TRP
Butuh "Taman Monas" Lain
30 Oktober 2015 \\ \\ 597

Para peserta Mandiri Jakarta Marathon 2015 tidak mudah menemukan pintu masuk ke race central, Minggu (25/10) subuh. Selain masih gelap, juga karena memang minim petunjuk. Banyak di antara mereka mengikuti ke mana arus manusia mengalir di antara pagar-pagar pembatas.

Lokasi garis start dan finis hajatan maraton di ibu kota negara itu berada di salah satu jalan masuk Taman Monas. Tetapi, jika sekitar 15.000 peserta masuk secara bersamaan ke lokasi tentu bukan perkara mudah. Apalagi bagi mereka yang terlambat datang karena kesulitan mencari tempat parkir.

Catatan ini bukan tentang bagaimana peserta Jakarta Marathon 2015 yang katanya berstandar internasional itu didera panas terik Jakarta lalu kehabisan air mineral karena panitia lebih banyak menyediakan air isotonik. Juga bukan kabar tentang banyak yang menyelesaikan maraton tetapi tak kebagian kaus penamat (finisher tee) karena panitia kehabisan stok kaus.

Sepanjang Minggu siang itu, Taman Monas yang dibangun 54 tahun lalu ibarat lokasi tumplek blek semua jenis kegiatan. Sebuah panggung hiburan dibangun di sekitar race central, menambah sumpek suasana. Tak ayal lagi, peserta Jakarta Marathon dan ribuan warga Ibu Kota menginjak rumput-rumput taman yang kini mengering.

Untuk mencapai lokasi yang mereka tuju, pintu keluar, panggung hiburan, atau area pameran, mereka tak segan-segan menarik pagar kabel baja di taman itu. Selepas hajatan tersebut, penyelenggara dan pihak pengelola kawasan Monas harus bekerja keras merapikan kembali taman yang dedel duwel.

Bung Karno saat menggagas pembangunan taman itu mungkin tak membayangkan lokasi itu didatangi 15.000 pelari dan ribuan penggembira lainnya. Warga Jakarta-dan Indonesia- tentu saja bangga terhadap taman dengan monumen setinggi 132 meter dengan mahkota ornamen tugu lidah api berlapis emas tersebut. Seperti banyak diceritakan, pada awalnya, presiden pertama Indonesia itu ingin membangun monumen yang setara Menara Eiffel di Paris, tepat di depan Istana Merdeka.

Taman yang telah lima kali berganti nama itu-Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas-itu terbukti menjadi ikon Ibu Kota. Tetapi, Jakarta butuh taman lain untuk kegiatan warganya. Warga Jakarta pantas prihatin juga bagaimana sebuah kota sekelas Jakarta masih terbatas memiliki pusat-pusat kegiatan yang layak menampung ribuan warga.

Selain di Taman Monas, pusat kegiatan warga lainnya adalah Gelora Bung Karno (GBK) di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Fasilitas yang awalnya dibangun untuk segala pusat kegiatan olahraga itu pun kini secara kreatif menjadi lokasi berbagai kegiatan lain. Kawasan Senayan kini menjadi pusat kegiatan berbagai pameran apa saja. Walau sudah disediakan pusat pameran, seperti di Jakarta Convention Center, berbagai pameran dan berbagai kegiatan juga biasa diselenggarakan di kawasan-kawasan sekitar GBK.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saatnya mengarahkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan ribuan warga tidak melulu berpusat di Taman Monas. Oleh Agus Hermawan

Sumber: Kompas | 30 Oktober 2015

Berikan komentar.