TRP
Warga Pluit Tolak Jalan Layang
26 Oktober 2015 \\ \\ 4

Pemerintah: Pembangunan Bertujuan Menambah Akses Jalan

JAKARTA — Puluhan warga dari sejumlah rukun warga di Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, menolak rencana pembangunan jalan layang di dekat tempat tinggal mereka. Pembangunan jalan yang mengambil sempadan tanggul sungai itu dikhawatirkan berdampak buruk.

Dengan membawa berbagai spanduk penolakan, warga yang mengatasnamakan Forum Warga Pluit ini menggelar unjuk rasa di Jalan Pluit Barat Raya, Muara karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (24/10). Aksi tersebut sempat membuat kemacetan di sejumlah ruas jalan.

Warga juga sempat mendatangi aktivitas pengerjaan penguatan tanggul di sisi timur Kali Karang, Pluit. Di tempat tersebut sejumlah pekerja dengan menggunakan alat berat sedang memasang turap (sheet pile).

"Pengerjaan ini informasinya untuk pembangunan jalan layang tersebut. Sejauh ini tidak pernah ada pemberitahuan kepada warga. Makanya, aksi ini kami lakukan karena sudah tak punya pilihan lain. Bahkan, sosialisasi dari pelaksana juga tak pernah dilakukan, lalu tiba-tiba ada pengerjaan," kata Jimmy (60), warga RW 012 Pluit.

Kenan Wijaya, warga lainnya, menuturkan, kondisi tanggul ini sudah lebih tinggi daripada perumahan warga. Dengan lebar kali sekitar 30 meter dan permukaan air sungai yang lebih tinggi dari kawasan permukiman warga, tanggul tersebut berperan sangat penting. Akan tetapi, lanjut Kenan, pembangunan jalan layang mengambil sebagian penampang tanggul tersebut.

Menurut dia, hal ini yang tidak diperhatikan oleh pemerintah juga pengembang. Dampak buruk dari pembangunan jalan layang tersebut tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga sosial karena sangat berbahaya apabila tanggul sampai jebol. "Menurut saya, ini proyek eksekutif tidak untuk warga," kata Kenan.

Koordinator warga, William, mengatakan, selain sosialisasi, jalur jalan layang itu tidak menguntungkan warga. Sebab, untuk menggunakannya nanti, warga harus memutar terlebih dahulu.

Terlepas dari hal itu, tambah William, aspek lingkungan adalah yang terpenting. Apalagi jika merujuk pada aturan yang berlaku, pembangunan tidak boleh mengurangi sempadan tanggul.

"Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang penggunaan tanah. Juga dalam PP Nomor 38 Tahun 2011 tentang sungai. (Pembangunan ini) juga tidak ada dalam rencana tata ruang daerah. Jadi, kami mohon kepada pemerintah untuk membatalkan pembangunan jalan layang ini. Karena membahayakan kami dan hanya menguntungkan pengembang," kata William.

Sejauh ini, tambahnya, telah sekitar satu tahun warga menginginkan penjelasan dari instansi dan pihak terkait. Perwakilan warga telah bersurat, baik kepada pengembang maupun kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tetapi tidak ada tanggapan.

Menambah akses jalan

Jalan layang ini, menurut rencana, dibangun di sisi timur Kali Karang. Menurut Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faizal, Sabtu, jalan layang ini dimaksudkan untuk menambah akses jalan di wilayah Pluit ini. Diharapkan, kemacetan bisa berkurang nantinya.

Dalam pembangunannya, jalan layang nontol ini akan mengikuti jalur kali, dengan panjang sekitar 1 kilometer. Jalan layang ini menghubungkan antara Jalan Pluit Utara Raya dan Jalan Pluit Selatan Raya.

"Jalan layang Muara Karang ini dimulai dari jembatan di dekat PLTU Muara karang, ke dekat simpang Tol Pluit, jadi bukan dari Pulau G (pulau reklamasi). Saat ini memang dalam persiapan pembangunan, yaitu dengan penguatan tanggul," kata Yusmada.

Dia menambahkan, penguatan tanggul dengan metode turapdimaksudkan agar tanggul semakin tahan. Di sebelah tanggul itu nantinya akan berdiri satu pilar jalan layang yang bisa mengakomodasi hingga tiga lajur jalan.

Terkait kekhawatiran soal dampak proyek itu, Yusmada mengatakan, berbagai risiko itu sudah dipertimbangkan dengan penguatan tanggul saat ini. "Pembangunan jalan layang itu telah sesuai aturan. Pembangunan jalan layang masuk dalam trase jalan yang pembangunannya berasal dari dana CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) pengembang Pulau G, yaitu PT Muara Wisesa Samudra," ujarnya.

Assistant Vice President Public Relation and General Affairs PT Muara Wisesa Samudra Pramono, saat dihubungi belum mau berkomentar. "Saya belum mau tanya-jawab terlebih dahulu. Saya saat ini sedang ada urusan," kata Pramono, kemarin. (JAL)

Sumber: Kompas | 25 Oktober 2015

Berikan komentar.