TRP
Beijing Didesak Stop Pembangunan
20 November 2015 \\ \\ 313

MANILA — Di tengah-tengah pertemuan puncak para pemimpin Asia Pasifik di Manila, Rabu (18/11), Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyerukan agar Tiongkok mengakhiri pembangunan pulau buatan di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Obama mendesak Beijing agar mengambil langkah konkret untuk meredakan ketegangan di kawasan itu.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Beijing telah membuat pulau buatan di atas terumbu karang di Kepulauan Spratly yang tengah disengketakan Filipina, Brunei, Taiwan, Vietnam, dan Malaysia. Beijing juga membangun landasan pacu dan pelabuhan yang diduga kuat akan digunakan sebagai tumpuan bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk mendukung operasi mereka di Asia dan Pasifik.

Menyusul ketegangan antara AS dan Tiongkok yang ditandai dengan kehadiran kapal perusak AS, USS Lassen, tak jauh dari salah satu pulau buatan itu, Obama mendesak agar Beijing menghentikan pengurukan dan pengembangan fasilitas militer di pulau-pulau buatan itu. AS berpendapat, kehadiran masif Tiongkok di pulau-pulau buatan itu akan mengganggu kebebasan navigasi yang selama dinikmati banyak negara yang memanfaatkan Laut Tiongkok Selatan sebagai jalur utama perdagangan mereka.

Filipina yang berada paling dekat dengan Kepulauan Spratly juga merasa terganggu atas pembangunan di gugusan karang itu. Tidak heran jika Presiden Filipina Benigno Aquino III setuju dengan langkah Obama yang ingin menegakkan kebebasan navigasi di kawasan itu.

Paket bantuan

Kepada sekutunya di Asia itu, AS bersumpah untuk meningkatkan hubungan militer mereka. Pernyataan itu dibuktikan dengan memberikan bantuan kapal patroli dan kapal navigasi untuk pemetaan bawah laut untuk Angkatan Laut Filipina. AS pun menjanjikan paket bantuan senilai 250 juta dollar AS untuk mitranya di Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam.

"Kunjungan saya di sini menggarisbawahi komitmen kami untuk keamanan perairan wilayah ini dan untuk kebebasan navigasi," kata Obama, yang juga mendukung keputusan Filipina untuk membawa sengketa itu ke meja arbitrase PBB.

Paket bantuan itu diarahkan untuk memperkuat keamanan di perairan Laut Tiongkok Selatan. Filipina akan menerima sekitar 79 juta dollar AS dan Vietnam 40,1 juta dollar AS dari paket bantuan itu. Indonesia yang tidak terlibat dalam sengketa itu akan menerima bantuan senilai lebih kurang 20 juta dollar AS. Dana bantuan itu diarahkan untuk membantu melindungi wilayah maritim Indonesia.

Beijing meradang dengan sikap Washington itu. Beijing menegaskan, AS tidak memiliki hak apa pun untuk melibatkan diri dalam sengketa di wilayah tersebut. Sebelum AS mengumumkan rencana pemberian paket bantuan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Liu Zhenmin di Beijing mengatakan, Tiongkok memiliki hak dan kemampuan untuk mengambil alih pulau-pulau karang lain yang saat ini diduduki sejumlah negara di sekitar Laut Tiongkok Selatan.

"Namun, kami tidak melakukan itu, kami sekuat tenaga menahan diri," kata Liu Zhenmin. (AFP/Reuters/JOS)

Sumber: Kompas | 19 November 2015

Berikan komentar.