TRP
Lingkar Timur-Selatan Solo Dirancang
22 Oktober 2015 \\ \\ 696

SOLO — Kementerian Pekerjaan Umum melalui Satuan Kerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V merancang Jalan Lingkar Timur-Selatan Solo. Jalan lingkar ini diharapkan dapat mengatasi padatnya arus kendaraan angkutan barang di dalam Kota Solo yang sering memicu kemacetan lalu lintas.

"Kebutuhan Jalan Lingkar Timur-Selatan untuk mendukung transportasi di wilayah Surakarta mendesak karena tingginya volume arus kendaraan di dalam kota," kata Kepala Seksi Perencanaan Teknis dan Lingkungan, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nowo Tri Prajoko di Solo, Jawa tengah, Selasa (20/10).

Dia mengatakan, pra-studi kelayakan Jalan Lingkar Timur-Selatan Solo telah dilakukan oleh konsultan. Berdasarkan pra-studi kelayakan, ada tiga rute alternatif Jalan Lingkar Timur-Selatan Solo. Alternatif pertama, Jalan Lingkar Dalam dengan panjang 19,5 kilometer. Rute ini dimulai dari Jalan Solo-Yogyakarta Kilometer 12,2 ke timur hingga di daerah Grogol, Kabupaten Sukoharjo, kemudian berbelok ke utara dan berakhir di Jurug perbatasan Solo-Karanganyar.

Alternatif kedua, Jalan Lingkar Tengah sepanjang 20,7 km. Jalan ini dimulai dari Jalan Raya Solo-Yogyakarta Km 12,8 ke arah timur hingga daerah Grogol, kemudian berbelok ke utara hingga Palur, Sukoharjo. Alternatif ketiga, sepanjang 26,3 km dimulai dari Jalan Raya Solo-Yogyakarta Km 15,8-Grogol-Simpang Sroyo, Karanganyar, sehingga menyambung Jalan Lingkar Utara Solo.

Alternatif ketiga dinilai paling baik karena lebih sedikit bersinggungan dengan perumahan penduduk sehingga pembebasan tanah lebih mudah. Jalan lingkar dirancang memiliki empat lajur untuk kendaraan angkut berat dengan lebar total 40 meter.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Solo Raya Budi Yulianto mengatakan, keberadaan Jalan Lingkar Timur-Selatan Solo sangat dibutuhkan. Saat ini, jalan utama dalam kota banyak dilintasi kendaraan angkut besar dengan berat 30 ton lebih.

Kendaraan angkut besar dari selatan, yaitu dari Sukoharjo dan Wonogiri, harus melewati jalan dalam Kota Solo. "Itu menjadi beban tambahan bagi sistem jaringan transportasi dalam kota," katanya. Dari hasil survei 2015, pergerakan perjalanan di dalam Kota Solo mencapai 47.549 satuan mobil penumpang per jam sehingga tergolong padat. (rwn)

Sumber: Kompas | 21 Oktober 2015

Berikan komentar.