TRP
Rute Alternatif yang Sangat Dibutuhkan Itu Kini Terbengkalai...
03 November 2015 \\ \\ 615

Jalan selebar lebih dari 20 meter itu hingga Kamis (22/10) masih berupa jalan tanah kasar. Mungkin jalan ini belum lama dibentuk setelah pembukaan lahan. Jalan bergelombang, berbatu, dan berlubang. Perjalanan dengan sepeda motor pun terasa penuh perjuangan di ruas tersebut.

Jalan tanah di sudut pedalaman Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu adalah bagian dari Jalur Puncak 2, jalur jalan raya yang dirancang sebagai jalur alternatif dari Jalan Raya Puncak yang sudah sangat padat dan selalu macet.

Ruas jalan yang sudah mulai dibangun itu terletak di kawasan yang sangat terpencil meski dari segi jarak tak sampai 70 kilometer dari pusat Ibu Kota. Hati sempat waswas karena bensin di tangki sudah tipis dan tak ada satu pun rumah penduduk, apalagi warung penjual bensin eceran, di jalan tersebut.

Dalam perjalanan menyusuri jalur itu sepanjang sekitar 15 kilometer (km), kami sempat melewati beberapa huma atau pondok. Sayang, bangunan dari bilik bambu itu kosong. Baru pada 3 kilometer terakhir menjelang ujung aspal di Hambalang, Citeureup, terlihat beberapa warung, tetapi tak satu pun yang menjual bensin eceran.

Baru di warung kelima di tepi jalan aspal di Hambalang, Citeureup, ditemukan penjual bensin.

Terhenti

Jalur Puncak 2 merupakan proyek yang bertujuan memecah beban lalu lintas arah Puncak atau Cipanas di Jalan Raya Puncak dari Simpang Gadog dan Jalan Alternatif Cibubur (Jalan Trans-Yogi) lewat Jonggol dan Tanjungsari. Dua ruas jalan tersebut saat ini sudah didera kemacetan parah.

Jalur Puncak 2 disebut juga Poros Tengah Timur karena bermula di Sentul (tengah) dan tembus di Cipanas (timur). Jalur tersebut akan membentang sepanjang hampir 50 km dengan lebar sekitar 30 meter.

Rute jalan itu membelah kawasan perbukitan tengah dan timur Kabupaten Bogor yang masih lumayan rimbun dengan pepohonan walau sepanjang perjalanan banyak terlihat bukit yang sudah gundul di kanan-kiri jalan.

Proyek tersebut dicanangkan pada 2010 dan ditargetkan selesai sebelum 2015. Namun, hingga Oktober 2015, jalur itu belum juga selesai. Pembangunan baru sampai Cibadak, Sukamakmur, Bogor. Jalan tanah yang selesai dibuka baru sepanjang 18 km dari ujung aspal di Hambalang (Citeureup) sampai Cibadak (Sukamakmur).

Proyek pembangunan ini diperkirakan menghabiskan dana Rp 800 miliar. Sejauh ini, dana yang sudah digunakan untuk pembukaan lahan dan pembangunan jalan tanah sepanjang 18 km itu sudah mencapai Rp 76 miliar. Dana itu berasal dari pemerintah pusat, yakni Rp 36 miliar pada 2012 dan Rp 40 miliar pada 2013.

"Belum ada lagi bantuan dana dari pusat sehingga proyek terhenti," kata Bupati Bogor Nurhayanti saat dimintai konfirmasi, Jumat (23/10).

Untuk pembangunan proyek ini, pemerintah tak mengeluarkan biaya guna pembebasan lahan. Sebab, lahan yang digunakan merupakan hibah dari para pengembang properti. Dari catatan Pemerintah Kabupaten Bogor, luas lahan yang diperlukan proyek itu mencapai 150 hektar.

Nurhayanti mengaku tak bisa memastikan kapan Jalur Puncak 2 bisa diselesaikan.

Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, pernah mengatakan, strategi menangani kemacetan di Jalan Raya Puncak, antara lain, dengan pembangunan Jalan Tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) sehingga orang menuju Bandung tak perlu lewat Bogor dan Cianjur. "Tetapi, pembangunan (tol itu) tak melulu mengatasi masalah," katanya.

Pada akhir pekan, Jalur Puncak masih menjadi neraka macet. Penanganan kemacetan masih tradisional dengan sistem buka tutup. "Jalur Puncak memang rawan macet dan sejauh ini cuma sistem buka tutup yang bisa dilakukan," kata Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Bramastyo Priaji.

Lalu, bagaimana kelanjutan pembangunan Jalur Puncak 2? Semoga saja segera ada perhatian sebelum jalan yang sudah dibangun telanjur hilang tanpa bekas. (Ambrosius Harto)

Sumber: Kompas | 31 Oktober 2015

Berikan komentar.