TRP
Adu Strategi di Jalur Tikus...
09 November 2015 \\ \\ 446

Barisan perbukitan yang gersang mengelilingi Pos Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan milik TNI di Salore, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis, pekan lalu. Musim kemarau tak hanya membuat perbukitan gersang, tetapi juga membuat kering sungai yang memisahkan wilayah Indonesia dan Timor Leste.

"Pada saat seperti inilah, satuan pengamanan perbatasan harus meningkatkan pengawasan. Soalnya, penyelundupan kerap terjadi melalui sungai," tutur Perwira Seksi Intelijen Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Indonesia-Timor Leste, Sektor Timur, dari Batalyon Infanteri 725/Woroagi, Sulawesi Tenggara, Letnan Satu Darul Ulum.

Sungai yang melintas di dekat Pos Salore itu hanya bagian kecil dari sungai yang membentang di sepanjang garis perbatasan Indonesia-Timor Leste di sektor timur, sejauh 149 kilometer. Alur sungai tersebut menjadi pemisah wilayah Indonesia di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, dengan wilayah Timor Leste di Distrik Covalina.

Sama halnya di perbatasan Indonesia-Timor Leste di sektor barat, sepanjang sekitar 120 kilometer. Alur sungai pun dijadikan pembatas kedua wilayah negara, persisnya wilayah Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara di NTT, Indonesia, dengan Distrik Oecussi, Timor Leste.

Setiap kali musim kemarau, sungai sekitar 20 meter di sektor barat ataupun timur itu memang selalu mengering. Kondisi inilah yang kerap dimanfaatkan untuk menyelundupkan barang. Jalur-jalur penyeberangan ilegal melintasi sungai, yang dikenal warga setempat dengan sebutan jalur tikus, pun bermunculan.

Pelintas batas ilegal kedua negara sama-sama bergerilya di jalur tikus. Dari Timor Leste, beras, contohnya, kerap diselundupkan ke NTT karena harga jual beras di NTT lebih mahal. Satu zak beras (50 kilogram) dijual Rp 500.000 di NTT, sedangkan di Timor Leste sekitar Rp 350.000.

Sebaliknya dari NTT, bahan bakar minyak (BBM) jenis premium yang sering kali diselundupkan ke Timor Leste. Ini karena harga jual premium di Timor Leste dua kali lipat daripada harga jual premium di Indonesia.

Mencegah aktivitas para pelintas batas ilegal itu menjadi salah satu tugas Satgas Pamtas. Namun, untuk melakukannya bukan perkara mudah. Tidak ada akses jalan di sepanjang garis perbatasan sehingga personel TNI harus berjalan kaki, naik-turun perbukitan, untuk mengawasi garis perbatasan.

Garis perbatasan di sektor barat diawasi oleh 14 Pos Satgas Pamtas, sedangkan di sektor timur diawasi 20 Pos Satgas Pamtas. Setiap pos dijaga oleh 15 personel TNI. "Karena medannya yang berat, tidak mungkin personel kami bisa mengawasi seluruh garis perbatasan setiap hari," kata perwira Seksi Operasi Satgas Pamtas Indonesia-Timor Leste, Sektor Timur, Letnan Satu Imam Mutaqien.

Kelemahan inilah yang coba dimanfaatkan oleh para penyelundup. Mereka masuk melalui jalur-jalur tikus yang tidak terjaga. Satgas Pamtas berulang kali mencoba menutup pergerakan penyelundup ini dengan mengintai titik-titik yang kerap menjadi jalur tikus. Tak jarang mereka bermalam, berhari-hari di titik itu, untuk menangkap penyelundup.

Berpindah-pindah tempat

Strategi ini kerap berhasil. Namun, kerap kali strategi ini masih kalah dengan taktik yang digunakan penyelundup. "Mereka sering berpindah-pindah tempat, bahkan ditengarai memiliki mata-mata, sehingga operasi pengintaian yang dilakukan Satgas Pamtas sering tak menuai hasil," ujar Darul Ulum.

Kondisi yang tak jauh berbeda terjadi di perbatasan Indonesia-Timor Leste di sektor barat. Komandan Satgas Pamtas Indonesia-Timor Leste, Sektor Barat, dari Batalyon Armed 11/Kostrad, Letnan Kolonel Teguh Tri Prihanto mengatakan, patroli dan pengintaian di jalur tikus sering dilakukan, tetapi belum bisa menghentikan sepenuhnya penyelundupan.

Oleh karena itu, strategi lain kini coba diintensifkan oleh Satgas Pamtas di sektor timur dan barat. Berbagai aktivitas mereka lakukan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat di perbatasan sehingga informasi mengenai perbatasan bisa masuk ke Satgas Pamtas. Selain menggelar sunatan massal, membuat taman bacaan, mengajari anak- anak belajar komputer, menyumbangkan pakaian layak pakai kepada warga, satgas juga ikut membantu mendistribusikan air bersih saat kekeringan.

Bahkan, di sektor timur, Komandan Satgas Pamtas Indonesia-Timor Leste, Sektor Timur, Mayor Nurman Syahreda coba menularkan kemampuannya mengolah jambu mete kepada warga perbatasan di Kabupaten Belu, yang tinggal tidak jauh dari pos mereka. Nurman belajar mengolah jambu mete di tempat tugas sebelumnya, di perbatasan Indonesia-Timor Leste, di Sulawesi Tenggara.

"Saya melihat jambu mete di Belu melimpah. Namun, sayang, hanya dijual mentah sehingga harga jualnya rendah, Rp 13.000 per kilogram. Padahal, kalau diolah, harga jualnya bisa lebih dari Rp 70.000 per kilogram," katanya.

Sejak sebulan lalu, sudah 21 kelompok masyarakat yang dilatih untuk mengolah jambu mete. Mereka dilatih oleh enam pos di sektor timur. "Selama pelatihan ini berjalan, kami juga mencoba mencari pasarnya. Kalau bisa dijual ke Kupang atau ke Surabaya," kata Nurman.

Nurman bersama anggotanya berharap kegiatan pemberdayaan terssebut bisa mengikis perlahan-lahan penyelundupan di perbatasan tersebut.

"Jadi kalau masyarakat di perbatasan sudah berdaya, sejahtera, dan tak lagi miskin, penyelundupan oleh warga bisa berkurang dengan sendirinya," katanya. (A Ponco Anggoro)

Sumber: Kompas | 9 November 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.