TRP
Tergagap karena "Mendadak Kota"
16 November 2015 \\ \\ 596

 

Kampung-kampung di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, kini sudah lenyap. Sawah, kebun, dan perkampungan berubah jadi pusat perbelanjaan, pusat konvensi kelas dunia, dan perumahan mewah. Warga dan pemerintah daerah tergagap oleh kampung yang mendadak jadi kota.

Sambil menyeruput kopi dan menjepit rokok, Nurhasan (60) menikmati pemandangan di sebelah rumahnya: truk-truk besar dan ekskavator yang lalu lalang. Petani Desa Cijantra, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, itu tak percaya kampungnya telah berubah total empat bulan terakhir. "Musim kemarau tahun lalu saya masih menanam palawija," ujarnya.

Persawahan telah diratakan dan dikeruk untuk perumahan. Walungan, selokan tempat Nurhasan menyedot air untuk sawahnya, telah ditanggul dan diuruk tanah. Tak ada lagi persawahan.

Rumah Nurhasan dan SD Cijantra II di seberang rumahnya telah dikepung proyek. Sejumlah rumah, kuburan, dan beberapa kampung di kecamatan itu kini terkurung pagar keliling dengan akses yang sempit dan tersembunyi. Mereka yang dulu bertetangga kini terpisah pagar dan jalan penghubung. Warga menyebut kampung yang terkurung itu "pulau-pulau" baru.

Seperti halnya Nurhasan, warga Pagedangan umumnya tak berdaya dengan perubahan pesat kampungnya. Sebab, mereka bukan lagi pemilik tanah. Sebagian bertahan di sisa lahan dan berimpit dengan tetangga lama, sebagian pindah ke wilayah lain, bertemu dengan tetangga-tetangga baru. "Saya mau pindah. Kini tinggal negosiasi saja," kata Nurhasan.

Mayoritas persawahan di Pagedangan telah dibeli pengembang perumahan besar sejak tahun 1980-an. Sebagian lain dijual tahun 1990-an. Namun, pemilik diperkenankan tetap menggarap lahan itu sampai pengembang mulai membangun. Kini, sebagian area perkampungan belum terjual, tetapi seperti tinggal menunggu waktu.

Tak pelak, petani seperti Nurhasan juga kehilangan sumber penghidupan. Dia kebingungan harus bekerja apa karena keterampilan terbatas. Ijazah pun tak mumpuni.

Mukhlas (50), warga Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, menyebutkan, beberapa tetangganya kini bekerja sebagai kuli bangunan dan kuli angkut di proyek-proyek perumahan. Sebagian berdagang, menjadi kuli serabutan dan buruh cuci, tetapi beberapa menganggur kebingungan.

Tersingkir

Kampung Rancagede, Desa Situgadung, di sisi selatan wilayah Pagedangan, Rabu (4/11) siang, seperti desa mati. Senyap. Tak ada orang. Hanya ada reruntuhan bangunan dan sisa bakaran di kanan-kiri jalan yang lengang. Pepohonan telah ditebang, membentuk hamparan luas untuk proyek jalan tol.

Rumah-rumah warga telah ditinggal penghuninya. Sebagian telah dibongkar. Beberapa pabrik kasur dan pengolah sampah berhenti produksi. "Tetangga sudah pada pindah. Saya sekeluarga juga akan pindah, menunggu rumah jadi," kata Eliyu (50), warga kampung itu.

Pindah rumah, bagi Eliyu dan sejumlah tetangganya, hanyalah masalah waktu. Sebab, tanah dan bangunan mereka umumnya telah laku sejak beberapa tahun lalu. Sebagian lahan malah sudah dibeli pengembang pada era 1990-an. Warga pun tersebar. Mereka mencari tanah dan rumah pengganti di luar kampung, desa, atau kecamatan sesuai minat dan kebutuhan masing-masing.

Pagedangan dan daerah sekitarnya seolah tengah mengalami gegar. Kampung dan desa di Pagedangan mengalami loncatan perubahan luar biasa beberapa tahun ini. Sejumlah warga menyebutnya "mendadak jadi kota".

Kampung dengan struktur jalan tak beraturan berubah jadi pusat konvensi berskala internasional, pusat perbelanjaan, dan perumahan mewah dengan infrastruktur kelas satu. Area persawahan dan kebun rambutan berubah jadi jalanan lebar dan mulus, lengkap dengan trotoar lebar serta jaringan listrik, air, dan telepon yang tertata rapi di bawah pengelolaan sejumlah pengembang besar, seperti Sinar Mas, Paramount, dan Summarecon.

Warga kampung tersingkir ke pinggiran. Setelah lahan dan rumah terjual, mereka membeli tanah pengganti, jauh masuk ke perkampungan. Dari Pagedangan, sebagian warga pindah ke Kelapa Dua. Tak sedikit yang menyasar Parung Panjang, Tenjo, atau Maja karena harga tanah relatif masih terjangkau.

Sejumlah kampung pun telah ditinggalkan mayoritas penghuninya. Beberapa kampung di Cijantra bahkan layaknya kampung mati, misalnya Kampung Aren, Kampung Gunung Batu, dan Kampung Baru. Wajah Kampung Sawah dan Kampung Pondok Jengkol di Desa Lengkong Kulon juga telah berubah total.

Sekolah-sekolah berangsur kekurangan siswa. SDN Lengkong Kulon III, misalnya, kini hanya memiliki 18 siswa. Sekolah lain yang bertetangga desa, SDN Cijantra II, terus susut siswanya dari 150 siswa tiga tahun lalu menjadi 96 siswa tahun ini. Sekolah lain juga terancam, seperti SDN Situgadung I dan II, yang kawasan sekitarnya terdesak oleh pengembangan kota.

Menurut Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Kosrudin, fenomena sekolah-sekolah yang kekurangan siswa hanya terjadi di Pagedangan. "Warga baru yang tinggal di perumahan-perumahan baru itu enggan bersekolah di sekolah-sekolah negeri yang ada," ujarnya.

Situasi itu berbeda dengan wilayah lain yang menjadi area pengembangan perumahan kelas menengah bawah di Kabupaten Tangerang. Menurut Kosrudin, sekolah-sekolah yang wilayah sekitarnya dibangun menjadi perumahan sederhana justru kebanjiran siswa.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menambahkan, Pagedangan dulu hanyalah permukiman warga pedesaan yang sepi. Wilayah ini didominasi perkebunan karet dan kelapa.

Sejalan dengan perkembangan, Pagedangan telah berubah. Zaki menyatakan, pihaknya tengah mempertimbangkan peningkatan status administrasi sejumlah desa menjadi kelurahan. "Ada 27 dari 246 desa yang saat ini atmosfernya sudah seperti kota dan akan ditingkatkan menjadi kelurahan," katanya.

Perkembangan kota memang tak terbendung, terus menelan kawasan-kawasan di sekitarnya.... Oleh M Kurniawan dan Pingkan E Dundu

Sumber: Kompas | 10 November 2015

 

Artikel Terkait.
Berikan komentar.