TRP
Perjalanan KRL Ditambah
22 Oktober 2015 \\ \\ 331

Pembebasan Lahan untuk Stasiun MRT Tersendat

JAKARTA — Untuk menambah kapasitas angkut, PT KAI Commuter Jabodetabek menambah 98 perjalanan KRL pada akhir tahun ini. Sebagian besar tambahan perjalanan KRL dilakukan di luar jam puncak. Penambahan jumlah perjalanan ini diharapkan bisa meningkatkan penggunaan KRL sebagai moda angkutan komuter di Jabodetabek.

Direktur Utama PT KCJ MN Fadhila mengatakan, perjalanan KRL ditargetkan menjadi 982 kali per hari pada Desember nanti. Saat ini, jumlah perjalanan 884 kali per hari. "Penambahan perjalanan KRL akan dilakukan di semua lintasan. Kami akan mengisi slot perjalanan yang sudah disetujui Kementerian Perhubungan," katanya, Rabu (21/10).

Di lintas Bogor, sebenarnya perjalanan KRL sudah jenuh karena jarak antarkereta pada jam sibuk sudah 5 menit. Selama keberadaan pelintasan sebidang tak diselesaikan, penambahan perjalanan KRL pada jam sibuk berpotensi mengganggu perjalanan kereta.

Sementara itu, penumpang KRL di lintas Bogor tersebar merata sepanjang hari. Pagi hari, kereta dari Jakarta tujuan Bogor juga tetap ramai. Sebaliknya, pada malam hari, kereta dari Bogor tujuan Jakarta juga ramai.

Di lintas Bekasi, perjalanan KA dipadati perjalanan KRL, KA penumpang jarak jauh, dan KA barang. Jika elektrifikasi jalur selesai diperpanjang hingga Stasiun Cikarang, ada potensi penambahan lebih banyak lagi perjalanan KRL di lintas ini.

Selain itu, pembangunan jalur rel dwiganda Manggarai-Cikarang juga menjadi kunci penting peningkatan jumlah perjalanan KRL di lintas ini. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan pembangunan jalur rel dwiganda ini rampung 2018.

Untuk 2016, menurut Fadhila, belum ada rencana penambahan perjalanan KRL. Sebab, sepanjang tahun itu ada beberapa pekerjaan fisik yang besar, seperti perbaikan Stasiun Manggarai oleh Kemenhub. Pekerjaan fisik di stasiun ini bakal mempersempit gerak penumpang. Sementara luas peron saat ini sudah penuh sesak pada jam sibuk.

"Kalau ada penambahan perjalanan, kemungkinan baru bisa direalisasikan akhir 2016, yakni menjadi 1.000 perjalanan per hari," katanya.

Masih terkait KRL, pembangunan Stasiun Lawang Taleus di Sukaresmi, Tanah Sareal, Bogor, yang dicanangkan sejak 2013 belum terwujud hingga kini. Pemerintah Kota Bogor sudah membangun akses baru, yakni dari Jalan KH Sholeh Iskandar ke Jalan Tugu Wates, lokasi stasiun baru. Namun, pembebasan lahan untuk stasiun itu belum selesai.

Padahal, stasiun baru diperlukan untuk parkir KRL, memecah kepadatan penumpang di Stasiun Bogor dan Cilebut, serta terpadu dengan terminal sehingga memudahkan pergerakan warga.

Subsidi KRL

Sepanjang 2016, diperkirakan rata-rata penumpang KRL mencapai 850.000 pengguna per hari atau naik dari rata-rata 800.000 penumpang per hari saat ini. Untuk tahun depan, pemerintah pusat sudah mengalokasikan subsidi (public service obligation/PSO) Rp 1 triliun bagi penumpang KRL. Subsidi ini, menurut Fadhila, diperkirakan cukup.

Sementara PSO KRL untuk 19 November-31 Desember 2015 masih menunggu kepastian dari Kementerian Keuangan. Tanpa PSO, tarif KRL bisa dua kali lipat dari tarif saat ini.

Ari Husnul Kotimah (39), warga Bogor, setiap hari harus mengeluarkan ongkos untuk KRL Rp 5.000 sekali perjalanan ditambah ongkos dua kali naik angkutan umum Rp 7.000 dari rumahnya menuju tempat kerjanya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Total pengeluaran transportasi sehari mencapai Rp 24.000 untuk pergi-pulang.

"Kalau tarif naik jadi Rp 11.000 sekali jalan, tentu berat sekali buat saya. Untuk pergi pulang Bogor-Jakarta jadi Rp 22.000. Belum lagi angkot Rp 14.000 pergi-pulang. Pengeluaran jadi makin besar," tuturnya.

Dengan penghasilan sebesar upah minimum Provinsi DKI Jakarta, yakni Rp 2,7 juta per bulan, saat ini lebih dari 20 persen penghasilan Ari habis untuk biaya transportasi. Jika tarif KRL naik, sekitar 31 persen penghasilannya akan tersedot hanya untuk transportasi.

Dia berharap, jika tarif naik, pelayanan KRL harus lebih baik lagi. Dia menyesalkan seringnya kereta yang ditumpanginya tertahan menjelang Stasiun Manggarai dan Stasiun Gondangdia.

Stasiun MRT

Terkait pembangunan angkutan massal cepat (MRT), sebagian besar lahan yang akan dipakai untuk pembangunan stasiun MRT di Jakarta Selatan belum dibebaskan. Dari 30 bidang lahan untuk pembangunan Stasiun Blok A, misalnya, baru empat bidang yang sudah dibebaskan. Pedagang yang menempati Pasar Blok A juga belum direlokasi.

Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Pulo, Mansyur, Rabu, mengatakan, total lahan yang perlu dibebaskan di wilayahnya mencapai 100 bidang. Sebanyak 62 bidang lahan belum dibebaskan. "Salah satu bidang lahan dimiliki oleh 10 orang. Koordinator pemilik lahan setuju dengan rencana pembebasan lahan. Saat ini sedang pengumpulan berkas," katanya.

Menurut dia, masih banyak pemilik lahan yang meminta nilai pembebasan lebih tinggi dari nilai appraisal Rp 40 juta-Rp 50 juta per meter persegi. Selain itu, warga juga khawatir usahanya terganggu karena akses ditutup untuk pembangunan MRT.

Pembebasan lahan diperlukan untuk membangun Stasiun    Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja.

Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi mengatakan, dari total 613 bidang lahan yang diperlukan untuk pembangunan MRT, 370 bidang di antaranya sudah dibebaskan.

Corporate Secretary PT MRT Jakarta Hikmat mengatakan, pembangunan stasiun-stasiun MRT tak bisa dilakukan jika lahan belum bebas. Meski demikian, pembangunan MRT secara keseluruhan tetap berlanjut meski pembebasan lahan belum tuntas. "Kami mendahulukan pembangunan koridor di lahan yang sudah bebas," ujarnya.

Pekerjaan fisik yang tampak saat ini, antara lain, pembangunan depo MRT di Lebak Bulus, pembangunan jalur layang di ruas Lebak Bulus-Fatmawati, serta pengeboran terowongan dan stasiun bawah tanah di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. (BRO/FRO/ART/DNA)

Sumber: Kompas | 22 Oktober 2015

Berikan komentar.