TRP
Longsor Mengancam
16 November 2015 \\ \\ 772

Pergerakan Tanah Mulai Terjadi di Kawasan Perbukitan

SEMARANG — Seiring datangnya musim hujan, bencana tanah longsor pun mengancam. Tanah yang merekah saat kemarau panjang yang terisi air hujan sangat berpotensi jenuh sehingga menyebabkan longsor. Tingkat kerawanan longsor diperkirakan semakin tinggi.

Selain diakibatkan oleh anomali musim, perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai daya dukung turut memengaruhi kerawanan tersebut. Banyak lereng gunung digunakan untuk lahan pertanian semusim.

Di Jawa Tengah, dari 35 kabupaten/kota, 27 di antaranya rawan longsor. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jateng Teguh Dwi Paryono, Senin (9/11), di Kota Semarang, mengatakan, daerah yang rawan longsor masih tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari 27 daerah itu, paling rawan di Banjarnegara, Purbalingga, Wonosobo, dan Karanganyar.

"Memang ada kecenderungan meningkat baik dari sisi frekuensi maupun dimensinya. Tahun 2002, tercatat longsor terjadi di 538 desa di 117 kecamatan. Tahun 2010, longsor terjadi di 2.024 desa di 280 kecamatan. Data terakhir memang belum tercatat seluruhnya, tetapi semakin tinggi," ujarnya.

Pada 2014, kata Teguh, dari sisi frekuensi berkurang, tetapi dimensinya makin luas dan besar. Contohnya, longsor di Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, dengan korban jiwa paling tidak 95 orang.

Pergerakan tanah

Secara terpisah, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Catur Subandrio mengatakan, pergerakan tanah mulai terjadi di beberapa kawasan perbukitan di Banjarnegara sejak hujan deras beberapa hari ini. Kondisi terparah terjadi di Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara. Pergerakan tanah menyebabkan 104 rumah mulai retak-retak. Satu rumah terpaksa dibongkar karena membahayakan penghuninya.

Kepala Desa Kaliajir Arifin mengatakan, rekahan tanah semakin lebar. Warga menutup rekahan itu dengan tanah. Rumah warga mulai rusak dan sewaktu-waktu bisa ambruk.

Pergerakan tanah juga terjadi di Dusun Slimpet, Desa Tlaga, Kecamatan Punggelan. Panjang rekahan tanah mencapai 60 meter dengan lebar maksimal 2 meter dan sedalam sekitar 2 meter.

Koordinator Tim Reaksi Cepat BPBD Banjarnegara Andri Sulistyo mengatakan, rekahan tanah semakin lebar sejak hujan deras mengguyur wilayah perbukitan tersebut. Jika tidak diantisipasi, longsor akibat rekahan tanah itu mengancam 60 rumah yang dihuni sekitar 150 jiwa.

Bencana longsor juga mengancam wilayah Kabupaten Banyumas bagian barat yang didominasi perbukitan. Satu rumah di Dusun Bojong, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, terancam longsor setelah sebagian tebing setinggi 7 meter yang menjadi penahan rumah itu ambrol digerus hujan deras.

Meski banyak daerah rawan longsor, sistem deteksi dini (early warning system) gerakan tanah masih sangat terbatas. Di Jateng, baru ada 28 alat pantau gerakan tanah yang terpasang di daerah- daerah rawan longsor.

Deputi Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tri Budiarto, seusai koordinasi kesiagaan menghadapi bencana di BPBD Jateng, menyebutkan, teknologi sistem deteksi dini memang sangat terbatas, dan bisa rusak. Yang perlu ditekankan, menurut dia, adalah pendidikan kebencanaan pada masyarakat. Banyak kearifan lokal yang sebenarnya lebih kuat dalam mendeteksi terjadinya bencana.

Banjir

Hujan deras di wilayah Kabupaten Aceh tenggara dan Gayo Lues pada hari Kamis (5/11) kembali menyebabkan banjir di Aceh Tenggara. Luapan air Sungai Lawe Alas di Aceh Tenggara pada Jumat (6/11) menggenangi permukiman warga di Desa Kuta Batu, Kecamatan Lawe Alas.

Sebanyak 24 rumah di pinggir sungai hanyut karena tanah di sekitarnya terkikis arus air sungai. Sebanyak 300 rumah lainnya terancam hanyut karena tanah di pinggir sungai terus terkikis air sungai. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

"Debit air Sungai Lawe Alas masih besar hingga kini. Ketinggian airnya pun masih sebatas permukaan jalan," kata Kepala BPBD Aceh Tenggara Ramadhan ketika dihubungi pada hari Senin.

Banjir besar juga berpotensi mengancam wilayah pantura di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ratusan titik tanggul di wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung yang melintasi Kabupaten Cirebon dalam kondisi kritis. Potensi banjir ini kian besar karena kerusakan lingkungan di wilayah hulu dan penumpukan sampah di aliran sungai. (UTI/REK/IKI/DRI/PRA/CHE/SEM/GRE/ZAK)

Sumber: Kompas | 10 November 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.