TRP
Tiongkok Tolak Membahas Pembangunan Pulau Buatan
20 November 2015 \\ \\ 349

RI Dorong Bahas Substansi

KUALA LUMPUR — Indonesia berharap KTT ke-27 organisasi kawasan Asia Tenggara (ASEAN) di Kuala Lumpur, Malaysia, kali ini bisa membahas substansi kode tata berperilaku (COC) di Laut Tiongkok Selatan. Pembicaraan ASEAN dengan Tiongkok selama ini dinilai belum terarah.

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan, paling tidak, KTT ASEAN dan Tiongkok bisa mulai membahas substansi secara lebih intens. Misalnya terkait penjajakan membahas elemen dan struktur dari COC.

Hal itu disampaikan Puja kepada wartawan Kompas, Wisnu Dewabrata, di sela-sela pertemuan tingkat pejabat senior (SOM) ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia. KTT berlangsung 18-22 November 2015.

"Indonesia ingin mendorong ASEAN dan Tiongkok membahas itu. Kita semua harus duduk bersama membahas apa saja elemen yang akan dibahas. Hasil pertemuan di Chengdu sudah menyepakati agar kita membahas elemen dan struktur COC. Termasuk soal penyelesaian sengketa antar negara pengklaim," ujar Puja.

Saat ditanya apakah ASEAN akan membahas langkah sepihak Tiongkok membangun pulau buatan di perairan Laut Tiongkok Selatan, Puja mengaku belum mengetahui pasti apakah isu tersebut dimasukkan ke agenda pembahasan. "Namun, tidak tertutup kemungkinan ada delegasi negara peserta yang akan mengangkat isu itu," katanya.

Pertemuan persiapan

Dalam jumpa pers seusai pertemuan tingkat SOM, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Malaysia yang juga Ketua SOM Othman Hashim mengatakan, hal yang dibahas dalam pertemuan antara lain cetak biru komunitas politik dan keamanan ASEAN (APSC) 2015, yang diklaim telah 100 persen diimplementasikan. Juga tentang implementasi deklarasi kode tata berperilaku (DOC) pihak-pihak dan konsultasi COC di Laut Tiongkok Selatan.

Pembahasan tentang DOC dan COC Laut Tiongkok Selatan tersebut juga mengacu pada hasil pertemuan kelompok kerja bersama ASEAN-Tiongkok ke-15 tentang implementasi DOC serta pertemuan tingkat pejabat tinggi ASEAN-Tiongkok ke-10.

Isu lain yang dibahas adalah mempelajari lamaran Timor Leste untuk menjadi anggota ASEAN serta kemungkinan dampaknya terhadap komunitas politik dan keamanan ASEAN.

Pertemuan antar-pejabat tinggi ASEAN kali ini juga membahas protokol Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir ASEAN (SEANWFZ) dan pandangan tentang keamanan ASEAN (ASO) 2015, yakni mempromosikan transparansi yang lebih besar, kepercayaan, dan pemahaman tentang kebijakan pertahanan kawasan dan persepsi keamanan.

Othman tidak menutup kemungkinan pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) dan KTT ASEAN akan membahas isu pembangunan pulau buatan oleh Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan.

"Saya yakin sejumlah pemimpin negara akan membahas isu itu di bawah topik perkembangan internasional di kawasan. Mengingat pertemuan antar-menlu juga terkait persiapan pertemuan kepala negara, saya yakin isu Laut Tiongkok Selatan juga dipersiapkan," ujar Othman.

Penolakan

Selasa lalu, stasiun radio Amerika Serikat, Voice of America, mengabarkan penolakan Beijing terhadap pembahasan isu pembangunan pulau buatan di KTT ASEAN.

Wakil Menlu Tiongkok Liu Zemin, di Bangkok, Thailand, Selasa, mengatakan, KTT ASEAN bukan tempat yang tepat untuk mengangkat isu sengketa wilayah. Liu juga keberatan jika persoalan itu dibahas dalam KTT Asia Timur (EAS), yang diikuti 10 negara ASEAN dan delapan negara mitra wicara, termasuk AS.

"Kalau hal itu tidak terelakkan, kami akan meresponsnya. Selama ini Tiongkok menahan diri di Laut Tiongkok Selatan dan tak bertindak mengembalikan kondisi kepulauan dan gugus karang, yang secara ilegal dikuasai sejumlah negara tetangga," ujar Liu.

Dalam pertemuan antar-menteri pertahanan ASEAN dan delapan negara mitra wicara, November, Tiongkok sukses mencegah isu pembangunan pulau buatan di Laut Tiongkok Selatan masuk dalam pernyataan bersama yang menjadi keluaran pertemuan.

"Ada kemungkinan Beijing juga akan berupaya melakukan hal serupa dalam pertemuan KTT Ke-27 ASEAN kali ini," ujar Denny Roy, peneliti senior East West Center, Hawaii.

Sumber: Kompas | 20 November 2015

Berikan komentar.