TRP
4.097 Bangunan di Bantaran Kanal Akan Ditiadakan
20 November 2015 \\ \\ 1

Asap Hilang, Banjir Datang

SANGGAU — Belum sebulan kabut asap akibat kebakaran lahan hilang, kini Kalimantan Barat mulai dilanda banjir akibat hujan lebat. Banjir setinggi 1 meter, Rabu (18/11), terjadi di jalur Trans-Kalimantan, Kabupaten Kubu Raya, dan jalan negara di Kabupaten Sanggau. Banjir merendam permukiman warga.

Pantauan Kompas di jalur Trans-Kalimantan, Kubu Raya, banjir setinggi sekitar 1 meter itu menutupi sebagian badan jalan dan merendam puluhan rumah warga di sekitarnya. Di rumah warga, ketinggian air bahkan mencapai 1,5 meter karena permukiman warga berada di rawa dan tepi anak sungai.

Sebagian pemilik rumah mengungsi ke saudara mereka dan sebagian lagi bertahan di lantai dua rumah mereka. Perabotan rumah tangga juga mereka pindahkan ke lantai dua. Daerah banjir terletak sekitar 50 kilometer dari Pontianak, ibu kota Kalbar.

Markus Anjus (40), warga yang tinggal di sekitar Trans-Kalimantan, mengatakan, banjir terjadi sejak Selasa malam. Hujan belakangan ini membuat permukaan air sungai meluap. Rawa di sekitarnya juga digenangi air.

"Seminggu terakhir, debit air di sungai-sungai sekitar permukiman warga naik. Hujan terjadi setiap hari, terutama sore dan malam hari. Kami sudah menduga akan banjir. Barang-barang sudah kami pindahkan ke lantai dua," kata Markus.

Dari Kabupaten Bengkayang, Kalbar, dilaporkan, daerah itu sudah mengantisipasi kemungkinan datangnya banjir. Yosef, Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Bengkayang, mengemukakan, daerahnya dalam status Darurat Banjir.

Di Kalimantan Selatan, kepolisian daerah setempat menyiagakan 205 personel untuk membantu pemerintah daerah (pemda) menangani bencana alam, yang berpotensi terjadi pada musim pancaroba hingga musim hujan akhir tahun ini. Personel akan dikerahkan untuk turun ke lokasi bencana. Kepala Polda Kalsel Brigadir Jenderal (Pol) Agung Budi Maryoto mengatakan itu pada apel gelar pasukan dalam rangka Siaga Bencana Alam di Banjarmasin, Rabu.

Sementara itu, di Jawa Timur, angin kencang melanda Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Bojonegoro, Selasa petang lalu. Di Ngawi, kejadian itu membuat seorang warga meninggal akibat tertimpa rumah. Dua puluh keluarga kehilangan tempat tinggal karena rumah mereka hancur. Kepala BPBD Ngawi Eko Heru Tjahjono mengatakan, korban meninggal adalah Randinem (55), warga Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati.

Gandeng masyarakat

Terkait dengan antisipasi bencana alam, Badan SAR Nasional (Basarnas) menggandeng instansi daerah dan masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mengantisipasi jatuhnya korban. Hal itu dilakukan karena jumlah personel dan perlengkapan Basarnas tidak sebanding dengan luas wilayah Indonesia yang harus dipantau.

Direktur Bina Ketenagaan dan Pemasyarakatan SAR Basarnas Brigadir Jenderal TNI (Mar) Suprayogi, Rabu, mengatakan itu dalam rapat Koordinasi SAR Daerah di Bandar Lampung, Lampung. Menurut dia, Basarnas membutuhkan bantuan dari instansi terkait agar penanganan bencana lebih optimal.

"Jumlah seluruh personel Basarnas hanya sekitar 3.000 orang yang tersebar di 34 provinsi. Idealnya, minimal harus ada 6.000 personel. Kami mengoptimalkan operasi SAR, dengan menggandeng pihak-pihak lain yang bisa berkontribusi," ujarnya.

Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, memasuki musim hujan ini, ratusan hektar sawah kembali terancam dilanda banjir. Ketua Serikat Petani Indonesia Kabupaten Cirebon Mochammad Zaeni meminta pemda agar segera mencari solusi permasalahan menahun itu.

Sementara Pemkot Cilegon, Banten, membangun tiga penampung air untuk mencegah banjir dengan luas masing-masing 1 hektar. Satu penampung sudah dibangun, satu penampung lain akan selesai dibuat dalam sebulan mendatang, dan sisanya rampung pada 2016. Sekretaris Dinas PU Kota Cilegon Ridwan, Rabu, mengatakan, penampung terletak di Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang; Kelurahan Bulakan, Kecamatan Cibeber; dan Perumahan Metro di Kecamatan Purwakarta.

Dari Semarang, Jawa Tengah, dilaporkan pula, untuk merehabilitasi banjir kanal timur, 4.097 bangunan di kawasan bantaran kanal pengendali banjir itu akan ditiadakan. Rehabilitasi kanal diperlukan untuk mengatasi persoalan banjir dan rob (pasang naik) di timur Kota Semarang, serta penyediaan air bersih yang selama ini belum menjangkau seluruh warga kota.

Kepala Bidang Perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang M Farchan, Rabu, mengatakan, hingga saat ini, Pemkot Semarang masih mengkaji rencana penertiban bangunan-bangunan liar yang ada di bantaran BKT.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juwana, Ni Made Sumiarsih, mengatakan, normalisasi BKT saat ini masih dalam tahap studi kelayakan. Tahun 2016, pihaknya akan mulai menyusun detail engineering design untuk BKT sebelum dilanjutkan dengan pembangunan fisik. (ESA/VIO/IKI/BAY/UTI/ ACI/JUM/NIK)

Sumber: Kompas | 19 November 2015

Berikan komentar.