TRP
Penyusunan Amdal Harus Transparan
03 November 2015 \\ \\ 345

KEBUMEN — Rencana pembangunan pabrik semen di perbukitan kapur atau karst Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dikhawatirkan mengancam puluhan sumber air bawah tanah di wilayah tersebut. Karena itu, dokumen analisis mengenai dampak lingkungan yang tengah disusun harus mempertimbangkan aspek konservasi tersebut.

Wakil Ketua Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong, Lapiyo, Jumat (30/10), mengatakan, warga tetap menolak rencana pembangunan pabrik yang akan menggunakan bahan baku batu kapur dari kawasan pegunungan karst di wilayah mereka tersebut. "Jika gunung-gunung kapur dihancurkan, kami kehilangan sumber mata air," ujarnya.

Lapiyo mengatakan, pegunungan karst Gombong Selatan memiliki 32 mata air yang tidak berhenti mengalir meski musim kemarau. Air dari pegunungan ini menjadi sumber air bersih dan pertanian bagi warga di 11 kecamatan di Kebumen.

Kelanjutan rencana pembangunan pabrik oleh PT Semen Gombong, anak perusahaan Medco Group, kembali mengemuka setelah beberapa tahun terakhir mereda. Hal ini seiring dengan dimulainya sidang pembahasan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) oleh Komisi Amdal yang difasilitasi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan survei Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kebumen, luas sebaran batu gamping di pegunungan karst Gombong Selatan mencapai 5.083,5 hektar. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton semen.

PT Semen Gombong telah membangun kantor di Desa Nogoraji, Kecamatan Buayan, dengan persiapan lahan seluas 50 hektar. Sebagian tanah yang akan ditambang juga telah dibebaskan. Pembangunan pabrik menunggu proses amdal.

Koordinator Masyarakat Karst Gombong Selatan, Supriyanto, mengatakan, kawasan yang akan menjadi lokasi pertambangan merupakan karst yang menyerap air. Ia mencatat, terdapat lebih dari 200 goa di bawah perbukitan karst Gombong Selatan. Goa-goa itu membentuk berbagai jejaring sungai bawah tanah.

Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Kebumen Adi Pandoyo meminta pihak PT Semen Gombong melibatkan semua elemen masyarakat dalam focus group discussion terkait rencana pendirian pabrik. "Semua harus dilibatkan, jangan hanya yang mendukung," katanya.

Pada 1996, ujar Adi, PT Semen Gombong sebenarnya sudah mengantongi dokumen amdal. Namun, karena krisis ekonomi, pembangunan pabrik pun ditunda. Dari dokumen amdal tahun 1996 itu, perbukitan karst di Gombong Selatan akan ditambang hingga 200 tahun ke depan, dengan kapasitas produksi 1,8 juta-2 juta ton per tahun.

Dalam acara temu kepala desa se-Kebumen, Kamis (29/10) malam, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berharap amdal disusun secara transparan. "Saya siap jadi penengah dan memfasilitasi antara warga dan pihak investor PT Semen Gombong sehingga Pemprov Jateng dalam hal ini sebagai wasit," ujarnya. (gre)

Sumber: Kompas | 31 Oktober 2015

Berikan komentar.