TRP
Hujan Tak Halangi Mesin Bor
16 November 2015 \\ \\ 486

150 Bidang Tanah Perlu Segera Dibebaskan untuk Proyek MRT

JAKARTA — Musim hujan tidak mengganggu pengeboran terowongan angkutan massal cepat (MRT). Pompa air sudah disiapkan untuk mencegah genangan di dalam terowongan. Kini, mesin bor kedua bahkan sudah mulai bekerja membuat terowongan jalur MRT sisi timur.

Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah mengatakan, pompa air sudah disiagakan guna mengangkat air hujan yang masuk terowongan. Di lokasi penggalian di bawah patung Pemuda Membangun memang terdapat lubang terbuka yang memungkinkan air langsung masuk terowongan yang berada sekitar 12 meter di bawah tanah.

"Air hujan akan langsung dipompa ke atas dan dibuang ke drainase kota. Air tidak akan masuk ke lokasi mesin bor," kata Hikmat, Kamis (12/11).

Terkait mesin bor kedua, dia mengatakan, saat ini mesin sudah menggali hingga 15 meter. Mesin kedua yang mulai beroperasi Rabu lalu membuat terowongan di sisi timur. Penggalian dengan mesin bor yang dinamai Antareja II ini berkecepatan kurang dari 8 meter per hari karena penggalian di awal terowongan masih rawan.

Sementara mesin bor pertama sudah membuat terowongan sepanjang 280 meter. Laju mesin bor pertama yang dinamai Antareja ini 8-10 meter per hari. Mesin bor pertama akan mencapai Stasiun Bundaran Senayan yang berjarak sekitar 300 meter beberapa hari ke depan.

Dinding terowongan tak hanya dibalut segmen beton, tetapi juga diberi pelapis guna mencegah air tanah merembes masuk terowongan. Panjang terowongan tahap I ini 5,9 km dengan enam stasiun dari Bundaran Senayan hingga Bundaran HI.

Jalur layang

MRT juga memiliki jalur layang sepanjang 9,8 km dengan tujuh stasiun. Jalur ini membentang dari Lebak Bulus hingga Bundaran Senayan. Sekarang, progres pengerjaan jalur layang sudah 21 persen.

Pembebasan lahan masih terus dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Namun, ada pekerjaan yang tetap dilakukan PT MRT Jakarta meski pembebasan lahan belum tuntas.

Sepanjang 2015, baru delapan bidang lahan yang dibebaskan untuk pembangunan MRT. Masih ada 355 bidang lahan belum dibebaskan dari total 615 bidang tanah.

Sebanyak 150 bidang yang prioritas akan dipakai untuk pembangunan stasiun, depo, dan koridor jalan layang.

Asisten Pembangunan Pemerintah Kota Jakarta Selatan Tri Wahyuningdyah mengatakan, pembebasan lahan harus selesai bulan depan. "Batas akhir pembayaran pada 20 Desember 2015. Itu batas akhir pemakaian anggaran tahun ini," katanya saat musyawarah pembebasan lahan di kantor Kecamatan Cilandak, Kamis.

Dalam musyawarah, Tri menyatakan, pembebasan lahan memakai harga appraisal yang nilainya Rp 23 juta-Rp 26 juta per meter persegi. Dari 34 warga yang hadir, sebanyak 28 orang setuju tanahnya dibebaskan.

Sigit (52), salah seorang warga, belum sepakat dengan rencana pembebasan lahan. Menurut dia, pembebasan lahan tidak hanya berkaitan dengan nilai ganti rugi tanah. "Pemprov DKI juga harus mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi dari proyek MRT," kata warga Gandaria Selatan itu.

Menurut Sigit, pembangunan jalur layang di sepanjang Jalan Fatmawati Raya akan menghambat usaha warga yang sudah puluhan tahun berjalan di sana. Dia berharap ada mediasi antara warga dan Gubernur DKI.

Silva (50), warga lain, tak sepakat dengan pembebasan lahan. Selain lahan parkir, sekitar 50 sentimeter bangunan miliknya juga terkena pembangunan MRT. Menurut Silva, omzet turun sejak ada pembangunan MRT.

Dari 150 lahan yang belum bebas, sebanyak 70 lahan kini siap dibebaskan. Pemilik lahan setuju tanahnya dibebaskan.

Sementara itu, untuk mendukung pembangunan MRT, PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) akan memindahkan pipa primer berukuran 1.200 milimeter di Jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan. Pemindahan pipa akan dilakukan Jumat malam ini.

Pasokan air terhenti

Agar pemindahan pipa berjalan baik, pasokan air bersih akan dihentikan Jumat (13/11) mulai pukul 21.00 hingga Sabtu (14/11) pukul 16.00. Kawasan yang terdampak relokasi pipa adalah Menteng Dalam, Manggarai Selatan, Manggarai, Bukit Duri, Tebet Barat, Tebet Timur, Kebon Baru, Petogogan, Pela Mampang, Bangka, Pondok Pinang, Kebayoran Lama Selatan, Kebayoran Lama Utara, dan Kangan Selatan. Selain itu, Ulujami, Cipulir, Grogol Selatan, Sukabumi Selatan, Srengseng, Meruya Selatan, Joglo, Petukangan utara, Selong, Kramat Pela, Melawai, Gunung, Kebayoran Lama Utara, Rawa Barat, Pancoran, Mampang Prapatan, Tegal Parang, Duren Tiga, Bangka, Kalibata, Cikoko, Duren Tiga, Pengadengan, Rawa Jati, Pejaten Timur, dan Lebak Bulus. (DNA/MKN/ART)

Sumber: Kompas | 13 November 2015

Berikan komentar.