TRP
Urbanisasi Menjadi Pilar
22 Oktober 2015 \\ \\ 405

Partisipasi Warga Perlu Dioptimalkan dan Menjadi Komponen Penting Pembangunan

JAKARTA — Urbanisasi tak bisa lagi dianggap sebagai masalah. Melalui proses urbanisasi, suatu tempat tumbuh menjadi kota dengan kemajemukannya. Kota menjadi berdaya karena memperoleh sumber daya manusia lewat urbanisasi. Pembangunan kota pun tak lepas dari urbanisasi.

Urbanisasi sebagai elemen pembangunan kota itu dipilih menjadi agenda utama pembahasan dalam Agenda Baru Perkotaan atau The New Urban Agenda yang akan dibawa ke Konferensi Tingkat Tinggi United Nations Habitat III di Quito, Ekuador, 2016 mendatang. Pemilihan tema itu merupakan hasil dari sejumlah diskusi dalam Asia Pacific Urban Forum (APUF) ke-6 yang berlangsung di Jakarta dari 19 Oktober hingga ditutup pada Rabu (21/10).

Pemilihan isu urbanisasi itu disampaikan Sekretaris Jenderal Habitat III Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Joan Clos pada pembukaan Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Pasifik, beberapa saat setelah APUF 2015 ditutup. Pertemuan tingkat tinggi itu dihadiri perwakilan dari 27 negara Asia Pasifik dan akan berlangsung hingga 22 Oktober.

Baik APUF maupun Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Pasifik itu merupakan rangkaian proses penyusunan agenda baru pembangunan Asia Pasifik yang akan dibahas di UN Habitat III.

Clos menyampaikan, urbanisasi sebagai agenda baru perkotaan merupakan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG), agenda pembangunan dunia hingga 2030 yang disepakati PBB. SDG merupakan kelanjutan dari agenda Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goal/MDG) yang baru selesai.

"Sekarang kita susun kembali agenda pembangunan untuk 15 tahun ke depan lewat SDG. Dalam hal ini, urbanisasi menjadi salah satu pilar pembangunan," katanya.

Menurut Clos, proses pertumbuhan kota di Asia menunjukkan hubungan yang akrab antara urbanisasi dan pembangunan kota. Pertumbuhan kota-kota di Tiongkok, misalnya, sangat terkait dengan urbanisasi. Demikian pula kota-kota di Jepang yang tumbuh setelah Perang Dunia II juga tak lepas dari urbanisasi.

Dianggap masalah

Selama ini, urbanisasi masih dianggap sebagai masalah sehingga tak pernah dimasukkan dalam elemen pembangunan kota. Pembangunan kota pun lebih memperhitungkan pembangunan infrastruktur, energi, dan pendidikan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Kalau para ahli atau pemerintah ditanya lagi elemen apa lagi yang diperhitungkan dalam pembangunan kota, barulah muncul urbanisasi. Namun, itu pun menjadi elemen paling terakhir dan kurang diperhitungkan," ujar pejabat PBB asal Spanyol ini.

Padahal, lanjut dia, urbanisasi mengubah konstruksi masyarakat dan membuka lahan pembangunan. Pasalnya, urbanisasi adalah cara manusia untuk memperoleh pengetahuan dan melalui akumulasi pengetahuan itu manusia bisa berkontribusi pada pembangunan kota. "Namun, kontribusi urbanisasi terhadap pembangunan kota ini tak pernah diperhatikan," katanya.

Menengok ke dalam negeri, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, yang turut hadir dalam pembukaan Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Pasifik, menyampaikan, saat ini 54 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. Hal itu terjadi karena ada kesenjangan pembangunan dan ekonomi antara kota dan desa.

Oleh karena itu, kata Rizal, kini pemerintah lebih banyak mengalokasikan pembangunan di luar Pulau Jawa untuk imbangi pembangunan yang selama ini bertumpu di Jawa, termasuk membangun kota-kota di luar Jawa.

"Kami yakin Jawa sudah lebih mampu membiayai daerahnya sendiri. Pembiayaan itu bisa ditempuh dengan menggandeng sektor swasta. Jakarta, misalnya, memiliki pendapatan daerah yang tinggi sekali," ucapnya.

Namun, Indonesia sebagai negara kepulauan dan dengan etnis yang beragam, lanjut Rizal, juga menjadi tantangan bagi pemerintah. Oleh karena itu, model pembangunan yang dijalankan di setiap daerah di Indonesia tak bisa diseragamkan.

"Kita tak bisa menggunakan satu solusi untuk semua kota di Indonesia. Perbedaan budaya dan geografi sangat besar. Satu obat untuk semua daerah hanya menciptakan kesenjangan yang besar," kata Rizal.

Direktur Program Studi Pembangunan University of the South Pacific di Fiji Profesor Vijay Naidu menilai, urbanisasi semestinya dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan sebuah kota. Salah satunya dengan mengoptimalkan partisipasi warga yang menjadi komponen terpenting dalam pembangunan. Dengan demikian, aspirasi semua warga bisa diserap dan tidak ada yang merasa ditinggalkan. (MDN/ILO)

Sumber: Kompas | 22 Oktober 2015

Berikan komentar.