TRP
Ganti Rugi untuk Warga Kurang Rp 7 Miliar
03 November 2015 \\ \\ 353

KEBUMEN — Proses ganti rugi lahan dan tanaman oleh PT Semen Gombong kepada warga di Kecamatan Buayan dan Rowokele, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang tanahnya bakal menjadi lokasi penambangan, dinilai belum tuntas. Warga mengklaim masih ada kekurangan senilai Rp 7 miliar untuk kompensasi berbagai tanaman di atas lahan seluas 32 hektar.

Kepala Desa Sikayu, Kecamatan Buayan, Supriyatin, Minggu (1/11), mengatakan, ganti rugi tanaman itu terjadi sejak 1969 saat perwakilan pihak investor mulai membebaskan lahan untuk pembangunan pabrik semen. Pada 2014, ada pendataan ulang terkait kompensasi tanaman, tetapi belum ada realisasinya.

"Ganti rugi yang harusnya diberikan PT Semen Gombong kepada warga itu total nilainya sekitar Rp 7 miliar. Itu sebagai kompensasi tanaman yang berdiri di atas tanah seluas 32 hektar yang ditanam warga," katanya.

Kompensasi Rp 7 miliar tersebut merupakan hak sekitar 250 keluarga yang tanahnya dibeli oleh investor secara bertahap sejak 1969. Jenis tanaman yang tumbuh di lahan tersebut bermacam-macam, antara lain meranti, jati, mahoni, dan melinjo.

Camat Buayan Sutoyo mengatakan, janji pembayaran kompensasi tanaman tersebut telah dimasukkan ke salah satu pokok pembahasan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang tengah dibahas di Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah. Dia berharap salah satu dari berbagai persoalan rencana eksplorasi area penambangan pabrik PT Semen Gombong di 10 desa tersebut bisa segera diselesaikan.

Dalam kunjungannya ke Kebumen, Kamis (29/10), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan akan memfasilitasi pertemuan antara warga dan pihak investor. Dia berjanji akan membantu realisasi pembayaran kompensasi tersebut.

Rencana pembangunan pabrik PT Semen Gombong, anak perusahaan Medco Group, menunggu penyusunan amdal. Setelah membebaskan sebagian lahan, tahun 1990-an, investor sempat akan memulai pembangunan pabrik. Namun, itu urung terlaksana karena krisis moneter.

Selama ini, sebagian besar warga menentang pembangunan pabrik semen. Mereka beralasan, penambangan batu kapur dan lempung akan merusak 200 goa bawah tanah dan 32 mata air di bentang karst Gombong Selatan.

Peneliti karst Gombong Selatan dari Acintyacunyata Speleological Club, Thomas Suryono, mengatakan, batuan penyusun karst Gombong Selatan merupakan bagian dari Formasi Kalipucang yang berumur miosen (11-25 juta tahun lalu). Berdasarkan susunan batuannya, kawasan ini merupakan tempat terbaik sebagai penyerap dan penyimpan air. Jika ditambang, jutaan meter kubik air yang selama ini terperangkap bakal menjadi air permukaan dan langsung melimpah ke wilayah sekitarnya.

Deputi Direktur Proyek PT Semen Gombong Ahmad Dani mengatakan, penambangan akan dilakukan di luar kawasan bentang alam karst yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Luas areal tambang terdiri dari 99,7 hektar lahan batu gamping dan 74 hektar lahan batu lempung.

Penyusunan dokumen amdal, katanya, telah mengakomodasi masyarakat. Masyarakat di sembilan desa terdampak penambangan dilibatkan, mulai tahap konsultasi publik hingga penilaian dokumen amdal. (GRE)

Sumber: Kompas | 2 November 2015

Berikan komentar.