TRP
Jejaring Kota-Kabupaten Kreatif Dibentuk
26 Oktober 2015 \\ \\ 271

Upaya Mendorong Lompatan Kesejahteraan Masyarakat

SOLO — Konferensi Kota Kreatif Indonesia menghasilkan kesepakatan dan komitmen membangun jejaring kota kreatif di Indonesia secara formal dan terorganisasi. Jejaring kota-kabupaten kreatif dibentuk untuk mendorong lompatan kesejahteraan masyarakat melalui beragam gerakan kreatif dan inovatif.

Demikian antara lain hasil Konferensi Kota Kreatif Indonesia (Indonesia Creative Cities Conference/ICCC) di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).

"Dengan menjadi kota-kabupaten kreatif, kota-kabupaten akan bisa memberikan kesejahteraan lebih cepat," ujar Ramalis Sobandi, fasilitator ICCC, saat menyampaikan hasil konferensi di Solo.

Ramalis menyatakan, Konferensi Kota Kreatif Indonesia 2015 di Solo yang dihadiri 51 kabupaten/kota sepakat membangun jejaring kota kreatif secara formal dan terorganisasi. Sebagai embrio awal, telah disusun formatur guna menyusun kepengurusan jejaring kota-kabupaten kreatif Indonesia itu. Organisasi ini bersifat independen yang bekerja sebagai mitra pemerintah dan pemangku kepentingan di tingkat nasional dan global.

Untuk bisa berdiri sebagai organisasi resmi yang berbadan hukum dengan nama "Indonesia", ujar Ramalis, dibutuhkan setidaknya 225 kabupaten/kota yang bergabung. Oleh karena itu, disepakati bersama dalam konferensi berikutnya yang bakal digelar di Malang, Jawa Timur, April 2016, mereka akan menggandeng lebih banyak kabupaten/kota lain untuk bergabung.

"Itu target yang harus dikejar untuk pertemuan berikutnya," katanya.

Dalam konferensi kota kreatif di Solo, kemarin, juga dihasilkan sejumlah kebijakan, antara lain penguatan jejaring kota-kabupaten kreatif dengan melibatkan semua potensi pemangku kepentingan. Selain itu, jejaring kota-kabupaten kreatif di Indonesia secara bersama-sama mendorong kerja sama dan kolaborasi antar-pemangku kepentingan, serta kota-kabupaten untuk terbentuknya pasar yang terbuka, tepercaya, dan menyejahterakan para pelakunya.

Wadah saling belajar

Gustaff Hariman Iskandar, salah satu pendiri Bandung Creative City Forum (BCCF) mengatakan, jejaring ini juga akan menjadi wadah saling belajar antara setiap kabupaten dan kota. Dalam interaksinya, diharapkan setiap kabupaten dan kota bisa menemukan potensi daerah yang dapat digali menjadi keunggulan dan ciri khas.

"Tidak menduplikasi, tetapi saling memberi dan mengambil inspirasi. Ini yang akan ditumbuhkan sehingga setiap daerah bisa mengoptimalkan potensi-potensi di daerahnya," ujar Gustaff.

Sementara itu, Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Ekonomi Kawasan Kementerian Koordinator Perekonomian Mira Tayyiba mengungkapkan, komitmen dari pemerintah dibutuhkan di setiap lini, mulai dari daerah hingga tingkat pusat, untuk mengawal keberpihakan terhadap pengembangan ekonomi kreatif.

Ia mengakui kecenderungan yang terjadi selama ini, setiap pergantian posisi pemangku kebijakan akan mengubah program yang telah digulirkan sebelumnya. Padahal, ekonomi kreatif butuh pertumbuhan yang berkelanjutan. Ini yang harus dipahami dan menjadi pegangan bagi semua pemangku kepentingan di sektor pemerintah.

Dalam rangkaian ICCC kemarin, juga diberikan Solo Creative City Network Award yang dibagi dalam enam kategori. Keenam penghargaan tersebut dianugerahkan kepada insan yang dinilai menjadi figur kreatif dan menginspirasi.

Penghargaan Lifetime Achievement Award dianugerahkan kepada almarhum Gesang (musikus pencipta lagu "Bengawan Solo"), almarhum Go Tik Swan (sastrawan dan budayawan Solo), almarhum Priyo Hadi Sutanto (pengusaha). Inspiring Creative Figure diberikan kepada Waldjinah (penyanyi keroncong), Eko Supriyanto (penari), dan Sabar Gorky (pendaki penyandang tunadaksa). (RWN/GRE)

Sumber: Kompas | 25 Oktober 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.