TRP
Perluasan Kebun Harus Karbon Netral
20 November 2015 \\ \\ 339

KUALA LUMPUR — Di tengah kesulitan Indonesia memperluas areal kebun sawit, High Carbon Stock Plus (HCS+) yang akan menjadi standar sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Next, memberi peluang perluasan perkebunan kelapa sawit baru. Konversi hutan dalam batas tertentu dibolehkan sepanjang perusahaan melakukan konservasi di areal lain untuk menciptakan status karbon netral.

Menurut John Raison, Wakil Ketua Komite Pengarah HCS Study, dalam wawancara dengan wartawan Kompas, Hermas E Prabowo, di sela-sela Konferensi Tahunan RSPO Ke-13, Rabu (18/11), di Kuala Lumpur, Malaysia, ada empat perbedaan utama standar HCS Approach dengan HCS Study.

Pertama, terkait ambang batas HCS pada HCS Study lebih tinggi ketimbang HCS Approach. Dengan begitu, lahan yang bisa dikonversi untuk perluasan kebun sawit baru akan lebih banyak.

Kedua, semua pengembangan kebun sawit baru harus mengacu pada prinsip karbon netral. Karbon yang hilang akibat konversi harus diganti dengan melakukan konservasi di lahan lain.

Ketiga, ada konsep baru dalam HCS Study bahwa setelah dilakukan penanaman sawit bisa saja di areal tersebut berlaku karbon positif. Artinya, terjadi surplus karbon. "Selama ini tidak ada pembahasan karbon positif," katanya.

Keempat, aspek sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mendapat perhatian lebih baik mengacu standar kesejahteraan masyarakat dan memberikan fasilitas lebih baik kepada petani.

Ketua Komite Pengarah HCS Study Jonathon Porritt mengatakan, perusahaan yang mendanai proyek HCS Study dan tergabung dalam Manifesto Minyak Sawit Berkelanjutan berkomitmen menghentikan deforestasi.

"RSPO sangat fokus dengan isu HCS. RSPO menginginkan adanya satu standar dalam mendefinisikan dan mengevaluasi implementasi HCS. Standar HCS akan masuk dalam RSPO Next, yang akan masuk dalam prinsip dan kriteria sertifikasi RSPO," katanya.

Sejak November, sebuah tim yang beranggotakan 50 ahli terkemuka di bidang biomassa, tanah berkarbon, penginderaan jarak jauh, dan sosial-ekonomi melakukan studi ilmiah mengenai cadangan karbon tinggi yang proyeknya diberi nama HCS Study.

Sumber: Kompas | 20 November 2015

Berikan komentar.