TRP
DKI Siapkan Rancangan Pengembangan Pulau
03 November 2015 \\ \\ 395

JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempersiapkan tahap awal pengembangan pulau-pulau reklamasi. Pulau O, P, dan Q akan diintegrasikan dengan Pulau N untuk pembangunan Port of Jakarta.

Selama sepekan terakhir, sejumlah pegawai negeri sipil DKI Jakarta dan pakar yang kompeten dalam bidang tersebut telah bertemu dalam forum "Pressure Cooker" Reklamasi Kawasan Pantura dan Integrasi dengan Pelabuhan Tanjung Priok bersama para pakar dari Belanda.

Saat penutupan acara tersebut, Jumat (30/10), Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, pelaksanaan pengembangan Port of Jakarta bisa dilakukan mulai 2016. "Kami mulai membuat desain untuk Pulau O, P, dan Q seharusnya seperti apa agar bisa menjadi Port of Jakarta. Ada ide untuk menggabungkannya dengan Pulau N," katanya.

Pembangunan Port of Jakarta atau Pelabuhan Jakarta ini mencontoh pengembangan Port of Rotterdam yang dilakukan di Belanda. Dalam kunjungannya ke Rotterdam, bulan lalu, Basuki berkesempatan melihat pelabuhan tersebut. Dia merasa pengembangan pelabuhan semacam itu bisa dilakukan di Jakarta untuk mendukung Pelabuhan Tanjung Priok.

Proyek ini, lanjut Basuki, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah melalui mekanisme tahun jamak karena keterbatasan masa jabatan kepala daerah. Pemerintahan Basuki bakal berakhir pada Oktober 2017 sebelum pembangunan Port of Jakarta selesai. Akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan proyek tersebut kepada PT Jakarta Propertindo, salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) DKI Jakarta.

"Nantinya akan ada banyak perusahaan yang bergabung di bawah perusahaan Port of Jakarta. Sudah ada Rabo Bank dari Belanda, juga Pelindo yang akan bergabung. Kami akan buat manajemen aset," ujar Basuki.

Bantuan teknis

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawaty mengatakan, saat ini rencana pengembangan Port of Jakarta masih dalam tahap sangat awal, yaitu menyusun bahan-bahan untuk prastudi kelayakan. Jakarta bisa belajar dari cerita sukses pembangunan Port of Rotterdam tanpa mengulang cerita kegagalan mereka.

"Tim dari Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Belanda yang datang kemari telah berkomitmen untuk memberikan bantuan teknis dalam menyusun konsep awal ini," katanya.

Tuty menambahkan, nilai kasar investasi Port of Jakarta ini terbagi dua sesuai bentuk pulau reklamasi yang akan dikembangkan. Ada skenario pertama, yaitu Pulau O, P, dan Q dibentuk sejajar secara horizontal dengan kedalaman 8 meter di bawah permukaan laut. Nilai investasinya mencapai Rp 62 triliun.

Skenario kedua adalah Pulau O dan Pulau P sejajar, tetapi Pulau Q ditarik ke atas membentuk garis vertikal sehingga bentuknya menyerupai huruf L. Pulau-pulau itu lalu dihubungkan dengan jembatan ke Pulau N yang berbentuk menyerupai huruf E. Nilai investasinya mencapai Rp 134 triliun.

"Luas total pulau mencapai 2.700 hektar. Khusus untuk Pulau Q bagian ujungnya harus berada di kedalaman 16 meter di bawah permukaan laut. Itulah sebabnya nilai investasinya menjadi lebih besar," ujar Tuty.

Setelah forum "Pressure Cooker" ini, lanjut dia, langkah yang akan dilakukan Pemprov DKI Jakarta adalah membuat detailnya. Harus disiapkan aturan untuk pembangunannya, begitu pula perubahan keputusan presiden soal reklamasi menyangkut kedalaman pulau. Rencana tata ruang wilayah yang baru juga harus disiapkan untuk memasukkan bentuk pulau dan koordinatnya.

Investasi akan dilakukan antara BUMD dan swasta. Jika investasi yang dilakukan oleh pihak swasta di pulau reklamasi ini merugi karena tidak bernilai ekonomis, Pemprov DKI Jakarta bisa membeli kembali. (FRO)

Sumber: Kompas | 31 Oktober 2015

Berikan komentar.