TRP
Kawasan Industri Luar Jawa Tak Diminati
30 Oktober 2015 \\ \\ 336

SURABAYA — Kawasan industri di luar Pulau Jawa, terutama di Indonesia timur, masih kesulitan menarik minat para investor meski punya potensi tinggi. Minimnya infrastruktur dasar, seperti jaringan listrik, air, dan akses jalan, menjadi penyebabnya. Padahal, kawasan-kawasan industri di luar Jawa itu harus hidup supaya konsep tol laut dapat berjalan baik.

Hal itu dikatakan Wali Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Rizal Effendi, di sela-sela acara Konferensi Nasional Bisnis Maritim, Kamis (29/10), di Surabaya, Jawa Timur. "Menjadi seperti ini karena pemerintah terlambat membangun infrastrukturnya," katanya.

Menurut Rizal, pemerintah terlambat mengantisipasi daerah-daerah luar Jawa sebagai daerah pendukung Jawa. Sudut pandang bahwa daerah di luar Jawa tidak menjadi prioritas untuk dikembangkan karena pasarnya masih terlalu kecil perlu dikoreksi.

Di Balikpapan, ada kawasan industri Kariangau seluas 3.000 hektar yang belum berjalan optimal. Lahan itu baru digunakan sekitar 30 persennya, dan ada pembangkit listrik 2 x 100 mega- watt. "Ini masih tantangan besar karena listrik juga masih kurang. Masalahnya, sekarang ini, masih susah menggiring para investor untuk masuk," kata Rizal.

Direktur Utama PT Pelindo III Djarwo Surjanto mengatakan, yang perlu dilakukan untuk mengembangkan kawasan industri adalah menjual pelayanan yang baik. Kawasan industri itu harus memiliki nilai tambah supaya investor tertarik dan mau menanamkan modalnya.

Pemikiran mengenai pengembangan kawasan industri yang modern itu direalisasikan dengan membangun Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) atau kawasan industri, pelabuhan, dan perumahan yang terpadu di wilayah Manyar, Gresik, Jatim. Investor ditawari nilai tambah berupa kawasan industri yang menyatu dengan pelabuhan sekaligus dilengkapi fasilitas perumahan untuk para pekerja.

JIIPE diklaim sebagai kawasan industri dan pelabuhan terintegrasi pertama di Indonesia. Luas kawasan ini 2.933 hektar yang terdiri dari 765 hektar untuk permukiman, 1.761 hektar untuk industri, dan 406 hektar untuk pelabuhan. JIIPE ditargetkan beroperasi pada 2017.

Kepala Subdirektorat Infrastruktur Transportasi Laut, Udara, dan Infrastruktur Lainnya, Direktorat Perencanaan Infrastruktur Badan Koordinasi Penanaman Modal Benny Sutatag mengatakan, pemerintah sudah memberikan sejumlah insentif, seperti keringanan pajak, untuk menarik minat investor.

"Kawasan timur juga sudah diprioritaskan untuk pembangunan proyek-proyek baru," katanya.

Terkait rendahnya minat investor yang masuk ke kawasan industri di luar Jawa, Benny mengatakan, pihaknya mencoba mengatasi hal itu dengan menggencarkan promosi. Proyek-proyek yang sudah siap di daerah mulai ikut dipromosikan sampai ke luar negeri dalam berbagai kesempatan. (den)

Sumber: Kompas | 30 Oktober 2015

Berikan komentar.