TRP
Perumahan Berbenteng
09 November 2015 \\ \\ 412

Pekan ini, sebuah rumah yang ditembok bagian depannya oleh warga sebuah kompleks perumahan ramai diberitakan media massa dan diperbincangkan di berbagai media sosial. Foto rumah yang cukup bagus berlantai dua di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, itu pun tersebar. Bagian depannya tertutup tembok batako buatan warga yang bertujuan menutup akses rumah itu ke arah kompleks.

Persoalan serupa sering terdengar di kawasan-kawasan pinggiran Jakarta. Warga sebuah perumahan di Tangerang Selatan, misalnya, juga pernah menolak pembangunan sebuah jembatan oleh seorang warga yang membangun rumah di seberang perumahan mereka. Jembatan melewati kali kecil yang sudah dibangun itu ditutup berbagai penghalang untuk menutup akses ke permukiman mereka.

Sejalan dengan pembangunan perumahan di berbagai kawasan, kompleks baru bertumbuhan menjadi "komunitas baru" di berbagai kawasan. Para pendatang bukan hanya menjadi warga baru, melainkan juga tumbuh menjadi orang asing di perkampungan lama. Bukan hanya menerakan nama baru pada perumahan mereka, melainkan benteng-benteng tinggi dan gerbang yang dijaga petugas satpam juga secara terang-terangan memisahkan para penghuni perumahan itu dengan warga lama.

Kecenderungan perumahan membentengi diri dengan membuat gerbang yang ketat itu, menurut catatan Kompas, terjadi sejak kerusuhan Mei 1998. Saat itu, warga di berbagai kompleks perumahan membentengi diri dengan berbagai cara: pagar kawat berduri, portal-portal besi, dan benteng masif.

Kerusuhan sosial yang menelan banyak korban nyawa serta harta benda-dan hingga sekarang pelakunya misterius-itu menyisakan kengerian tak terlupakan. Massa atau gerombolan tak dikenal banyak menyerang perumahan-perumahan tertentu, terutama dengan identitas tertentu.

Sejak saat itu, jaminan keamanan 1x24 jam menjadi nilai tambah "jualan" para pengembang. Tingkat kriminalitas yang tinggi juga menjadi alasan bagi para pengembang untuk membentengi perumahannya dan menjamin para konsumennya aman tinggal di dalamnya. Kompleks berbenteng tinggi yang lazim disebut gated community hingga kini tumbuh tak terbendung di mana-mana.

Dalam perkembangannya, benteng-benteng perumahan itu tidak hanya dibangun para pengembang besar. Perumahan-perumahan kecil yang menyebut dirikluster, bahkan hanya dengan 5-10 rumah, pun membentengi diri dengan beton tinggi. Walaupun tujuan benteng perumahan itu untuk keamanan, kesan eksklusivitas penghuninya malah lebih menonjol.

Dari sudut pandang lain, sekilas perumahan-perumahan dengan benteng tersebut bahkan lebih mirip penjara daripada perumahan manusia merdeka. Sikap individualistis manusia kini menambah keterasingan warga di lingkungan sekitarnya.

Pihak pemerintah daerah pun sepertinya tak berdaya atau memang enggan bersikap terhadap fenomena itu. Padahal, ada ancaman kecemburuan sosial yang terasa sekali antara warga di dalam kompleks yangnotabene pendatang dan warga lama. Kesannya, warga perumahan berstatus sosial yang lebih tinggi daripada warga kampung lama.

Sebuah kondisi yang rawan dan mengkhawatirkan.

Sumber: Kompas | 6 November 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.