadi daya tarik baru.

"Pemda DIY menetapkan 12 kawasan wisata provinsi, dan kami sudah menyusun bagaimana strategi pengembangan obyek wisata di kawasan-kawasan itu," kata Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi, dalam diskusi Kesiapan Pariwisata DIY Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Kamis (19/11), di Yogyakarta.

Imam menjelaskan, 12 kawasan wisata itu tersebar di lima kabupaten dan kota. Di Kabupaten Sleman, misalnya, ada kawasan lereng Gunung Merapi bagian selatan, kawasan Prambanan-Ratu Boko, serta kawasan Godean-Moyudan. Di Kota Yogyakarta, ada kawasan Keraton Yogyakarta-Malioboro.

Sementara di Kabupaten Bantul ada dua kawasan wisata, yakni kawasan Kasongan-Tembi-Wukirsari dan kawasan Parangtritis-Depok-Kuwaru. Di Gunung Kidul, ada kawasan Baron-Sundak, kawasan Siung-Wediombo-Bengawaan Solo Purba, kawasan Patuk, serta kawasan Karst Gunung Sewu. Adapun di Kulon Progo ada dua kawasan wisata yang akan dikembangkan, yakni kawasan Congot-Glagah-Trisik dan kawasan Pegunungan Menoreh.

Menurut Imam, kawasan-kawasan tersebut terdiri atas sejumlah obyek wisata dengan karakter berbeda. Di Kasongan-Tembi-Wukirsari, misalnya, ada beberapa obyek wisata, antara lain makam Raja-raja Mataram Islam di Imogiri yang dapat dikembangkan menjadi wisata religi.

Pengajar Jogja Tourism Training Center, Condroyono, mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang bekerja di sektor pariwisata, misalnya pemandu, agen perjalanan, dan pengelola obyek wisata, penting agar di DIY mengambil keuntungan dari MEA. Tahun 2014, wisatawan mancanegara ke DIY sekitar 257.000 orang.

Kampung digital

Menghadapi MEA, PT Telkom Regional III Jawa Barat membina sekitar 1.600 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya teknologi informasi. Mereka didorong agar menjadi masyarakat digital yang akan dimulai 1 Januari 2016 mendatang.

"Sebagai BUMN Merah Putih, kami memiliki tanggung jawab moral untuk berperan serta memajukan perekonomian Indonesia sesuai dengan bisnis utamanya," ujar Kepala Telkom Regional III Jawa Barat Suparwiyanto, Kamis (19/11), di Bandung. Selama 2015, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), Telkom Regional III mengucurkan dana program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) sebesar Rp 55 miliar.

MEA menjadi peluang untuk meningkatkan pemasaran produk UMKM, khususnya di Jawa Barat, karena pasar akan semakin membesar. Untuk itulah, kata Suparwiyanto, Telkom Regional III memandang pentingnya peningkatan TI bagi pelaku UMKM agar produk mereka semakin mudah menembus pasar negara-negara di ASEAN.

Salah satu program yang telah dilakukan Telkom Regional III adalah membangun Kampung Digital. Telkom Regional III Jawa Barat telah membangun dua kampung digital, yakni Kampung Digital Kaos Skoci Bandung dan Kampung Digital Batik Trusmi Cirebon. Tiga kampung digital lain selesai pada akhir 2015, yaitu Padepokan Bah Coet Sukabumi, Kampung Rajapolah Tasikmalaya, dan Kampung Keramik Plered Purwakarta. (HRS/DMU)

Sumber: Kompas | 20 November 2015

Berikan komentar.