TRP
Ancaman Kebakaran Masih Membayangi
06 November 2015 \\ \\ 310

JAKARTA — Penataan ruang dan fungsi kawasan rawan bencana mensyaratkan pengambilan kebijakan cepat dan tegas. Tanpa itu, ancaman kebakaran lahan dan hutan diprediksi berlanjut dan lebih besar pada tahun depan.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hariadi Kartodihardjo mengatakan, saat ini 20 juta hektar hutan produksi dan tanaman industri terbengkalai, menjadi area terbuka yang rawan dirambah. Di lahan itu sebaran titik panas banyak ditemukan. ”Harus segera diatasi, jangan terlambat. Kebakaran masih dapat berulang,” ujar Ketua Presidium Dewan Kehutanan Nasional itu, Selasa (3/11), di Jakarta.

Anton Widjaya, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat, menuturkan, izin kebun, hutan tanaman industri, dan pertambangan di Kalbar sudah 19 juta hektar, lebih besar dari luas administrasi Kalbar yang hanya 14,5 juta ha. Tumpang tindih izin minim penataan itu memicu keberulangan kebakaran lahan pada tahun-tahun mendatang.

Untuk memutus rantai tragedi asap diperlukan kebijakan yang berani dan tegas, termasuk menyentuh persoalan regulasi hukum di tataran nasional ataupun daerah, perubahan mendasar cara pandang pertumbuhan ekonomi, hingga penegakan hukum.

Arif Munandar, peneliti Swandiri Institute, memprediksi kabut asap tahun depan lebih parah. Saat ini, realisasi sawit baru 1,5 juta ha, tetapi kabut asap sudah parah. ”Jika target pembukaan kebun sawit 3 juta hektar direalisasikan sepenuhnya, bisa dibayangkan separah apa dampaknya,” kata Arif.

Asap sempat mereda

Setelah diguyur hujan sejak akhir pekan lalu, kabut asap di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan mereda. Di Kota Jambi, jarak pandang sekitar 800 meter pada pukul 06.00, tetapi sore hari kembali di atas 2.000 meter. Hujan juga turun di sejumlah lokasi di Kabupaten Muaro Jambi yang paling banyak terdapat titik panasnya.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Muaro Jambi M Zakir, asap masih mengepul di kawasan taman hutan raya dan lahan warga.

Di Palembang, kabut asap tipis masih menyelimuti. Meski hujan turun, jumlah titik panas yang sempat kurang dari 100 titik sehari kembali menjadi 308 titik.

Jalur pelayaran belum normal. Kerugian sektor pelayaran akibat asap diperkirakan Rp 50 miliar. ”Nilainya dua kali lipat dari kerugian tahun lalu,” ujar Kurmin Halim, Ketua Asosiasi Pemilik Kapal Indonesia (INSA) Sumsel.

Kebakaran gambut di Air Sugihan dan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, juga masih berlangsung. Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel Kolonel Tri Winarno mengatakan, upaya pemadaman terus dilakukan.

Satgas Siaga Bencana Kebakaran Lahan dan Hutan Riau menemukan titik panas besar di Dayun Siak. ”Kebakaran dideteksi Selasa pagi. Helikopter Sikorsky diarahkan ke lokasi untuk pemadaman,” kata Edward Sanger, Kepala BPBD Riau.

Di Jakarta, Presiden Joko Widodo memerintahkan pemetaan lahan gambut yang terdampak kebakaran. Pemetaan dilakukan dua bulan, melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, perintah disampaikan Presiden setelah menerima peneliti Universitas Gadjah Mada. ”Presiden memerintahkan kami dan KLHK melakukan pemetaan detail lahan gambut karena kebakarannya di gambut. Waktunya tidak panjang, sebelum musim hujan ini mudah-mudahan pemetaan dapat diselesaikan,” kata Basuki.

Koordinator Kelompok Kerja Lahan Gambut UGM Azwar Maas mengatakan, banyak kubah gambut dimanfaatkan. Mencegah kebakaran perlu penyelamatan. Caranya, mengembalikan gambut sebagai penyimpan air.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengatakan, penyelamatan gambut tidak bisa ditunda lagi. Enam provinsi (Sumsel, Jambi, Riau, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel) sepakat melarang pembakaran di rawa gambut. KLHK masih mengumpulkan masukan alternatif teknik bakar berbasis kearifan lokal di lahan non-gambut. (NDY/JOG/IRE/ITA/SAH/ESA)

Sumber: Kompas | 4 November 2015

Berikan komentar.