TRP
Sungai yang Merindukan Sinergi dan Keramahan Tangan Manusia
16 November 2015 \\ \\ 273

Konservasi Sungai Ciliwung masih belum membuahkan hasil meski sudah banyak komunitas peduli lingkungan yang melaksanakannya. Semua berakar dari belum adanya sinergi antarkomunitas untuk melestarikan Sungai Ciliwung karena baik komunitas maupun pemerintah masih berjalan sendiri-sendiri.

Hal itu mengemuka pada perayaan Hari Ciliwung 2015 yang digelar di kawasan bantaran Ciliwung di Jalan Munggang, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu (11/11). Hadir pada acara itu Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat, Ketua Konsorsium Sungai Indonesia Susilo Adinegoro, dan seniman sekaligus aktivis lingkungan, Ully Sigar Rusady.

Susilo menyampaikan, sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan, termasuk kalangan komunitas lingkungan, duduk bersama mencari solusi mengatasi kerusakan Sungai Ciliwung.

"Negara harus hadir dalam pelestarian lingkungan. Namun, kontribusi dari korporasi untuk menjaga aliran sungai juga menentukan. Sama pentingnya dengan peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan," kata Susilo.

Susilo pun mengungkapkan, perayaan Hari Ciliwung, kemarin, baru dihadiri sebagian komunitas. Padahal, ada banyak komunitas lingkungan di sepanjang bantaran Ciliwung. Di sisi lain, sudah mulai ada perwakilan korporasi hadir di acara itu.

"Padahal, ada banyak komunitas yang benar-benar bekerja melestarikan alam Sungai Ciliwung. Sekarang tinggal bagaimana komunitas-komunitas ini dapat disinergikan," kata Susilo.

Ironisnya lagi, kata Susilo, petugas kebersihan sudah membersihkan dan mengangkut sampah di Sungai Ciliwung. Namun, warga setempat tetap membuang sampah ke sungai. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi kepada warga agar tak membuang sampah ke sungai.

"Edukasi itu bisa dilakukan oleh produsen makanan yang selama ini menggunakan kemasan plastik. Mereka juga bertanggung jawab mengurangi sampah plastik dari produk mereka," katanya.

Djarot Saiful Hidayat mengatakan, untuk meningkatkan sinergi antarkomunitas, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah duduk bersama menyusun peta langkah pelestarian Ciliwung yang akan dijalankan.

Penyusunan peta itu, kata Djarot, sangat penting untuk mencegah terjadinya tumpang tindih pekerjaan antarsesama komunitas. Peta tersebut juga menjadi panduan untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh setiap komunitas.

"Hal terpenting, perlu ada sinergi dari kita semua supaya gerakannya serentak," katanya.

Komunitas yang telah melaksanakan pendataan di kawasan Ciliwung, menurut Djarot, dapat melapor ke Pemerintah Provinsi DKI. Dengan demikian, pemerintah memperoleh masukan yang nyata dari masyarakat.

"Misalkan kekayaan flora dan fauna apa saja yang sudah hilang, itu dapat dilaporkan kepada kami. Seperti bambu dan salak condet, itu pun perlu pelestarian. Untuk itu, kami butuh dukungan masyarakat," ucapnya.

Namun, untuk menghijaukan kawasan bantaran Ciliwung, menurut Djarot, juga bukan hal mudah. Bantaran Ciliwung di Condet, misalnya, bukan hanya dipenuhi sedimen tanah dan lumpur. Saat menanam bibit salak, Djarot menyaksikan tanah bantaran yang digali untuk tanam salak itu dipenuhi lapisan plastik. "Lihat saja permukaannya memang tanah, tetapi saat digali isinya plastik. Ini tak lain sampah di hulu yang terbawa saat banjir," katanya.

Djarot pun mengharapkan agar masyarakat di kawasan hulu juga peduli terhadap pelestarian Ciliwung. Jangan lagi ada egosentris kewilayahan yang akhirnya hanya merugikan masyarakat.

Ully Sigar Rusady mengungkapkan, sekitar 30 tahun lalu Ciliwung masih jernih, tidak seperti sekarang. Bukan isapan jempol jika semua unsur masyarakat peduli dan terlibat menjaganya, Ciliwung akan kembali sehat dan bersih. "Sungai Ciliwung sebagai sumber kehidupan manusia juga merindukan keramahan tangan manusia," katanya. (MADINA NUSRAT)

Sumber: Kompas | 12 November 2015

Berikan komentar.