TRP
2 Juta Hektar Lahan Terbakar
03 November 2015 \\ \\ 1

JAKARTA — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mengestimasi, luas lahan terbakar di seluruh Indonesia periode 1 Juli hingga 20 Oktober 2015 mencapai 2.089.911 hektar. Luasan lahan itu setara dengan 32 kali luas Provinsi DKI Jakarta, atau empat kali luas Pulau Bali, atau 1,9 juta kali luas lapangan sepak bola.

Estimasi tersebut didapatkan dari analisis data satelit penginderaan jauh selama periode itu. "Kami sudah melakukan verifikasi akurasi dari hasil penelitian ini," kata Kepala Bidang Lingkungan dan Mitigasi Bencana Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Parwati Sofan, Jumat (30/10), di Jakarta.

Kajian memperlihatkan, kebakaran terpantau di wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Jawa, dan Maluku. Lahan terbakar terluas terjadi di Pulau Sumatera, yakni 832.999 hektar, disusul Kalimantan seluas 806.817 hektar, dan Papua seluas 353.191 hektar.

Jika disandingkan dengan peta rawa gambut Kementerian Pertanian, hasilnya 618.574 hektar dari total lebih dari 2 juta hektar lahan terbakar merupakan rawa gambut, sisanya tanah mineral.

Lahan gambut yang terbakar berada di Kalimantan (319.386 hektar), Sumatera (267.974 hektar), dan Papua (31.214 hektar). Meski persentase luasan lebih kecil, kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan dan menimbulkan kabut asap sejak tiga bulan terakhir.

Untuk melihat lebih dekat penanganan kabut asap, Jumat, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Desa Bukit Suban, Air Hitam, Sarolangun, Jambi, untuk bertemu warga Suku Anak Dalam yang tinggal di tenda-tenda darurat di lahan perkebunan sawit.

Di lokasi itu, pemerintah menyiapkan relokasi terpadu bagi sekitar 2.300 warga Suku Anak Dalam yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Langkah itu untuk mengangkat kehidupan Suku Anak Dalam pada taraf yang lebih layak dan tak lagi berpindah.

Warga Suku Anak Dalam bersedia menerima tawaran Presiden, dengan syarat dibangunkan rumah agak berjauhan. Itu agar suatu saat mereka bisa membangun rumah baru bagi anak cucu mereka. Permintaan itu disanggupi Presiden.

Korban bertambah

Akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, korban meninggal bertambah menjadi 14 jiwa. Terakhir adalah bayi berusia 3 bulan 24 hari, Bilfaqih Arka Alteza, yang meninggal setelah didiagnosis menderita infeksi saluran pernapasan akut. Sebelum dirujuk ke rumah sakit di Palembang, Sumatera Selatan, anak ketiga pasangan Erwin Sholeh (34) dan Novi Irma Yulianti (28) itu tinggal di tengah paparan asap pekat sekitar 3 kilometer dari lokasi kebakaran lahan di Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Bilfaqih meninggal pada Kamis malam. Bayi mungil itu menderita pilek, batuk, demam tinggi hingga 40,4 derajat celsius, serta sesak napas sekitar dua pekan. Selama itu, ia dan keluarganya tinggal di asrama perusahaan perkebunan kelapa sawit tempat ayahnya bekerja.

Pembelian pesawat

Demi mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna mengajukan alokasi dana pembelian empat pesawat. Itu dia katakan setelah menghadap Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pesawat yang dinilai cocok dipakai sebagai sarana pemadam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah pesawat Beriev Be-200 buatan Rusia. Jenis itu dipakai memadamkan api di Ogan Komering Ilir, Sumsel.

Di Jakarta, Wapres Jusuf Kalla meminta TNI AU membantu penerapan teknologi modifikasi cuaca hujan buatan di sejumlah tempat. Itu sekaligus memanfaatkan momen pertumbuhan awan kumulonimbus seiring dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah.

"Kami sudah menyiapkan tiga pesawat untuk hujan buatan. Untuk keperluan evakuasi, kami siapkan lima pesawat Hercules dan lima pesawat CN-295," ujar Agus. (JOG/WHY/IRE)

Sumber: Kompas | 31 Oktober 2015

Berikan komentar.