TRP
Sepuluh Gedung Cagar Budaya Direnovasi
17 November 2015 \\ \\ 648

JAKARTA — Sekurangnya 10 gedung cagar budaya di Kota Tua, Jakarta Barat, direnovasi. Langkah itu sebagai bagian dari upaya konservasi.

Berdasarkan pengamatan Kompas, Jumat (13/11), ke-10 gedung tersebut adalah enam blok gedung milik Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), gedung Dasaat, gedung Olveh van 1879, gedung Kerta Niaga milik PPI di Jalan Pintu Besar Utara, dan Apotek Chung Hwa di Jalan Pintu Besar Selatan.

Gedung Dasaat berdiri beradu punggung dengan Gedung Jasindo yang sudah selesai dipugar. Enam blok gedung cagar budaya PPI terdiri dari Gedung Menara Kembar Cipta Niaga dan gedung sambungannya, gedung Amsterdam Loyd, Rotterdam Loyd, dan gedung G.Kolf. Keenam blok sebagian terletak di Jalan Kalibesar Timur dan Jalan Kunir.

Saat Kompas mengunjungi gedung Olveh van 1879, tampak bagian luar sudah hampir selesai dipugar, sementara bagian dalam masih dalam pengerjaan. Menurut pemerhati Kota Tua, Candrian Attahiyat, gedung asuransi jiwa milik perusahaan Belanda tersebut dibangun pada 1921. Tahun 1961, perusahaan ini dinasionalisasi dan diubah namanya menjadi Perusahaan Asuransi Jiwasraya yang merupakan peleburan dari enam perusahaan asuransi Belanda.

Di sisi kanan gedung tampak ruang bendahara perusahaan. "Saya bisa pastikan karena ada sepetak bangunan bertembok bekas tempat brankas besi," kata Candrian sambil menunjukkan bekas tempat brankas besi tersebut.

Sayang, brankas besi sudah hilang. "Sebelum dipugar, gedung ini menjadi sarang para pemulung. Saya menduga, besi-besi tua, termasuk brankas besi berukuran sedang di sini, dicuri dan dijual mereka. Tak ada yang peduli," kata Candrian.

Dalam perkembangannya, Olveh van 1879 menambah jumlah brankas besi di lantai dua dengan ukuran jauh lebih besar. "Bangunan brankas besi tambahan ini menunjukkan masa keemasan bisnis Olveh van 1879. Di era ini, perusahaan tersebut menjadi salah satu konglomerat asuransi di Batavia," ujar Candrian sambil menunjukkan pintu besi brankas ganda yang masing-masing setebal sekitar 25 sentimeter. Panjang pintu hampir 2 meter, sementara lebarnya 1 meter lebih.

Candrian Attahiyat, yang ditemui terpisah, kemarin mengakui, badan usaha milik negara PPI menjadi penentu perubahan besar lingkungan di Kota Tua. Sebab, sebagian besar gedung cagar budaya di sana milik PPI. "Usaha menghidupkan kembali kawasan ini bergantung pada PPI meski peran PT JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corp) ikut menentukan," tuturnya.

Pelatihan pemugaran

Candrian menjelaskan, Kota Tua Batavia memiliki 248 gedung cagar budaya di atas lahan seluas 334 hektar. Sebagian besar gedung berada di wilayah Jakarta Barat. "Berapa persisnya, saya lupa. Tapi, saya menyimpan datanya," ucap Candrian seusai menutup acara pelatihan memugar bangunan cagar budaya.

Pelatihan yang berlangsung lima hari sejak Senin lalu tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Sebagian besar dari 25 peserta berasal dari dinas kebudayaan dan pariwisata sejumlah provinsi.

Penutupan berlangsung di Kafe Historia di kawasan Taman Fatahillah. Tania (30), pengelola kafe, mengakui, bangunan cagar budaya milik PPI yang ia sewa itu masih akan dipugar oleh UNESCO. "Yang dipugar UNESCO lantai dua," tuturnya.

Tania mengakui, sejak PPI giat memugar bangunan-bangunan cagar budaya mereka, pelanggan Kafe Historia bertambah. "Itu isyarat bahwa kawasan ini mampu dikembangkan sebagai kawasan wisata," ujarnya. (WIN)

Sumber: Kompas | 14 November 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.